Al Dan Karan

Al Dan Karan
60. Salah faham


__ADS_3

"Anjir, ini kenapa sih?" gerutu Karan saat mobilnya tiba tiba berhenti.


Karan turun dari mobilnya dan melihat ban depan mobilnya bocor. Apesnya lagi mobil Karan kempes dijalanan yang sepi, ditambah tak ada satupun tambal ban disini.


"Buset, mobil kenapa bocornya sekarang sih." Karan mengecek jam yang ada di pergelangan tangannya.


Kurang 22 menit lagi bel sekolahnya berbunyi. Sedangkan sekolah Karan masih sanggat jauh dari sini.


Karan mengambil ponselnya dan mencari kontak Pak Iyus, sopir pribadi rumahnya.


Tak butuh waktu lama. Pak Iyus segera mengangkat telfon dari Karan.


"Halo, ada apa mbak Karan?


"Pak, mobil Karan bocor di jalan melati. Pak Iyus lagi dimana?"


"Maaf mbak. Pak Iyus lagi nganterin nyonya ini."


"Ooh, Bapak lagi nganterin mama. Gapapa pak. Tapi, tolong nanti mobil saya di ambil ya pak."


"Siap mbak, satu jam lagi Pak Iyus kesana."


Karan mengangguk. "Terima kasih pak."


Karan mematikan sambungan telepon.


"Duh, masih sejam lagi Pak Iyus kesini. Mana sempat ih."


Karan menjentikkan jarinya. Kembali membuka ponselnya. Berusaha untuk menelepon Dean. Namun tak aktif, menelpon sahabatnya juga tidak mendapatkan jawaban.


"Duh, gimana ni." resah Karan.


Dari kejauhan Karan melihat mobil hitam yang tak asing lagi baginya. Setelah berdebat singkat dengan hatinya, Karan langsung berlari ke tengah jalanan yang sepi, mencegat mobil tersebut.


Sang pemilik mobil itu langsung ngerem mendadak.Karan berjalan ke samping mobil tersebut dan mengetuk kaca mobil punya Al. Sehingga membuat sang pemilik menurunkan sedikit kaca yang diketuk Karan. Ada raut kesal tercetak jelas di wajah Al.


"Pliss, gue butuh bantuan lo. Ini yang terakhir, lo lihat ban gue bocor dan gue harus ke sekolah."


"Urusannya sama gue apa?"


Karan berdecak kesal. "Heh kulkas dua pintu, gue kasih tau nih ye. Nolongin sesama itu bisa dapet pahala."


Al mendegus dan menutup kaca, tak menghiraukan ocehan Karan. Al kembali melajukan mobil meninggalkan Karan yang ngomel ngomel sendiri.


"Buset, pengin gua cincang rasanya tuh orang. Udah ngeselin, irit ngomong, sekalinya ngomong nge-jleb, dingin. Kok bisa bisanya gue suka sama jenis manusia kayak gitu."


Al dilema antara mengiyakan permintaan Karan atau menolaknya. Kalau Al mengiyakan, ia takut nanti Ralina dam yang lain salah faham. Tetapi, kalau Al menolaknya, dia tidak tega meninggalkan Karan sendiri.


Al tak sengaja melirik spion mobilnya. Disana terlihat Karan nampak kesal, sehingga ia menghentakan kakinya ke tanah. Lucu bagi Al ketika Karan tengah kesal seperti itu.


"Awas aja lo. Gue cekik leher lo Al." Karan mengacak acak rambutnya frustasi. "Ih, ni mobil juga.Lo ngapain sih pake bocor segala."


Sebenarnya Karan bisa saja bolos hari ini.Tapi, keadaan nggak memungkinkan untuk bolos. Ada tiga mata pelajaran dari guru killer yang diharuskan ulangan hari ini. Kalau Karan tidak mengikuti ulangan, ia bisa tak mendapatkan nilai atau bahkan mendapatkan hukuman.


Karan hampir menyerah dibuatnya. Ia hanya bisa pasrah kalau nantinya ia mendapatkan hukuman atau tidak mendapatkan nilai.


Ketika Karan hendak membuka pintu mobil untuk menunggu Pak Iyus. Klakson mobil berbunyi tepat di sampingnya.


Karan terlonjak kaget. "Lo apaan sih?"


Al menurunkan sedikit kaca mobilnya. "Naik atau gue tinggal."


Tak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Karan segera naik kedalam mobil Al. Sebelumnya ia mengunci terlebih dahulu mobilnya.

__ADS_1


"Lo ngapain duduk di belakang? Lo kira gue supir lo."


"Nanti cewek lo cemburu."


"Pindah!" perintah Al.


Karan mencebikan bibirnya dan berpindah duduk di depan, di samping Al.


Mobil Al melaju dengan kecepatan tinggi. Membelah jalanan yang cukup sepi hari ini.


"Woi, lo mau bikin gue mati?"


"Daripada kita telat."


Karan hanya diam, tangannya memegang erat seat belt yang melekat di tubuhnya.Matanya terpejam, bibirnya berkomat kamit membaca doa.


Bibir Al sedikit terangkat, ketika melihat tingkah Karan yang cukup mengemaskan baginya.


...…...


"Ini ngapa si Karan nelfon gue?" tanya Nana


Aura mengerenyitkan dahi.Ia ikut mengecek ponselnya.Benar saja ada berberapa panggilan dari Karan.


"OH MY GOD!" pekik Nana


Aura mengalihkan pandangannya dari ponsel ke arah Nana.


"Lo kenapa si?" heran Aura


Nana menutupi mulutnya dengan tangan kiri. Tangan kanannya ia gunakan untuk menunjuk Karan yang baru keluar dari mobil bersama Al.


Tak jauh dari tempat itu juga ada Dean bersama teman temannya.Menatap merekam tak suka.Ralat, bukan mereka hanya Al.


"Dih, gatel banget ya dia." sindir seorang siswi ketika Karan melewatinya.


"Kasian gue sama Ralina."


"Kurang apasih Dean."


Sebenarnya Karan ingin sekali membalas nyinyiran mereka.Tetapi, tak ada gunanya juga.Toh meskipun Karan mengatakan yang sebenarnya, bagi mereka Karan tetaplah salah.


"Ran ran," kedua sahabatnya langsung mengintrogasi Karan.


Karan menghela nafas panjang.Baru saja dia hendak mendaratkan pantat ke kursinya. Kedua sahabatnya yang kepo sudah berada di depan dan di samping Karan.


"Kenapa?"


"Itu tadi beneran lo yang bareng sama Al?" tanya Aura memastikan


"Iyalah, siapa lagi." Jawab Karan seadanya. "Gue heran deh, kenapa sih pada ribet banget ngurusin hidup orang. Lagian gue cuma bareng sama Al, bukan mau ngerebut dia dari Ralina." Karan sengaja meninggikan suara agar para cewek yang tengah membicarakannya mendengar.


Nana yang berada disamping Karan mengelus pundak sahabatnya. "Udah ran ih."


"Sengaja, biar pada denger." Karan berbisik kepada Nana.


"Terus kenapa lo bisa bareng sama Al?" tanya Aura.


"Ban mobil gue bocor. Gue udah nelepon Dean dan lo berdua. Tapi, nggak ada yang ngangkat."


Aura tersenyum memperlihatkan giginya. "Ya gue kira lo ketek Anoa. Makanya nggak gue ladenin."


"Ketek Anoa saha?" tanya Nana

__ADS_1


"Tuh si Reonal."


Nana menunjuk Aura dengan telunjuknya dan tersenyum penuh arti.


"Kenapa lo?"


"Ups, jadi selama ini lo sering dong dihubungin Reonal."


Aura mendelik, tak menjawab pernyataan Nana.


"Heh lo sendiri kenapa nggak bales telepon gue?"


Nana nyengir dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ponsel gue, gue matiin. Baru aja gue hidupin tadi."


"Kebiasaan lo."


"Btw, Dean tau nggak sih lo bareng Al tadi?"


Karan mengangkat bahunya. Entah nanti Dean bakal bereaksi seperti apa ketika tahu hal ini.Intinya, ada Satu yang harus Karan lakukan nanti, menjelaskan kepada Dean agar tak salah paham.


Setelah selesai mengerjakan soal ulangan yang cukup menyiksa akhirnya Karan bisa bernafas lega.


Dean: rooftop ada yang mau aku omongin.


"Guys, gue duluan ya."


"Kemana lo?"


"Biasa nih si Dean."


Aura dan Nana mengiyakan. Mereka bertiga berpisah di lorong, Karan berjalan terus sedangkan keduanya berbelok.


"Hai." sapa Karan ketika sampai


Dean mengangguk. Tak ada senyuman sama sekali disana. Karan sudah menebak apa yang akan Dean bicarakan.


"Kamu kenapa bareng sama Al?"


"Ban mobil aku bocor tadi. Terus aku ketemu dia, aku bareng sama dia sampai sekolah."


"Seneng ya bisa bareng sama Al?"


Karan mengerenyit. "Kamu apaan sih. Aku tadi udah nelfon kamu, nggak kamu angkat. Ya, aku bareng sama dia."


Dean langsung mengecek ponselnya. Memperlihatkan riwayat panggilan kepada Karan.


"See? kamu bohong?"


Tak banyak bicara Karan juga ikut menunjukkan ponselnya. Disitu masih jelas sekali ada riwayat panggilan mulai dari Pak Iyus sampai kedua sahabatnya.


Dean dibuat terkejut dengan hal itu.


"Di aku kok nggak ada?"


"Ya aku mana tahu. Emang tadi ponsel kamu dibawa siapa?"


Dean nampak berpikir sebentar mengenai kejadian tadi pagi. "Ponsel aku dibawa si Kenzo tadi. Wah parah tu bocah."


Sejujurnya Karan tak percaya kalau Kenzo yang membawa ponsel Dean. Tetapi, karena tak mau memperpanjang situasi akhirnya Karan mengiyakannya saja.


"Oh iya satu lagi. Aku nggak suka kamu dekat sama Al. Dalam bentuk apapun."


"Iya tenang aja."

__ADS_1


__ADS_2