
Hari ini kelas masih sepi.Karan sengaja berangkat lebih awal, tujuannya sekarang adalah rooftop sekolah.
Sesampainya disana Karan langsung duduk.Membiarkan angin pagi menerpa wajahnya, memainkan rambutnya.Mata Karan menatap sendu ke depan.
Entah kenapa akhir akhir ini dia merasa senggat lelah.Lelah dengan semua hal.Karan memilih memejamkan mata dan bersandar pada tembok pembatas rooftop.
"Kalau mau tidur di rumah." Suara berat milik seseorang yang tak asing di telinga Karan.Tapi Karan memilih tetap memejamkan mata.
Suara langkah kaki itu semakin mendekat.
"Mau apa lo?" tanya Karan dengan mata tertutup.
Al terkekeh kecil. "Biasanya gue emang kesini, lo yang ngapain disini?"
"Gue kalau lagi badmood juga kesini."
Al ber oh ria sebagai jawaban.
Setelahnya suasana menjadi hening.Tidak ada yang berbicara lagi.Mereka berdua larut dengan pikiran masing-masing.
"Gak usah ngeliatin gue segitunya, gue tau gue cantik." Ujar Karan.Kemudian kembali memejamkan matanya
Al yang tertangkap basah tengah menatap Karan diam diam segera membuang muka. "Ck, geer lo."
Karan tersenyum sinis. "Dasar tukang gengsian."
Hening kembali.Hanya suara burung burung berkicauan dan suara deru nafas keduanya yang mendominasi.
"Gue kadang kesal sama semesta." Kata Karan membuka suara
Al menoleh,memilih diam dan mendengarkan ucapan apa yang akan keluar selanjutnya dari mulut Karan.
__ADS_1
"Dia ngerebut seseorang yang begitu berarti buat gue.Padahal semesta tau kalau gue belum siap untuk kehilangan dia.Gue masih butuh dia."
Al tetap mendengarkan Karan.Meskipun dia tidak mengerti dia yang dimaksud Karan itu siapa.
"Kalau gue bisa,gue pengen nyusulin dia."
"Dimana?" tanya Al
"Suatu tempat yang nggak semua orang bisa."
Al makin tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Karan.
Ringtone ponsel Al membuat Karan membuka mata dan menoleh kearah benda pipih yang berada di tangan Al.Nama Ralina terpapar jelas disana.
Al beranjak dari duduknya.Mengangkat panggilan tersebut dan kembali pergi meninggalkan Karan sendiri.Pada akhirnya, pemeran utama dalam hati Al tetap Ralina bukan Karan.
"Satu lagi ini yang bikin gue benci sama semesta.Gue selalu dibiarin kesepian sendiri." Gumamnya.
.........
Gadis itu berhenti pada sebuah makam dia duduk membiarkan seragamnya kotor terkena tanah.
"Papa." panggilnya dengan suara parau
Al sempat terkejut saat mendengar Karan menyebutkan kata Papa.
"Pa, Karan kangen sama Papa.Paps gimana kabarnya?"
Tak ada jawaban hanya isak tangis penuh kerinduan yang terdengar.
"Pa Karan pengin ketemu Papa,Karan pengin meluk Papa kayak anak anak yang lain."
__ADS_1
Al menajamkan pendengarannya.Al tau sosok dia dalam cerita Karan tadi adalah sosok Papanya.
"Pa maaf kadang Karan belum cukup kuat untuk ngadepin semuanya sendiri.Nyatanya anak perempuanmu ini butuh kamu Pa."
Al menelan ludahnya dengan susah payah.Gadis yang begitu dia benci.Gadis yang terlihat seenaknya sendiri ternyata adalah gadis yang selalu ingin mendapatkan kasih sayang seorang Papa.
"Papa Karan pengin kayak Aura sama Nana.Dia dipeluk sama Papanya di hari ulang tahunnya.Jalan jalan sama Papanya.Sedangkan Karan, cuma bisa peluk Papa lewat foto." Tangis Karan semakin pecah ketika mengingat betapa menyedihkan hidupnya.
"Pa.Karan kangen di peluk Papa,Karan kangen di nasehatin Papa,di semangatin sama Papa.Karan kangen semuanya sama Papa."
Karan mengusap air matanya. "Oh,iya.Pa lihat, sekarang Karan udah besar, bukan anak SD lagi.Dulu Karan nangis kalau misalnya nggak dibeliin boneka, nangis gara gara nggak ditemenin sama temen komplek.Sekarang beda Pa, Karan nangis gara gara cinta.Benar kata Papa dulu."
Al menunduk.Perasaan bersalah karena telah menyakiti Karan kembali menyerang.
Gerimis mulai berjatuhan ke bumi.Penduduk langit seolah ikut merasakan apa yang dirasakan Karan.
"Papa, kalau Karan diberi satu permintaan Karan pengin minta buat Papa balik."
"Papa, Karan kangen Papa."
Al sudah tidak tahan lagi untuk terus duduk disini.Entah, dia mendapat keberanian dari mana cowok itu berdiri menghampiri Karan.
"Ran."
Karan menoleh dengan mata yang sembab.Dia terkejut dengan kehadiran Al.Sebelum dia berdiri, cepat cepat Karan mengusap sisa air matanya.
"Al,ken-"
Ucapan Karan terpotong.Karena Al langsung membawa Karan dalam pelukannya.
"Anggap gue Papa lo,luapin segalanya.Gue siap dengerin semuanya."
__ADS_1
Tangis Karan kembali pecah di dalam pelukan Al. Gerimis ikut mengiringi tangis Karan di soreh ini.
"Maaf, gue nggak cukup kuat buat mendem sendiri." Kata Karan pelan.