Al Dan Karan

Al Dan Karan
53.Jenguk


__ADS_3

Seperti janjinya dengan kedua sahabatnya tadi siang.Di rumah Nana lah sekarang Karan berada.


"Jadi lo kenapa?" tanya Aura


Nana tak langsung menjawab pertanyaan Aura.Nana malah membuka ponselnya dan menunjukan kepada Karan dan Aura foto seorang cowok.


"Oh lo mau nunjukin foto cogan gitu?" sahut Karan polos


Nana menggelang lesu.Tak seperti biasa.


"Wait, kayaknya gue nggak asing sama ini cowok.Bukannya ini anak baru di sekolah kita ya?"


Nana mengangguk, membenarkan pernyataan Aura.


"Hah? disekolah kita ada anak baru?"


"Ada njir, kepala lo kebanyakan tentang Al sih." sewot Aura.


"Terus dia kenapa?"


Nana menghela nafas panjang. "Dia mantan gue.Gue emang belum pernah cerita tentang dia ke lo berdua."


Aura dan Karan mendengarkan apa yang akan Nana katakan dengan seksama.


"Nama dia Regan.Benar apa kata Aura, dia anak baru.Sebelumnya, gue pernah ketemu dia secara sekilas, waktu kita mau pulang.Saat Dean ngingetin Karan buat ngedate malam itu.Gue pikir, itu cuma halusinasi gue.Tapi, ternyata emang benar."


Mata Nana berubah menjadi sendu.Ketika menceritakan masa masa itu.


"Dulu dia ngehamilin sahabat gue, yang udah gue anggap kaya saudara sendiri.Gue ngerasa, dikhianati oleh dua orang yang udah gue percaya banget.Belum lagi saat itu, Papa kena tuduhan korupsi.Gue di bully habis habisan sama temen sekolah gue, bahkan ada berberapa guru dengan sengaja nyindir gue."


"Sikap Regan tiba tiba berubah,dan gue juga ngegap-in dia di kamar sahabat gue.Kita berantem hebat disana.Sampai akhirnya, mereka mengakui apa yang sebenarnya terjadi di belakang gue."


Karan dan Aura memeluk tubuh Nana.Tak menyangka gadis dengan tingkahnya yang absurd, pernah mengalami hal pahit di masa lalunya.


Nana tak pernah terlihat seolah memiliki beban masalah.Dia seorang gadis yang penuh energi, namun, tak ada yang tahu bagaimana isi hati kecilnya.


Nana terdiam, luka yang belum benar benar sembuh kembali terbuka.Apalagi saat mengetahui kenyataan bahwa, sang pengores luka tersebut ada di sekitarnya.


Nana merasakan trauma yang hebat saat itu.Tentang percintaan, persahabatan, pertemanan dan lingkungan sekitarnya.Hingga samampai saat ini, Nana harus rutin ke psikolog.


"Nangis aja Na, nggak usah di pendem sendiri.Bagi ke kita." bisik Karan.


Nana pun langsung menangis meluapkan rasa sakitnya yang tak kunjung sembuh.Kembali mengingat, betapa malangnya dia saat itu.Aura ikut mengelus bahu Nana yang bergetar hebat.


...…...


Karan berinisiatif menjenguk Dean di rumahnya.Sebelum ke rumah Dean, Karan mampir ke supermarket terlebih dahulu.Untuk membelikan Dean makanan.


Karan mengetuk pintu rumah Dean berkali kali.Awalnya Karan pikir tak ada orang, sehingga dirinya hendak memutuskan pergi dari rumah Dean.Namun, saat mendengar langkah kaki dan suara sahuta seorang wanita membuatnya mengurungkan niat untuk beranjak dari sini.


Wanita yang terlihat masih muda dan cantik.Membuka pintu dan tersenyum ke arah Karan.


"Temannya Dean?" tebak wanita itu


Karan mengangguk canggung. "Iya tante, Deannya ada?"


"Ada kok, ayo masuk." ajaknya.


Karan mengikuti wanita itu dari belakang.Ini pertama kalinya Karan ke rumah Dean.Rumah mewah dan megah namun terlihat sanggat sepi.


"Kenalin, saya Tamara.Mamanya Dean." Tamara memperkenalkan diri sambil menaiki anak tangga rumahnya.


"Saya, Karan tante temannya Dean."


"Aish, teman apa pacar?" goda Tamara


Karan terkekeh. "Beneran temen tante."


Mereka berdua berhenti tepat di kamar dengan pintu berwarna putih.Tamara mengetuk pintu kamar, dari dalam di sahut oleh Dean untuk masuk.


"Kamu masuk gih.Tante masih ada urusan jadi nggak bisa nemenin ngobrol ngobrol, maaf ya."


"Ah iya tante gapapa.Makasih ya tante."


Tamara tersenyum dan mengangguk.Meninggalkan Karan sendirian di depan pintu kamar Dean yang masih tertutup.

__ADS_1


Karan memutar kenop pintu.Terbukalah pintu dan menampilkan Dean yang bermain ponsel diatas tempat tidurnya.Dean sempat terkejut, ketika tau bahwa Karan menjenguknya.Refleks cowok itu mengubah posisinya menjadi duduk.


Karan tertawa kecil melihat tingkah Dean barusan.Gadis itu berjalan mendekat ke tempat tidur Dean "Santai, rebahan aja gapapa kali."


Dean hanya tersenyum menanggapi.


"Kesambet apa nih lo mau jengukin gue?" goda Dean


"Kesambet gajah terbang noh tadi." jawab Karan asal. "Lo gimana keadaanya?"


"Makin membaik banget.Apalagi lo disini, kayaknya gue udah bisa jogging muterin Jakarta nih."


"Coba aja, yang ada nggak jadi sembuh lo."


"Ran, sorry ya gue jadi ngerepotin lo."


"Apasih, santai aja kali.Sekalian, tadi gue habis dari rumahnya Nana."


"Oh ya Yan.Btw, anak baru yang namanya Regan satu kelas sama lo?" tanya Karan


Dean menggelang. "Anak IPS 2 dia.Dia juga ikut tim basket."


"Kok kayaknya tadi nggak ada?"


"Emang nggak ikut tadi dia.Nggak tau kenapa, izin dadakan."


Karan ber oh ria mendengar informasi singkat mengenai Regan anak baru alias mantan Nana.


"Kenapa kok tiba tiba lo nanyain dia.Jangan jangan lo suka dia? mau deketin dia? atau deketin dia dengan cara deketin gue.Parah si lo ran." ucap Dean dengan nada kecewa yang dibuat buat.


Karan mendegus kesal. "Udah sotoy geer pula.Paket komplit.


"Salah, yang bener itu.Udah baik, ganteng, sayang sama cewek inisial K, ceweknya nggak peka, ceweknya belum bisa buka hati.


Paket komplit kan." sindir Deam secara halus.


"Nggak nyambung ih." komentar Karan, berusaha mengalihkan topik.


"Ran," panggil Dean


"Apa?"


"Iyalah, emang kapan lagi."


"Terus, hari ini hari apa apa?"


Karan mengecek iWatch di pergelangan tangannya. "Hari selasa,30 Juni."


"Salah."


"Lah, bener kok.Nih lo liat." Karan mendekatkan iWatchnya ke Dean yang menampilkan tanggal dan jam di benda tersebut.


"Yang benar, hari ini itu.Hari sumpah gue sayang lo." gombal Dean


Karan menahan senyumnya dengan menabok pundak Dean pelan.


"Ran," panggil Dean lagi


Karan mengalihkan pandangannya.Menyembunyikan semburat merah di pipinya. "Halah, gombal lagi pasti lo."


"Enggak, gue nggak mau gombal.Karena, lo nggak pantas buat di gombalin.Pantasnya di seriusin."


Setelah mengungkapkan gombalan tersebut Dean tertawa puas ketika melihat Karan yang semakin salah tingkah dibuatnya.


"Puas lo," sinis Karan.


"Puas banget, apalagi ngeliat lo salting gini."


"Ngeselin lo."


Setelah berbicara mengenai berbagai hal dengan Dean.Karan memutuskan untuk pamit pulang.Sebelum kemalaman.


"Sorry ya ran, gue nggak bisa nganterin lo pulang."


"Iyaa santai aja.Pokoknya lo fokus buat sembuh aja.Biar bisa aktifitas kayak biasanya."

__ADS_1


"Biar bisa ketemu lo juga si salah satunya."


"Yan, jangan sampai ni sepatu gue lempar ke mulut lo ya." ancam Karan


"Sok atuh, kalau bisa."


Karan mencebikan bibirnya.


"Udah ah, gue mau pulang."


"Iya, hati hati calon pacar." gumam Dean pelan.


"Apa?" tanya Karan sambil berbalik kearah Dean.


"Enggak, hati hati Mak Lampir galak gitu."


"Enak aja lo.Awas lo ya kalau udah sembuh." tunjuk Karan tepat di dahi Dean.


Karan hendak berjalan ke mobilnya yang terparkir di depan rumah Dean.Tangannya baru akan membuka pintu mobil.Namun, suara cowok yang tak asing di telinganya memanggil Karan.


"Woi Karan!"


Karan menoleh ke depan.Disana ada Devon, Reonal, Farel dan tunggu..Al.


Sebenarnya Karan ingin langsung pergi.Tetapi, tak enak rasanya.Sehingga dengan berat hati Karan menghampiri mereka terlebih dahulu.Mereka berempat tengah duduk di depan gerbang rumah entah milik siapa.


"Kenapa?" tanya Karan berdiri didepan keempatnya.


"Lo yang kenapa ke rumahnya Dean? ada perlu apa?" Reonal langsung menguhujani Karan dengan pertanyaan.


Semua mata terpusat pada Karan.Hanya Al yang sibuk bermain ponsel dari tadi.Seolah tak menghiraukan keberadaan Karan.Meskipun, sebenarnya Al memasang telinganya kuat kuat untuk mendengarkan jawaban dari Karan.


"Kepo banget sih lo." ketus Karan.


"Oh jangan jangan..wow..ah nggak nyangka gue Ran."


Karan menendang pelan kaki Reonal. "Sembarangan banget lo.Gue tau isi kepala lo kotor.Gue ke rumah Dean buat jengkuk dia."


Jari Al yang semula menari nari diatas layar hp memainkan game pubgnya.Kini terhenti.Sedekat itukah sekarang Karan dan Dean.Fokusnya terpecah oleh pernyataan yang baru keluar dari mulut Karan.


"Bisa sakit juga dia, emang dia sakit apa?" tanya Farel


"Lo tanya aja sama temen lo yang kayak kulkas dua pintu itu."


Devon melirik kearah Al, cowok itu sama sekali tidak mendongak atau merespon sedikitpun sindiran Karan.Meskipun ia mendengarnya.


"Buset kulkas dua pintu katanya.Bukan dia pintu lagi Ran, sepuluh pintu kalau ada." sindir Reonal. "Dinginnya itu menusuk banget kan ran, sampai ulu hati."


Devon dan Farel kompak menoyor kepala Reonal


"Lebay, Alay, Jablay." ucap keduanya kompak.Reonal mengertutu kesal.


"Lo pada ngapain disini?"


"Main lah." jawab Farel


"Nyari cewek, godain cewek." sahut Reonal nyeleneh.


"Yeu katanya cuma Aura doang, sekarang pindah haluan lo.Dasar buaya darat." sewot Devon disebelah kirinya.


"Ngapain main didepan rumah orang gini sih.Absurd bener tingkah lo semua."


"Rumah orang, rumah orang.Ini rumah nenek gue." Kata Reonal


"Nyahut mulu sih lo.Males gue jadinya.Udah mau pulang duluan gue."


Karan meninggalkan keempat cowok tersebut dan melajukan mobilnya untuk pulang.


"Kayaknya sama Aura, Karan dan lo pada gue salah mulu deh." keluh Reonal


"Untung nyadar." celetuk Al yang dari tadi diam.


"Apaan lo nyahut nyahut.Dasar kulkas, nyahut pas si Keran air udah pulang.Dari tadi diem aja enggak ngebela gue."


"Bodoamat." cuek Al.

__ADS_1


__ADS_2