Al Dan Karan

Al Dan Karan
67.Pacaran


__ADS_3

Karan berjalan santai menuju kelasnya. Koridor nampak kosong, tak ada satupun murid yang berkeliaran, kecuali dirinya.


"Eh?" Karan menoleh saat mendapati bahunya dipegang oleh seseorang.


"Ran," Dean memegang kedua bahu Karan, tatapannya lurus tertuju pada mata Karan.


Karan menghentakan tangan Dean. "Apaan sih lo."


"Ran, gue sayang sama lo. Gue cinta sama lo."


Karan tertawa kecil. "Bullshit. Kalau lo beneran sayang sama gue, Lo nggak bakal ngekhiantain gue."


"Ta-"


"Satu lagi, pasang telinga lo lebar lebar. Jangan ganggu gue lagi, gue udah nggak ada rasa sama lo."


Karan melanjutkan perjalanannya, meninggalkan Dean. Baru berberapa langkah, tangannya langsung ditarik oleh Dean. Dean mendorong tubuh Karan di tembok mengunci pergerakannya.


"Lo tau gue sayang lo, gue cuma mau lo." kata Dean pelan, ada penekanan disetiap kalimatnya.


"GUE ENGGAK PEDULI." teriak Karan.


Dean menutup mulut Karan. Mendekatkan bibirnya ke telinga Karan. "Kamu hanya miliku."


Karan berusaha memberontak namun sia sia. Tenaga Dean lebihnya besar daripada tenaganya.


"Lepasin dia."


Dean tersenyum sinis, orang yang paling ia benci kini ada dibelakangnya.


"Bukan urusan lo."


"Itu jadi urusan gue, karena dia pacar gue."


Refleks Dean langsung menurunkan tangannya yang ia gunakan menutup mulut Karan. Dean menatap Al penuh kebencian. Karan juga ikut terkejut dengan apa yang Al ucapkan barusan, dari sekian banyak alasan mengapa Al harus memilih beralasan menjadi pacarnya.


"Kenapa?" tantang Al


"Lo bilang lo pacar Karan? mimpi." Dean memegang kerah baju Al.


"Iya, Al pacaran gue." sahut Karan lantang


Al tersenyum kecil, menepis tangan Dean. "Tangan lo najis."


"Ran lo bego, kenapa lo malah pacaran sama dia yang nyakitin lo?"


"Plis lo kayaknya butuh kaca. Asal lo tau, bahkan gue lebih bahagia dengan Al."


Al merangkul pundak Karan mesra.


"See? ayo sayang, ke kelas." ucap Al sengaja.


Perkataan lembut tersebut, berhasil membuat perut Karan dikelilingi oleh kupu kupu. Rasanya menyenangkan.


Mereka berdua berjalan meninggalkan Dean yang di kelilingi oleh amarah.

__ADS_1


Karan tahu apa yang Al lakukan saat ini palsu. Al hanya ingin menyelamatkan dirinya dari Dean. Kalaupun boleh, Karan ingin ini menjadi sebuah kenyataan.


"Thanks ya," kata Karan


"Setelah ini lo bisa pura pura jadi pacar gue, biar lo nggak diganggu sama dia."


Karan mendongak, menatap Al yang lebih tinggi darinya.Ia tak percaya seorang Al yang begitu membencinya kini memberikan sebuah tawaran seperti ini.


"Ralina?"


"Gue udah putus sama dia."


Karan mengangguk. Dia sebenarnya sudah tau, tapi hanya ingin memastikan saja.


...…...


Al memperhatikan Karan dari kejauhan. Gadis itu tengah tertawa bersama kedua sahabatnya. Senyumnya begitu manis, bahkan Al sampai tak bisa mengalihkan pandangannya.


Tawa Karan reda, kepalanya menoleh ke kanan dan mendapati Al menatap dirinya. Mereka sempat berpandangan meskipun tidak dalam waktu yang lama. Karan tersenyum kecil dan memutus adegan tersebut. Hati Karan kembali tak karuan, usahanya untuk melupakan Al sepertinya akan gagal.


Begitupula Al. Al seperti termakan oleh omongannya sendiri. Al sudah tak menyangkal akan perasaannya.Ia mengakui kalau ia menyukai gadis yang dulu ia benci dan ia sia siakan. Menyesal? jawabannya iya. Bagaimana bisa dia sebodoh itu dulu, memilih dan memuja seseorang yang menyakitkan ketimbang seseorang yang tulus kepadanya.


Sekarang giliran Al yang akan maju dan memperjuangkan Karan. Giliran Al yang akan meluluhkan hati Karan. Harapan Al ialah ingin suatu saat ia bersama Karan bisa tertawa dan menua bersama. Semoga semesta merestuinya untuk kali ini.


"Al."


Tak ada sahutan yang dipanggil malah bengong.


Devon menyenggol lengan Al sehingga ia tersadar kemudian Devon menujuk Ralina yang berdiri dibelakang Al dengan dagunya.


"Al, gue boleh ngomong sama lo?"


"Al pliss."


"Mending lo pergi deh." sahut Farel penuh kebencian.


"Gue mau ngomong sama Al."


"Lo bisa lihat kan, kalau Al nggak tertarik ngomong sama lo."


Ralina memegang pundak Al dan ditepis pelan oleh sang pemiliknya. Ralina, tak tinggal diam di tolak seperti itu. Ia masih berusaha untuk membujuk Al agar meresponnya.


Dari tadi Karan bersama kedua sahabatnya memperhatikan keadaan di meja Al. Dari awal Ralina datang sampai saat ini.


"Anjir, ngapain sih dia." kesal Aura


Setelah menimbang nimbang apa yang ada dipikirannya. Karan berdiri, merapikan rambutnya sebentar.


"Hai sayang.." suara Karan yang cempreng otomatis membuatnya menjadi pusat perhatian oleh sebagian siswa yang ada didekatnya. Terutama di kalangan meja Al.


Karan langsung duduk disamping Al. Al sedikit dibuat terheran heran, namun akhirnya bisa mengimbangi acting Karan.


"Hai, udah makan kamu?" tanya Al mesra


Karan menggelangkan kepalanya.

__ADS_1


"Ck, kebiasaan."


Al mengambil nasi gorengnya dan menyuapi Karan. Meskipun mereka hanya berpura pura, tapi siratan dari mata Al begitu menunjukan kalau ia benar benar tulus menyukai Karan.


Ralina tak bisa bergerak, dia terdiam menyaksikan keromantisan itu berlangsung didepan matanya. Tangannya gatal ingin menarik Karan dari sini dan memberinya pelajaran.


Bukan hanya sahabat Al dan Karan, hampir sebagian penghuni kantin juga dibuat kaget dengan kemesraan Al dan Karan barusan. Ditambah mereka baru saja putus dari pasangan masing-masing.


Disela sela menyuapi Karan. Al menyelipkan rambut Karan dibelakang telinga cewek itu. "Cantik." puji Al.


Ralina membuang muka, hatinya seperti di bakar. Karena merasa dipermalukan, Ralina pergi meninggalkan kantin dengan penuh dendam dan benci.


Nana memeluk Aura sembari melihat keuwuan didepan matanya itu.


"Apaan sih lo." tepis Aura saat Nana memeluknya


"Pengen." rengek Nana.


"Sama gue mau nggak?"


Sontak mata Aura dan Nana bertatapan sebentar dan menoleh mendapati Regan.


"Otw jadi nyamuk gue." ujar Aura.


"Oh iya, gue mau ke kelas dulu ya." pamit Karan kepada Al.


Al menarik tangan Karan. Sehingga membuatnya kembali terduduk.


"Disini aja, sama gue." bisik Al


Karan merasakan jantungnya berpompa lebih cepat dari biasanya.


"Ka- kalian jadiannya kapan kok udah sayang sayangan aja. Gue pdkt seabad, manggil sayang auto digampar." gerutu Reonal


"Spill dong pdktnya gimana, ya ran, ya?" Devon ikut menimpali.


"Kepo." jawab Al cuek.


"Dih, gue ngomong sama Karan bukan sama lo."


Al menyodorkan piring berisi nasi goreng ke Karan. "makan."


"Tadi disuapin sekarang disuruh makan sendiri, nggak konsisten lo mah." kini Farel juga ikut nimbrung.


"Gapapa, lo makan aja. Gue udah kenyang."


"Alah ran, ran tadi bilangnya laper."


"Tau tuh, sok jaim lo."


"Makan." tegas Al.


"Gue enggak laper." keukeuh Karan


"Makan.."

__ADS_1


"Enggak, gue nggak laper."


Reonal mengambil piring nasi goreng yang menjadi bahan ribut Al dan Karan. "Ribet lo berdua, mending gue makan."


__ADS_2