Al Dan Karan

Al Dan Karan
81. Bintang


__ADS_3

Sudah seminggu lamanya Lelita belum juga membaik. Al anak semata wayangnya selalu setia menunggu Mamanya. Karan pun ikut menemani Al. Terkadang Mirna juga kesini kalau ia tidak sibuk dengan pekerjaannya. Al juga tak pernah merasa kesepian karena, selain ada Karan. Sahabatnya juga ikut menemaninya.


Al masih kesal dengan Papanya semenjak kejadian kemarin. Bisa bisanya ia tak kesini sama sekali untuk mengunjungi istrinya. Justru lebih memilih menghabiskan waktu bersama kekasih barunya.


“Al,” suara parau Lelita membuat cowok yang tengah terlelap disampingnya membuka mata lebar.


“Minum.”


Al bergegas mengambil air putih di atas nakas dan membantu Lelita meminumnya.


Lelita tersenyum hangat sambil mengusap rambut anak laki lakinya.


“Mama kadang masih nggak nyangka kalau kamu bisa tumbuh secepat ini.” Ujar Lelita


Al mengenggam tangan Mamanya dan mengusapnya.


“Mama, cepat sembuh ya.”


Lelita hanya bisa tersenyum menanggapi.


Terjadi keheningan yang begitu lama. Keduanya terlarut dalam pikiran masing-masing. Sebenarnya, ada banyak yang ingin Lelita sampaikan kepada Al. Namun, rasanya ia tak kuat untuk berbicara panjang lebar.


Al sangat terluka melihat Mamanya berbaring lemah di rumah sakit seperti ini. Seketika ia merindukan momen momen saat bersama Mamanya. Ia juga merasa bersalah, akhir akhir ini terlalu sibuk dengan kegiatan diluar rumah. Sehingga mengabaikan Mamanya.


“Papa pernah kesini?”


Al sontak terkejut dengan pertanyaan yang muncul begitu saja dari bibir Mamanya. Ia tak tahu harus mengatakan apa. Ia takut Mamanya semakin drop apabila mengetahui yang sebenarnya terjadi.


Lelita mengusap punggung tangan anaknya, “Mama tau kok.”


Al kembali terkejut oleh pernyataan Mamanya barusan. Bahkan, keterkejutanny berkali kali lipat dari sebelumnya.


“Dia brengsek Ma.” adu Al tak terima


Lelita mengusap pipi Al dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. “ Biarin aja, biarin dia ngelakuin hal sesuka dia. Mau bagaimana pun dia Papa kamu.”


Al membuang muka kesal. Ia kesal karena Mamanya seolah olah terima diperlakukan seperti itu.


“Ma, dia udah nyakitin Mama, Dia udah buat keluarga kita hancur, Dia ngeduain Mama. Dan sekarang Mama terima begitu saja diperlukan seperti itu?”


Lelita merengkuh Al didalam dekapannya.


“Nak, Mama jauh lebih ikhlas kalau Papa kamu harus pergi sama wanita barunya. Daripada kita harus berkeluarga, tetapi sudah tak ada cinta. "


“Lagipula tak seharusnya menyimpan dendam apalagi sama Papa sendiri. Tuhan tau yang mana yang terbaik untuk hambanya. Kita sebagai manusia nggak berhak memberi balasan atas perbuatannya. Hanya Tuhan yang berhak atas itu. Kita diciptakan menjadi manusia untuk saling memaafkan. Ya, nak.” Kata Lelita dengan suara yang sangat pelan.


Al benar benar dibuat kagum dengan hati lembut Mamanya.


“Permisi.”.


Al dan Lelita kompak melihat kearah Pintu. Seorang gadis yang masih mengenakan seragam sekolah dan membawa sebungkus buah buahan tersenyum kearah mereka.


“Ralina,” Sapa Lelita ramah.


Al membuang wajahnya malas. Ia memilih duduk disebuah sofa pojok ruangan.


Ralina dan Lelita berbincang bincang sedangkan Al memilih memainkan game di ponselnya. Sesekali, is menangkap basah Ralina yang mencuri curi pandang kearahnya.


“Ma, Al mau ke toilet dulu.” Pamit Al, diangguki oleh Lelita.


Sebenarnya bukan toilet tujuan utama Al. Melainkan taman rumah sakit. Setidaknya ia bisa melihat dan menghirup udara segar disana.


Dari dulu Al tak pernah menyukai bau rumah sakit. Namun, demi Mamanya ia harus membiasakan beradaptasi dengan bau rumah sakit.


Al kembali menuju ruang dimana Mamanya dirawat. Tak lupa dengan harapan bahwa Ralina sudah pergi dari sana. Sepertinya, harapan Al tal terealisasikan. terbukti bahwa Ralina masih di sana. Bedanya, ia sekarang duduk di kursi depan ruangan.

__ADS_1


“Mending lo pulang.” Kata Al dingin.


“Lo ngusir gue?”


“Menurut lo?”


Ralina berdiri dihadapan Al. “Salah ya kalau gue juga mau nunggu Tante Lelita.”


“Gak perlu, Mama disini nggak sendirian. Ada gue dan Karan.”


Dari kejauhan nampak Karan yang tengah berjalan menuju kemari dengan senyum riang kearah Al. Senyumnya langsung luntur ketika melihat Ralina menoleh ke arahnya.


Ralina yang merasa dipermalukan oleh Al segera pergi dengan emosi.


Matanya menatap penuh kebencian kearah Karan yang tengah berjalan menuju kearah Al. Dan dengan sengaja pula Ralina menabrakkan pundaknya ke pundak Karan.


Lelita sudah tertidur dari tadi hanya tersisa Karan dan Al yang masih terjaga.


Karan sedari tadi berkutat mengerjakan tugas tugasnya.


“Google mulu lo, kapan pinternya.” Ejek Al.


“Bacot mulu lo, kerjain sini kalau bisa.”


Tak perlu menunggu lama. Al menyelesaikan tugas tugas Karan dengan mudah tanpa merasa kesusahan sama sekali.


“Gue jamin bener 100%.”


Karan memukul kepala Al pelan dengan gulungan kertas. “Dih, liat aja nanti. Awas ya lo kalau banyak salahnya. “


Al tersenyum yakin.


“Kalau nanti ternyata jawaban lo banyak salahnya, sebagai hukumannya gue mau lo masuk sekolah .”


“Dan kalau gue bener, gue mau ngasih sesuatu buat lo.”


"Deal."


...…...


Karan berhenti berjalan ketika ponselnya berdering.


“Halo?”


“Gue tunggu didepan sekolah.” ucap seseorang disebarang sana.


Kemudian sambungan terputus oleh sebelah pihak.


“Siapa?” tanya Aura kepo


“Biasalah.Guys, gue duluan ya.”


“Oke, tiatiii.” Sahut Nana


“Lo nyium bau bau sesuatu gak?”


Nana menciumi bajunya, mencari bau apa yang dimaksud Aura.


“Bego, maksut gue bau bau akan ada sesuatu yang spesial antara Al dan Karan bukan bau lo anjir.”


Nana menoyor kepala Aura. “Makanya kalau ngomong yang detail dong, bego.”


“Lah, otak lo aja yang sempit noh.”


“Ribut mulu, udah ayo pulang.” Reonal dari arah belakang mendorong pelan pundak Aura untuk mengajaknya pulang bersama.

__ADS_1


Aura nurut saja, kebetulan ia juga sedang tidak membawa mobil.


“ANJIR YA, SELALU AJA GUE DITINGGAL SENDIRI.” Teriak Nana dari belakang.


Aura tertawa puas dan menjulurkan lidah mengejek kearah Nana. Sebelum akhirnya ia dan Reonal hilang di pertigaan koridor.


“Gimana hasilnya?”


Karan langsung mencubit lengan Al. “Baru aja gue masuk udah ditanyain itu.”


Al terkekeh tak berdosa. Kemudian menyalakan mobilnya.


“Gila ya lo, nggak sekolah tapi malah jemput gue. Untung gak ada yang tahu.”


“Kalau ada yang tahu juga gapapa.” Jawabnya santai.


Karan hanya geleng geleng kepala mendengarnya.


Mereka berdua tak langsung pulang. Al mengajak Karan untuk makan terlebih dahulu.


“Oh, ya lo mau tau hasilnya gak?”


Al mengangguk mantap


Karan memberikan buku tugasnya kepada Al. Saat melihat nilai Karan yang sempurna. Senyum Al mengembang lebar.


“See?”


“Iye dah iye yang paling pinter.”


Al mengacak acak rambut Karan, sembari tertawa melihat Karan yang kesal.


“Emang lo mau ngasih gue apa sih?” tanya Karan.


Ia mengernyit heran, saat Al justru membawanya ke rumahnya.


Karan menunggu Al diruang keluarga. Sedangkan Al, mengambil sesuatu di kamarnya. Al turun dengan sekotak kecil ditangannya.


“Ini apa?” tanya Karan, saat Al menyodorkan kotak tersebut kearahnya.


“Buka aja."


Karan langsung membuka kotak tersebut dan mengambil isinya. Senyum Karan terbit di bibirnya saat ia melihat jepit rambut kesayangannya dulu sewaktu kecil yang hilang dan kalung berbandul bintang.


“Ini kan jepit rambut punya gue dulu. Gue inget betul ini jepit rambut yang bokap gue kasih sebelum ia pergi ninggalin gue."


“Lo nemuin ini dimana, gue nyari nyari gak ketemu.”


“Laci nyokap gue. Dia nemuin ini dulu di makam bokap lo, sebelum kita pindah. Nyokap gue tau, betapa berharganya jepit rambut ini buat lo. Makanya dia nyimpen ini, niatnya mau ngasih ini ke lo. Tapi, tiap lo kesini dia lupa.”


“Terus kalung ini?”


“Dari gue khusus buat lo. Ada ukiran nama lo dibintang itu."


Karan memperhatikan dengan seksama, betul saja namanya terukir indah disana.


"Dalam rangka apa lo ngasih ini ke gue?" tanya Karan penasaran.


“Gaada, gue Cuma pengin ngasih ini buat lo. Tiap kali gue lihat bintang. Gue selalu ingat lo.”


“Kok bisa?”


"Lo tuh kaya bintang. Bintang bisa bersinar sendiri diatas sana, bahkan Selalu bersinar cerah, ngasih cahaya buat orang orang.Begitu juga dengan lo.”


Al mengambil kalung tersebut dari kotak dan memakaikannya ke leher Karan.

__ADS_1


“Cantik.” Gumam Al dengan sadar.


Karan dibuat salah tingkah dengan perlakuan Al. Al selalu punya cara untuk membuatnya terkesima. Karan menundukkan kepalanya berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya.


__ADS_2