
“### KAK AL-AAAA MAMAAAA!”
Al dan Karan segera menjauhkan diri masing masing dengan canggung. Setelah suara anak kecil mengelgar.
“Kenapa sayang?” tanya seorang wanita yang terlihat masih muda dengan balutan dress di tubuhnya.
“Kak Al sama kakak itu tadi ciuman, Gavin au sendiri.” Seru Gavin masih menutup matanya dengan kedua tangannya.
Karan mengigit bibir bawahnya. Ingin rasanya ia menghilang dari bumi untuk saat ini saja.
Sementara Al menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Didalam hati ia mengerutu. ‘Njir lah, nanggung banget tadi.’
Seorang wanita yang dipanggil Mama oleh Gavin tersenyum penuh arti kepada Al dan Karan.
“Udah sayang, dibuka dong. Kak Al udah nggak ngapa-ngapain.”
Gavin pun membuka matanya. Memandangi Al dan Karan bergantian. Yang dipandang terdiam di tempat seperti maling ketangkap basah.
“Lain kali nggak boleh gitu,” setelah mengatakan kalimat tersebut Gavin pergi ke kamar Al untuk bermain koleksi lego Al.
Tawa dari wanita tersebut keluar begitu saja setelah kepergian anaknya.
“Sorry ya, kedatangan tante ganggu kalian yang lagi ekhem.”
Al mendengkus kesal, “Emang, ganggu banget.”
Karan menyikut lengan Al, meringis, “Enggak kok tante, enggak.”
“Oh ya, kamu yang namanya Karan bukan?”
Karan mengangguk canggung.
“Pevita, tantenya Al, adik dari mamnya Al.” Pevita mengulurkan tangannya di hadapan Karan dan disambut oleh Karan.
“Ternyata, kamu emang bener bener cantik, pantes Al suka.”
Karan melirik sekilas ke arah Al cowok itu sudah tak ada pada tempatnya semula kini ia duduk sambil meminum segelas air putih.
“Tante juga cantik, mirip banget sama Tante Lelita."
“Btw, setelah ini kamu sibuk nggak?”
Karan menggelang. “Kenapa emang tan?”
“Ikut ke makam Kak Lelita, mau nggak sekalian tante mau ngobrol ngobrol sama calonnya Al.”
“Ah, tante bisa aja. Iya, Karan mau kok."
Sepanjang perjalanan menuju makam Karan dan Pevit terus berbincang bincang satu sama lain. Mereka sudah seperti kenal lama.
Beruntungnya Karan adalah tipe orang yang mudah bergaul sama halnya dengan Pevita. Bahkan, sepertinya saking asiknya berbincang Pevita meluapakan anaknya
“Karan kamu tau nggak sih kenapa tante bisa langsung kenal kamu.”
Karan menggelang, “Kenapa tan?”
__ADS_1
“Dulu sebelum kak Lelita sakit, beliau selalu cerita ke tante kalau anak cowoknya suka sama kamu.”
Al memutar bola matanya kesal, ia sudah tau arah pembicaraan tantenya yang satu ini. “Tan, udah dong.”
Alih alih berhenti. Pevita jutru terus bercerita ria tak mempedulikan permintaan Al.
“Al itu, waktu suka kamu dia selalu cerita ke Mamanya tentang kamu. Katanya, kamu itu moodboster dia.”
“Tan...”
“Katanya, dia pernah nyakitin kamu, ya?”
Karan menggaruk tengguknya yang tidak gatal. “Salah Karan juga sih tan.”
Pevita mengangguk, “Kalau kamu di sakitin lagi atau di apa-apain sama dia bilang tante ya.”
“Enggak bakal gue sakitin.” Sahut Al dari depan. Pandangannya tetap fokus pada jalan didepannya.
Pevita heboh sendiri ketika mendengar keponakannya berucap demikian.Pasalnya ini adalah seorang Al yang jauh dari kata romantis dan hal manis lainnya. Sedangkan Karan, tersenyum kecil. Meskipun sebenarnya ia ingin sekali berteriak, salto dan guling guling.
“Mama your okey?” tanya Gavin polos ketika melihat mamanya di bangku belakang heboh sendiri.
Al menahan tawanya saat pertanyaan keluar begitu saja dari mulut Gavin.Karena anak itu melihat tingkah Mamanya yang heboh sendiri.
“Gavin bentar lagi kamu bakal punya onty. Onty Karan.”
“Really?”
Pevita mengangguk mantap.
Karan tersenyum kecil. Dirinya merasa begitu senang ketika ia bisa diterima di keluarga Al seperti ini. Mesipun nanti ia harus kehilangan uang untuk membelikan Gavin eskrim.
Sebelumnya Karan dan Gavin sudah pernah bertemu di taman dulu. Hanya saja yang membedakan adalah, dulu Karan bukan siapa siapa di mata Al. Kini, Karan adalah sebuah insan yang begitu Al cintai.
Mereka sampai di makam. Masing masing mengirim doa serta menaburkan bunga segar diatas makam. Al mengelus nisan mamanya penuh kerinduan. Karan bisa merasakan apa yang Al rasakan. Ia juga pernah kehilangan seseorang yang begitu ia cintai.
Tangan karan mengusap pundak Al lembut. Al menoleh kearah Karan disampingnya. Karan tersenyum kecil. Al mengelus nisan Mamanya sekali lagi, ia menghela nafas panjang sebelum akhirnya bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan makam bersama Tantenya, Gavin dan Karan.
Raut wajah Pevita berubah seratus delapan puluh derajat daripada tadi. Kini di wajahnya hanya menampilkan raut penyesalan dan kesedihan.
“Tante kadang sedih kalau inget dulu tante nggak bisa nemenin Kak Lelita waktu ia sakit.” Ujar Pevita. Kini mereka berdua berada didalam mobil. Sedangkan Al tengah membeli makanan ringan bersama Gavin
“Umm.. kalau boleh tau emang dulu Tante kemana? Karan nggak pernah liat tante sama sekali waktu pemakaman tante Lelita.”
Pevia tersenyum kecut, “Tante waktu itu lagi ada di Jepanguntuk urusan pekerjaan. Saat tante disana nggak ada yang ngasih tau tante kalau Kak Lelita sakit. Bahkan, Al pun nggak ngasih tau tante. Tantu baru denger kabar Kak Lelita saat ia sudah meninggal. Tante waktu itu pengen banget pulang. Tapi, nggak bisa pasport tante ada kendala. Serta perusahaan menuntut tante untuk tetap di Jepang sampai urusannya selesai.”
Karan langsung memeluk Pevita yang sudah bercucuran air mata. Berada di posisi Pevita benar benar bukan hal yang menyenangkan. Ia harus tetap dituntut profesional, namun di sisi lain ia harus menelan pahitnya kabar duka.
Pevita mengusap air matanya dan berusaha tersenyum kembali.
“Tante juga nggak habis pikir sama Papa Al. Dia orang yang tante percaya, dia bisa bertingkah begitu tulus menyayangi Kak Lelita didepan kami semua. Namun nyatanya, Ia sudah berselingkuh selama tiga tahun tanpa sepengetahuan kami. Kak Lelita baru tahu tahun lalu, beliau memilih diam daripada melihat Al membenci papanya sendiri dan semuanya menjadi berantakan. Semenjak Kak Lelita tahu perselingkuhan itu. Diam diam beliau sering mendapatkan kdrt dari suaminya saat suaminya pulang.”
Karan menelan ludahnya susah payah. Siapa sangka seseorang yang terlihat begitu ceria dan baik baik saja. Tengah menyimpan luka fisik dan emosionalnya secara diam diam. Karan benar benar tak tahu bagaimana marahnya Al ketika ia mengetahui orang yang ia cintai mendapatkan perlakuan buruk dari seorang papanya sendiri.
“Ini rahasia kita, jangan bilang Al ya.”
__ADS_1
Karan mengangguk, ia juga tak ingin melihat Al kembali mengamuk kepada papanya seperti yang cowok itu lakukan dulu.
Pevita merasa lega setelah bercerita panjang lebar kepada Karan. Ia merasa Karan adalah orang yang tepat untuk mendengar ceritanya.
...…...
“Gavin nggak mau pulang.” Rengek Gavin ketika Pevita mengajaknya pulang.
Mereka berempat telah sampai di rumah Al beberapa menit lalu. Niatnya Pevita ingin menghabiskan waktu bersama keponakannya dan Karan. Namun mangernya menelfonnya, karena ada sesuatu hal penting. Sehingga mau tak mau Pevita harus ke kantor.
“Sayang..” bujuk Pevita
Gavin tetap menggelang kuat.
“Gavin biar disini, nanti aja suruh mang Agus jemput.” Kata Al menengahi perdebatan antara ibu dan anak tersebut.
“Kamu nggak sibuk?”
Al menggelang.
“Iya tan, mending Gavin disini aja,Karan bakal bantu Al jagain Gavin. Tante selesain urusan tante dulu aja.”
Pevita tersenyum, “Makasih banget ya Al, Karan.”
Pevita mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Gavin. Ia mengelus rambut Gavin lembut. “Janji sama Mama nggak boleh nakal. Nurut sama Kak Al dan Kak Karan.”
Gavin menautkan jari kelingkingnya di jari kelingking Pevita. Menandakan ia telah berjanji.
Pevita bangkit dan mengambil tas serta kunci mobilnya di meja. Sebelum ia keluar rumah ia sempat berbisik kepada Al. “Ada Gavin disini. Ciumannya di tunda dulu kapan kapan.”
Al berdecak. Pevita selau saja mengodanya tentang hal itu.
Pevita mencium pipi Karan dan memeluknya.
“See you, Tante harap bisa ketemu Karan lagi.”
Karan tersenyum, “Harus bisa dong.”
Sepeninggalan Pevita Karan bersama Gavin dan Al dudu di ruang tamu sembari menunggu pesanan go-food mereka datang.
Al dan Gavin bermain PS. Sedangkan Karan bermain ponselnya dengan bosan, sesekali menjadi suporter dadakan untuk Gavin.
“Ayo Gavin kalahin!"
“Kok lo dukung Gavin sih,”
“Suka suka gue mau dukung siapa,” balas Karan sewot.
Al yang bersandar di bawah, menoleh kebelakang. Mendekatkan wajahnya kepada Karan yang tengah duduk di sofa.
“Awas aja kalau gue menang, gue cium lo.”
goda Al membuat rona merah di pipi Karan mencuat.
“Rese lo,” Karan menabok pelan kepala Al dengan bantal sofa.
__ADS_1