Al Dan Karan

Al Dan Karan
78. Panti asuhan


__ADS_3

Karan dan Al menginjakan kaki di sebuah panti asuhan. Untuk pertama kalinya Al kesini.


Dari sudut pandang Karan. Banyak yang berubah dari panti ini, daripada yang ia temui beberapa tahun lalu. Bangunannya lebih bagus, banyak tanaman dimana mana. Anak anak berlarian serta bermain main di taman depan. Hiruk pikuk seperti inilah yang Karan sukai. Melihat anak anak dengan tawa di bibirnya, sudah cukup membuat ia turut bahagia.


"KAK KARAN!" segerombolan anak dari rumah berhamburan keluar, menyambut kedatangan Karan.


"Kakak kemana aja?"


"Kak Karan makin cantik."


"Kakak aku udah SMP sekarang."


"Kak Karan aku kangen Kakak."


Seruan kerinduan bersahut sahutan. Karan tersenyum haru. Begitupun Al, cowok itu ikut tersenyum. Tak bisa dipungkiri oleh Al, Karan memang gadis yang memiliki sejuta bahagia yang siap disalurkan. Meskipun kadang ia mengacuhkan laranya.


"Maaf ya, Kak Karan udah lama nggak kesini." sesal Karan dengan nada lembut kepada anak anak panti


"Karan."


Begitu namanya dipanggil Karan langsung menyambar kedalam pelukan wanita paruh baya yang menghampiri mereka. Mereka berpelukan cukup lama, saling mencurahkan rasa rindu masing masing..


Kini mereka bertiga ada di ruang tamu Panti.


Sedari tadi mereka berbicara panjang lebar. Menceritakan berbagai hal.


"Ah iya, terus Al ini siapanya Karan?" tanya Bu Ira, selaku pengurus panti asuhan.


"Tem-"


"Semoga, jadi pacar." potong Al disertai senyuman sopan. Bu Ira menutup mulutnya dan tertawa.


Karan refleks melotot, tangan kanannya mencubit lengan Al pelan.


"Ih enggak Bu-"


"Kalau iya juga gapapa, Al baik anaknya. Nanti Karannya dijaga ya."

__ADS_1


Al mengangguk mantap, sekali lagi ia tersenyum. Senyuman yang menyebalkan dimata Karan. Seolah mengejek kalau dirinya memang daripada Karan.


Karan memilih bermain bersama para anak anak panti seperti dulu. Sedangkan, Al masih berbincang bincang dengan Bu Ira. Bahkan mereka berdua kini terlihat begitu akrab satu sama lain.


"Karan sering kesini ya bu?"


"Iya dulu, tiap pulang sekolah, senggang dia kesini. Cuma akhir akhir ini aja dia nggak pernah kesini lagi."


Al mengangguk mendengarkan penjelasan Bu Ira.


"Dulu, alm. Papa Karan sering kesini, nyumbangin sesuatu buat panti. Karan kecil juga sering main kesini. Makanya, dia deket banget sama Tante."


"Dulu Karan itu gadis ceria sebelum Papanya pergi. Setelah Papanya pergi dia berubah banget jadi bandel. Kalau disekolah juga keluar, masuk BK. Dan akhirnya pelan pelan dia mulai balik ke diri dia yang semula."


Al tak tahu alasan mengapa Karan selalu berulah ketika di sekolah dulu. Seperti, telat, ngelabrak, berantem, dan lain lain. Disaat itu, Al hanya bisa meng-judge Karan dengan kacamatanya saja. Tanpa tahu, alur yang sebenarnya terjadi. Tanpa tahu, sedalam apa luka yang tengah ia sembunyikan.


.


"Tante seneng banget dia sekarang udah bener bener jadi Karan yang Tante kenal dulu. Bahkan, sekarang dia udah bisa menerima kepergian Papanya."


Al meresapi cerita Bu Ira. Mata tajam Al menatap Karan dari dalam. Cewek itu bermain riang dengan para anak. Membahagiakan ketika melihat Karan juga tertawa bahagia disana.


Al mengangguk mengerti. Sejauh ini ia tulus menyayangi Karan. Bukan karena ia merasa bersalah, atau apa. Tapi perasaan ini benar benar tulus. Sosok Karan banyak mengubah hidupnya. Mewarnai hidup Al.


Setelah berbincang bincang dengan Bu Ira. Al pamit untuk ikut bermain juga dengan anak anak. Al memperhatikan susana sekeliling panti yang ramai oleh anak anak. Tetapi, Ada satu anak yang mencuri perhatian Al.


Al segera menghampiri anak laki laki berbadan sedang, tengah duduk sendiri di bawah pohon mangga sambil membaca cerita.


Kehadiran Al tak membuat anak itu berkutik sama sekali. Ia masih fokus dengan bukunya.


"Seru ya?"


Ia menatap Al datar dan kembali membaca buku tersebut.


"Lebih suka Si El apa Al?" Al berusaha mencari topik berkaitan dengan buku tersebut. Berhubung ia juga pernah membaca buku yang dibawa anak laki laki itu.


anak itu kembali menatap Al. Kali ini tatapannya tak sedingin tadi. "Kamu tahu ini?"

__ADS_1


Al mengangguk.


"Nama?"


"Call me Al. You?"


"En."


"Kenapa kamu nggak memilih bermain bersama yang lain, daripada membaca sendiri seperti ini?"


En memperhatikan suasana sekitar dengan tatapan datarnya.


"Aku merasa begitu hidup ketika aku bersama buku dan itu menyenangkan." jawabannya.


Al mengangguk. Ia seperti bercermin ketika melihat En. Sifat En sama seperti dirinya.


Hari sudah begitu larut Karan dan Al memutuskan untuk pulang. Mereka baru akan menaiki mobil, tiba tiba En datang menghampiri Al.


"Datang lagi dan ceritakan kepadaku apa yang kamu tahu tentang buku tadi." pinta En kepada Al.


Al terkekeh, mengusap rambut En gemas. "Siap bro."


En mengangguk dan kemudian pergi meninggalkan Al.


Sedari tadi Karan tak henti hentinya menatap Al dengan tatapan kagum sekaligus penasaran.


"Lo kenal dia?" tanya Karan saat mereka sudah pergi meninggalkan panti.


"Hm."


"OMG, frist baru pertama kali ini En mau deket sama orang asing dengan gampang. Gue yang udah lama main di panti aja nih, nggak pernah tuh deket sama En." cerocos Karan.


"Eh, lo nggak guna guna si En kan? lo nggak ngasih apa atau apa gitu ke dia? kok lo bisa deket gitu sama En?" Karan menyerbu Al dengan rentetan pertanyaan.


"Rahasia." Jawab Al singkat, padat dan menyebalkan.


__ADS_1


maaf ya lamaaaa bgt ga up, ini lagi diusahain buat up lagi. Makasih yang masih setia sama Al dan Karan.


__ADS_2