Al Dan Karan

Al Dan Karan
12.Perjuangan karan[1]


__ADS_3

Baru saja melangkahkan kakinya menuju kelas, suara nyaring Bu Teresa membuat langkahnya terhenti dan berbalik.


"Kenapa bu?" tanya Karan tanpa dosa.


Padahal ujung rambut yang ia ombre dengan warna abu abu dan seragam yang ketat sudah jelas menjadi alasan mengapa Bu Teresa memanggilnya.


Bu Teresa melotot kesal, "Di tata tertib sekolah apa pernah disebutin boleh mengecat rambut dan berpakaian ketat?"


Karan menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari nyenggir, "Enggak sih bu tap-"


"BERSIHIN LAPANGAN SEKARANG!" Perintah Bu Teresa tanpa mau mendengar alasan apapun dari Karan.


Para murid yang berlalu lalang sontak menoleh kearah Karan ketika mendengar teriakan tegas dari Bu Teresa.Karan mengumpat dalam hati serta menyesali keterlambatannya, kenapa ia tidak datang pagi pagi saja agar tidak berpapasan dengan Bu Teresa.


Cewek yang kini menjadi pusat perhatian para murid segera mematuhi perintah Bu Teresa sebelum nanti hukumannya semakin bertambah.


"Temen lo kasihan banget baru masuk sekolah udah kena hukuman aja," kata Nana


"Temen lo juga dodol!" balas Aura tak terima.


"Rann!" panggil Nana


Karan menggangkat kepalanya menghadap kearah Kedua sahabatnya dipinggir lapangan,"Apaan?"


"Gue bantu mau gak lo?" tanya Aura


Sontak mata Karan berbinar bahagia, "Mau banget woi,makasih banget lo berdua emang sahabat gue yang paling-"


"Bantu doa!" potong Aura dan Nana berbarengan kemudian tertawa puas melihat raut wajah Karan yang sudah merah padam.


"Awas aja lo ya nanti!" ancam Karan.


Bukannya takut mereka malah tertawa kencang sembari menuju ruang kelas mebinggalkan Karan yang sudah menghentakan kakinya ke tanah dengan kesal.

__ADS_1


Di sudut yang berbeda, empat sosok laki laki berjalan dari arah barat sembari berbincang bincang.Salah satu diantarnya hanya menampakan raut datar serta bibirnya yang tertutup rapat enggan untuk bersuara.


"Itu bukannya Karan Al?"


Sontak mata Al segera mengikuti arah telunjuk Devon.


"Dihukum kayaknya dia." ujar Reonal


"Lo sebagai cowoknya dia enggak mau ngasih air putih atau apa gitu?"


"Gue bukan cowoknya dia,gue nggak mau dan gue nggak peduli tentang dia." setelah mengucapkan kalimat itu Al berjalan terlebih dahulu meninggalkan ketiganya.


"Sensitif amat kayak cewek lagi PMS." kata Farel


"Tau ah cewek cantik gitu di anggurin."


••••


"Hai Al,gue boleh duduk disini nggak?"


"Tumben lo nggak ke kantin?btw lo suka nasi goreng Al?" tanya Karan tak menyerah.


"Al gue sayang lo." ungkap Karan tiba tiba


Ini bukan pertama kalinya Karan berucap seperti ini,bahkan bisa dibilang sering.Namun,Al masih tak merespon atau menyahut perkataan cewek disebelahnya.Cowok itu lebih memilih menikmati nasi goreng yang ia bawa dari rumah.


"Gue berasa ngomong sama patung Al,dilirik enggak dijawab apalagi."


"Lo ngomong dong!" pinta Karan


"Gue mau lo pergi dari sini."


Permintaan Karan untuk Al membuka mulutnya memang terkabul,tapi bukan kata kata manis yang ia dengar melainkan sebuah ucapan pengusiran secara tegas dan cukup jelas.

__ADS_1


Belum sempat Karan protes,seorang gadis yang sejak berberapa bulan lalu telah Karan yakini sebagai rivalnya kini datang.


"Umm..sorry ganggu,ada apa Al lo manggil gue kesini?" tanya Ralina sesekali matanya melirik kearah Karan.


Al tersenyum saat Ralina telah sampai dihadapannya, "Duduk."


WHAT,AL SENYUM?! SEORANG AL TERSENYUM? MIRISNYA UNTUK RALINA BUKAN KARAN!


'Kenapa saat Ralina yang datang Al mempersilahkan bahkan tersenyum,sedangkan sama gue?jangankan tersenyum darah tinggi mulu bawaanya!' Kesal Karan dalam hati.


"Nih buat lo,makan!" Belum selesai Karan meredakan kecemburuannya kini adegan lain yang Al lakukan untuk Ralina semakin membakar hatinya.


Bagaimana tidak, Al memberikan kotak makan yang ia simpan di samping kirinya untuk Ralina dan mengusap usap puncak kepala gadis mungil yang kini tersenyum dihadapan Al.


"Ehem! gue berasa jadi nyamuk disini."


"Emang." jawab Al singkat padat jelas


Karan meremas roknya ia benar benar cemburu dengan ini semua,"Lo kenapa sih Al kayaknya benci banget sama gue,salah gue apa sih?"


"Lo bisa pergi dari sini?"


"Enggak!"


"Oke,gue nggak akan jalan sama lo meskipun nilai lo sesuai perjanjian."


"Kok gitu sih!?" geram Karan


Al tak menjawab ia kembali sibuk dengan makanannya.


"Al,gue pastiin lo bakal suka balik sama gue secepatnya!" Setelah mengucapkan itu Karan benar benar pergi.


Disisi lain Ralina merasa ucapan Karan cepat atau lambat benar benar terjadi dan Ralina tidak akan membiarkan hal itu terjadi.

__ADS_1


'Tidak semudah itu Karan.' ucap Ralina dalam hati


__ADS_2