
Ralina menyiram air dari belakang, membuat Karan yang tengah mencuci wajahnya di wastafel terkejut. Alhasil seragam yang ia kenakan menjadi basah.
Refleks Karan langsung membalikkan badannya. Menatap Ralina benci.
"Kenapa, nggak suka?" tanta Ralina menantang.
"Ya menurut lo? mau lo apasih, nyari masalah mulu."
Ralina melempar ember yang ia gunakan untuk menyiram Karan. Sehingga menimbulkan bunyi nyaring. Bagi Ralina, ini adalah kesempatan emas untuk memberi Karan pelajaran.Berhubung kondisi toilet sepi.
Tanpa basa basi. Ralina menjambak rambut Karan. Karan merintih kesaktian.
"Gue udah pernah bilang kan sama lo. Jauhin Al."
Ralina melepaskan tangannya dari rambut Karan secara kasar. Sedangkan Karan menatap Ralina nyalang.
"Kenapa sih lo selalu nyuruh gue jauhin Al. Harusnya lo yang harus jauh jauh dari Al. Lo cuma manfaatin dia doang."
Ralina melipat kedua tangannya di depan dada. "Bukan urusan lo."
"Itu sekarang jadi urusan gue."
"Bego ya, udah di sia siain. Masih aja sok sokan jadi pahlawan kesiangan buat Al." Ralina keluar dari toilet meninggalkan Karan yang masih dipenuhi amarah.
Tak mungkin, dirinya masuk kelas dengan kondisi baju seperti ini. Sehingga, Karan memutuskan untuk bolos. Tempat paling nyaman yang bisa Karan gunakan untuk bolos adalah rooftop.
...…...
Nana bersiap kabur ketika melihat seseorang yang paling ia benci tiba tiba muncul. Setelah sekian lama tak bertemu
"Na, tunggu! " teriak Lili. Sahabat Nana dulu
Nana mempercepat langkahnya. Tak ingin bertemu dengan mantan sahabatnya tersebut.
Lili berhasil mencegat Nana. Pandangan mata Lili menganggambarkan kesedihan dan kerinduan. Lain halnya dengan Nana. Tak ada kerinduan sama sekali yang tersirat dari matanya. Hanya ada kebencian disana.
"Lo mau apa? lo mau ngerusak hidup gue lagi? nggak cukup hidup gue dulu lo bikin rusak, hah?"
Lili menundukkan kepalanya saat Nana mencacinya di tempat umum. Kini mereka menjadi pusat perhatian para pengunjung mall.
Sadar dirinya dijadikan pusat perhatian. Nana pergi keluar dari mall. Lili tetap mengikuti Nana dari belakang, sambil meneriakkan nama Nana.
"Na dengerin gue! " teriak Lili ketika mereka sampai di basement mall yang kebetulan sepi malam ini.
"Na, gue tahu lo benci gue. Tapi, Lo jangan benci Regan juga!"
__ADS_1
Nana yang semula mempercepat langkahnya. Kini mulai sedikit memelankan langkah kakinya begitu nama Regan disebut.
"Dia nggak salah atas semua ini. Gue yang salah."
Seketika langkah Nana terhenti begitu saja. Nana membalikkan tubuhnya, menatap Lili yang tak jauh darinya.
"Dibayar berapa lo sama Regan, buat lo ngomong gini?" sinis Nana
Lili mendekat dan memeluk Nana. Nana ingin melepaskan pelukannya. Akan tetapi, hatinya berkata lain. Sehingga Nana membiarkan Lili memeluknya, tanpa nana balas pelukan tersebut.
"Na, pasti lo bakalan benci banget sama gue setelah gue ceritain semuanya, dan gue juga enggak dibayar Regan buat ngebuka ini semua. Gue cuma ngerasa bersalah sama lo berdua. Gara gara gue, lo sama Regan jadi salah faham begini."
Nana diam, tak berekspresi sama sekali.
"Regan nggak salah dalam kejadian dulu, gue yang ngejebak dia."
Nana langsung menegakan tubuhnya. Terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar
"Maksut lo?" tanya Nana sambil memicingkan mata
"Ada yang harus lo tahu. Bayi yang dikandungan gue saat itu, itu bukan bayi Regan. Tapi, bayi dari Gama, temen kelas lo. Gama nggak mau tanggung jawab atas itu dan lo tahu kan siapa Gama, orang tuanya donatur besar di sekolah kita dulu. Sekalipun, gue speak up akan hal ini ke guru BK yang ada gue yang dikeluarin, nama gue tercoreng dan Gama tetap bersih dengan namanya. "
Gue berdebat hebat sama Gama di kelas saat semua murid udah pulang dan saat Gama hendak memukul gue. Regan datang ngebantu gue. Mereka sempat bertengkar sebentar. Dan disitu semuanya bermula."
Lili menatap mata Nana yang dipenuhi tanda tanya akan cerita selanjutnya.
Nana dibuat terkejut dengan cerita yang Lili ucapkan. Sahabat bahkan seperti saudaranya sendiri tega melakukan hal itu.
"Gue nggak nyangka lo sejahat itu Li."
"Sorry Na." lirih Lili
"Terus yang gue lihat waktu kalian berdua di kamar lo? apa itu bagian dari drama lo?"
Lili mengangguk. "Gue sengaja nyuruh lo ke rumah gue. Biar seakan akan Regan ngekhiantain lo dan lo segera putusin dia."
"Puas kan lo, saat itu juga gue mutusin Regan di depan mata lo."
"Dulu gue puas banget saat itu. Gue berpikir dengan Regan putus dari lo. Dia bisa buka hatinya buat gue, ternyata gue salah. Regan benar benar sayang sama lo."
"Lo tega banget Li. Apa jangan jangan lo juga kan yang nyebarin berita nggak bener ke murid murid yang lain. Sehingga gue dibully habis habisan, belum lagi berita tentang bokap gue."
Lili diam menundukkan kepalanya dalam dalam. Ia merasa bersalah akan perbuatan bodohnya itu. Andai waktu bisa diputar, Lili ingin mengulangnya.
"Kenapa lo lakuin itu?" suara Nana pelan tapi menusuk.
__ADS_1
"Karena dulu gue iri sama lo Na. Diantara kita berdua, lo yang selalu dipandang. Sedangkan gue seolah pemeran pengganti lo. Semua orang selalu Nana, Nana dan Nana. Enggak pernah Lili yang di utamakan, Lili cuma sebagai peran pengganti doang. Gue suka Regan duluan. Tapi akhirnya, Regan lebih tertarik sama lo yang cuma diem aja daripada gue yang udah berusaha buat deket sama dia."
Lili menangis sambil bercerita begitupula Nana yang mendengarkan.
"Hidup lo tuh sempurna. Dari segi ekonomi, keluarga, dan percintaan, pendidikan. Sedangkan gue kebalikan dari lo. Ada perasaan menang saat lihat lo dibully satu sekolah. Disitu gue baru ngerasain di agung agungkan seperti halnya lo dulu. Sorry na, gue gagal jadi sahabat lo."
"Lo emang gagal banget jadi sahabat gue." ujar Nana.
Lili mengembail tangan Nana dan menggengamnya. "Maafin gue Na. Gue nyesel banget."
"Kenapa lo baru nyesel sekarang? saat keadaan udah nggak bisa diperbaiki lagi." Nana melepaskan genggaman tangan tersebut.
"Na, maafin gue. Setidaknya kalaupun lo nggak maafin gue, tapi maafin Regan."
Nana terdiam tak menjawab ucapan Lili.
"Diam diam, Regan selalu ngelindungin lo saat lo dibully. Salah satunya saat lo dibully geng Aksa. Pulang sekolah, Regan dan Aksa berkelahi, Regan nggak terima lo dibully kayak gitu. Alhasil Regan dan Aksa di skors karena hal itu."
Nana cukup terkejut dengan cerita Lili. Ia kira Regan tak peduli ketika dirinya di bully. Namun dia malah berbuat sedemikian rupa untuk Nana.
"Dia selalu ngelindungin lo diam diam. Kayak waktu itu saat bangku lo dicoret coret, Regan yang kebetulan datang lebih pagi. Akhirnya turun tangan. Susah payah dia bawa meja lo ke gudang dan mengantinya dengan meja baru. Itu semua demi lo, agar lo nggak sedih ngelihat coret coretan itu."
"Lo juga harus tahu. Selama lo pindah, Regan enggak baik baik saja. Bahkan, dia rela pindah ke Jakarta demi buat nyari lo. Gue ke Jakarta juga ingin ketemu lo, buat nyeritain semuanya. Syukur, semesta mempertemukan kita disini."
Nana merasa menjadi orang jahat disini. Ia sudah menyepelekan Regan, menganggap bahwa Regan adalah dalang dibalik semua ini.
"Untuk urusan lo maafin gue atau enggak itu terserah lo. Gue minta satu aja, maafin Regan ya. Gue balik dulu ya Na." Lili memeluk Nana sebentar kemudian menjauh meninggalkan Nana.
Setelah kepergian Lili. Baru tubuh Nana lemas . Dia seolah ditipu oleh orang orang, semuanya memainkan perannya dengan sanggat baik. Orang yang Nana anggap baik justru lebih jahat daripada seorang musuh.
Setelah menenangkan diri. Akhirnya Nana memberhentikan mobilnya di depan sebuah rumah. Nana tak ingin mengulur waktu. Malam ini semuanya harus sudah selesai.
"Permisi.."
Tak ada sahutan dari dalam
"Halo.. Regan.."
Hening, seolah tak ada orang si dalam.
Nana tidak berhenti begitu saja, cewek itu terus mencoba mengetuk pintu rumah Regan berkali kali.
"Na, " panggil seseorang yang ia cari. Alih alih didalam rumah, justru Dean berada di belakang Nana.
Guys maaf banget ya telat upnya
__ADS_1
boleh dong kalau ada saran atau kritik tulis di comment yaa