
" Kak Karannn!"
Karan menoleh kebelakang ia terkejut ketika seorang anak laki laki berlari ke arahnya.
"Oh, hai."
"Kakak inget aku nggak?"
"Umm.. Gavin bukan?" ingat Karan
"Yee..Kak Karan inget aku."
Karan tersenyum mengacak acak rambut Gavin.
"Kamu kok sendirian, enggak sama Al?"
"Aku tadi main didepan rumah Kak Al, terus lihat Kak Karan."
Karan terkekeh, mencubit pipi Gavin dengan gemas. Anak laki laki di depannya ini sungguh menggemaskan, ditambah ketika ia tengah berbicara.
"Vin..kak Karan punya ide nih. Gimana kalaupun kita ke taman komplek terus beli eskrim?"
"Bolehhh ayoo!" Gavin menyambut dengan antusias ide Karan.
Karan dan Gavin saling bertukar cerita. Mereka bercanda tawa seolah sudah mengenal lama. Padahal, mereka hanya pernah bertemu sekali.Itupun dalam waktu yang singkat.
Al menyipitkan matanya melihat sepupunya yang ia cari dari tadi tengah bersama Karan. Al hanya memperhatikan mereka dari jauh, tanpa berniat mendekat. Karena Al tak ingin merusak suasana yang seru yang mereka buat.Sehingga ia membiarkan Gavin bersama Karan sepuasnya.
"Cantik," gumam Al tanda sadar.
Sedetik kemudian Al langsung sadar akan ucapannya. Cowok dingin tersebut memilih membuang muka, untuk tak melihat Karan.
"Kak Al!" teriak Gavin
Al menghela nafas panjang, sebelum menoleh ke arah Gavin dan Karan. Keberadaannya kini diketahui oleh Gavin.
"Siniii!"
"Kenapa?" tanya Al datar, setelah sampai dihadapan Gavin
"Duduk sini!"
Al langsung duduk di samping Gavin sesuai apa yang sepupunya mau.
"Kak Al, kenalin ini kakak cantik yang pernah aku ceritain itu yang ngasih aku eskrim."
Al dan Karan sempat bertatapan sebentar sebelum akhirnya sama sama membuang muka satu sama lain.
Karan sempat malu saat mendengar pernyataan dari Gavin barusan. Dibenaknya ada tanda tanya besar bagaimana Gavin menceritakan dirinya serta respon apa yang Al berikan.
"Udah kenal." jawab Al cuek
__ADS_1
Gavin hanya ber-oh ria sebagai respon.Kemudian menjilati eskrim coklatnya lagi.
"Terus kenapa kalian nggak pacaran aja?"
"Uhukk.." Karan tersedak eskrimnya, begitu mendengar pernyataan yang tanpa beban keluar dari mulut Gavin. Sedangkan Al mengusap tengkuknya yang tidak gatal.
"Kenapa?" tanya Gavin
"Kenal bukan berarti pacaran ya, sayang. Kakak sama Kak Al cuma temen."
Kali ini Al merasa sedikit tak senang dengan kata teman diantara dirinya dengan Karan. Meskipun memang itu kenyataannya.
Sekuat apapun Al mengelak tentang perasaanya kepada Karan. Sewaktu waktu perasaan itu tetap semakin tumbuh, dengan sendirinya. Meskipun sudah berusaha untuk di matikan.
Malam ini langit nampak cerah, bulan bertengger di atas dengan cahayanya. Bintang bintang saling bercengkrama, menemani bulan.
Karan menikmati susu coklat dengan menatap keindahan yang tak ada bandingannya. Rasanya begitu menenangkan mata. Angin malam membelai rambutnya denga halus. Karan tak tahu pasti sejak kapan, tiap malam ia duduk berdiam menikmati malam.
Benda pipih yang Karan letakkan di meja sampingnya menyala. Ada nomor tak dikenal mengiriminya pesan.
082658644852: Besok, jam 12 ke lokasi ini, sendirian.
082658644852: Kalau lo nggak datang atau datang bersama orang lain, siap siap lo bakalan kehilangan seseorang yang lo sayang.
^^^Karan^^^
^^^lo siapa?^^^
Karan meneguk ludahnya, Karan tak tahu siapa yang mengirimnya pesan seperti ini, tapi sepertinya ancaman yang diberikan bukan main main.
"Gue diem diem bawa orang aja nggak sih," pikir Karan sejenak "Ah, enggak. Ini masalah gue, jadi gue yang harus nyelesain. Gue nggak mau ngeliatin orang lain."
Mood Karan seketika langsung turun drastis. Baru saja ia merasakan tenang, setelah pesan itu datang, sudah tak ada lagi tenang dihati dan benaknya.
"Sial, gue cuma pengin hidup tenang tuhan."
...••••...
"Anjir, 10 menit lagi bel nih." ucap Karan sembari menuruni anak tangga rumahnya dan berjalan santai menuju meja makan.
"Udah tau waktu tinggal 10 menit. Lo masih mau sarapan?"
"HUAAAA SETANN!" teriak Karan terkejut. Bagaimana tidak, Al datang dari arah belakang dan berbisik tepat ditelinga Karan.
"Ayo berangkat."
"Hah?"
"Ho, Ha, Ho, Ha. Ayo buruan berangkat, nggak keburu kalau lo masih sarapan segala macem. Lo nggak mau dihukum lagi kan?"
Karan menggelang pelan dengan terpaksa ia berjalan keluar rumahnya.
__ADS_1
"Woi, ini lo ngajak gue bareng kan? gue nggak mau ge-er duluan nih."
"Menurut lo?"
"Minirit li," ejek Karan "Tinggal jawab antara iya sama enggak aja repot banget." lanjutnya.
Sepanjang perjalanan, mereka berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing. Begitupula Karan, Ia tak paham apa maksud Al yang datang kerumahnya, serta mengajaknya berangkat bersama.
"Mama gue nggak nyuruh lo ngelakuin ini semua kan?" tanya Karan disela sela keheningan.
"Nggak."
"Terus lo kesambet apa ngelakuin ini semua?"
Al diam tak menjawab pertanyaan Karan.
"Lo suka sama gue?"
Sontak Al langsung mengerem mobilnya dadakan. Menoleh kearah Karan dengan pandangan yang tak bisa dijelaskan.
"ANJIR LO, KALAU MAU NGEREM BILANG KEK." omel Karan.
Al tak merespon omelan Karan. Justru ia menatap Karan dalam dalam.
"Ngapain lo liatin gue, buru anjir. Bentar lagi bel."
Al tersadar dan kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sedari tadi hati Al terus berdebar, tak tahu pasti sejak kapan perasaan seperti ini perlahan mulai tumbuh semakin besar.
'Anjir, karma dah' batin Al
...•••...
"Oh my god, perasaan baru kemarin Al putus dari lo. Karan juga baru putus dari Dean, sekarang..." cerca Hera
Ralina sontak melihat kearah yang dilihat Hera. Benar saja, Al berangkat sekolah bersama Karan lagi dan lagi.
"Cih, dimana mana gue lebih unggul daripada Karan."
"Tapi nyatanya lo selalu gagal dari Karan dan lo nggak seberharga Karan." tajam Hera.
Plakk
Tamparan mendarat mulus di pipi Hera. Hera tersenyum sinis sambil memegang pipinya yang terasa panas.
"Kenapa? bener kan apa yang gue omongin?"
"Rese lo."
Hera tersenyum penuh kemenangan saat melihat Ralina pergi dengan amarah yang memuncak meninggalkan dirinya.
"Tunggu tanggal main selanjutnya Ralina."
__ADS_1
stay tune ya otw kebut cerita nii wkwk