
Al merebahkan tubuhnya di kasur. Cowok itu kembali mengingat berita yang temannya sampaikan tadi.
"Gue denger katanya Al sama Karan putus."
Farel melempar bungkus kacang tepat ke wajah Reonal. "Karan sama Dean goblok."
"Nah iya itu, sama aja."
"Beda, enak aja lo samain." sahut Al.
"Buset ribet lo pada. Lo mau dengerin berita hot yang baru di goreng pakai minyak pilihan nggak?"
"Apaan si?"
"Dean sama Karan putus!"
Farel, Devon dan Al hanya ber oh ria. kemudian melanjutkan aktivitas masing masing.
"Woi, kok lo pada nggak shock, terkejut gitu. Al kok lo nggak happy gitu sih."
"Terus gue harus gimana? nagadain syukuran gitu?"
"Tau nih, mau putus mau nikah biarin urusan mereka kali."
Reonal mengembangkan keduanya pipinya. Beracting seolah dirinya tengah ngambek.
"Najis." cibir ketiga sahabatnya.
Perasaan bahagia seolah menjalar ke seluruh tubuhnya. Dari dulu ini yang Al inginkan, dan semesta mengabulkannya sekarang.
Lamunan Al terhenti oleh dering ponsel di sampingnya
Al mengusap wajahnya kasar. Sebelum ia mengangkat panggilan tersebut. "Nggak, gue nggak boleh suka sama Karan. Gue udah punya cewek Ralina."
"Hai." sapa Ralina
"Hai juga. Kamu lagi dirumah?"
"Iya nih dirumah. Kamu udah pulang dari nongkrong?"
"Udah."
"Yauda, aku mau tidur duluan ya."
"Iya, night."
"Too." Ralina mematikan sambungan ponsel terlebih dahulu.
...…...
Kondisi Sekolah sudah hampir sepi.Hanya ada beberapa siswa di sekolah, itupun mereka tengah mengikuti eskul masing masing.
Sedangkan Karan masih menunggu jemputan dari Pak Iyus yang tak kunjung datang. Seharusnya tadi ia mengiyakan ajakan Nana untuk pulang bersama.
__ADS_1
Karan mengecek jam tangannya.
"Pak Iyus kemana sih, masa iya lupa arah sekolah gue." gerutu Karan.
"Ni ponsel juga ngapain sih lo mati segala. Gue jadi nggak bisa ngegojek ni."
Karena lelah berdiri Karan duduk pasrah di bangku post satpam
. Berharap keajaiban datang.
Namun harapannya seolah berbalik buruk. Bukan keajaiban yang datang tapi kesialan. Bagaimana tidak dari jauh ia bisa melihat Dean tengah berjalan ke arahnya.
Karan panik sendiri. Ia cukup malas untuk berhubungan dengan cowok brengsek seperti Dean.
Berpaspasan dengan itu mobil Al melaju di depannya. Karan tak mau lagi membuang kesempatan yang ada. Sehingga ia langsung mencegat Al. Al turun dari mobilnya menghampiri Karan dengan raut geram.
"Lo mau marah kan sama gue? gapapa deh lo marah sama gue, sejam dua jam terserah, yang penting sekarang gue nebeng ya."
"Gak."
"Pliss, sekali aja."
"Lo nggak lihat gue bawa Ralina?"
"Gue duduk belakang, duduk bagasi juga boleh. Turunin gue dijalan juga gapapa, pokonya bawa gue pergi dari sekolah sekarang."
"Lo kira gue supir lo."
"Karan, " panggil Dean " Ngapain lo deket deket sama cewek gue." tajam Dean, ke arah Al.
Al menyeringai kecil, seolah mengejek Dean. Dean merasa dipermalukan didepan rivalnya oleh ucapan Karan barusan.
"Ayo ikut, kita pulang." Dean menarik lenganKaran.
"Lepasin!"
"Ayo kita pulang." sinis Dean
"Nggak, gue nggak mau pulang sama lo."
"Kenapa? lo mau pulang sama cowok yang udah nyakitin lo ini? cowok brengsek disamping lo ini, kan?"
Karan langsung melepaskan lengannya dari genggaman Dean.
"Lo ngatain dia brengsek, terus apa kabar sama lo. Lo lebih brengsek."
Dean kembali menarik lengan Karan. Kali ini dengan sangat kasar. Karan terus memberontak saat Dean membawanya menjauh dari Al.
Setelah berdebat dengan hati dan pikirannya Al memutuskan untuk menghampiri mereka.
"Al, jangan. Biarin itu urusan mereka, kamu nggak usah ikut ikut." Ralina keluar dari mobil dan berdiri disamping pintu.
"Tunggu sebentar ya." Al langsung meninggalkan Ralina yang mengeram kesal.
__ADS_1
"Gila, baru kali ini Al nggak nurut sama apa yang gue omongin."
"Lepasin dia!"
Dean menghentikan langkahnya, saat didepannya sudah ada Al dengan raut datar seperti biasa.
"Kenapa? lo nggak suka? apa urusannya sama lo?"
"Lo nggak lepasin dia atau kita main disini?" tantang Al
"Oh, nantangin gue lo?"
Mereka hendak bertengkar lagi. Untuk Pak Agung satpam sekolah langsung meneriaki keduanya. Dean menunjuk wajah Al tepat didepan mata dengan telunjuknya. Al tersenyum meremehkan, menunjukan bahwa ia menang kali ini.
"Al gue jadi bareng ya?" pinta Karan saat Al hendak balik ke mobilnya
Al hanya diam tak menjawab, dan ketika Al diam Karan tahu apa jawabannya.Iya.
Karan mendapatkan lirikan tajam dari Ralina saat ia sudah mendaratkan bokong di kursi belakang.
"Sans, gue cuma numpang pulang." kata Karan.
Al langsung menoleh kearah Ralina. Kemudian, melajukan mobilnya meninggalkan sekolah.
Sepanjang perjalanan suasana tampak hening tak ada yang bersuara. Karan pun engan bersuara ketika berada di satu mobil bersama cewek munafik ini.
...…...
"Tumben lo sendirian kesini?" tanya Al kepada Farel
Mereka berdua duduk di belakang rumah Al.
"Ada yang ingin gue sampein ke lo."
Al menaikkan sebelah alisnya, "Apa?"
"Cewek yang sekarang sama lo, itu sebenarnya nggak benar benar cinta sama lo."
"Maksut lo?"
"Ralina nggak benar benar cinta sama lo."
Al berdiri dari duduknya dan langsung melayangkan tinju di rahang Farel. Farel terhuyung ke belakang mendapat serangan dadakan dari Al.
"Lo kalau ngomong dijaga. Nggak usah ngejelek jelekin dia kalau lo emang nggak suka dia."
Farel terkekeh, "Al..Al lo jadi bego gara gara cinta. Sepertinya, sebentar lagi lo bakal hancur gara gara cinta juga."
"Nggak usah banyak bacot."
"Terserah, susah ngasih tau orang bucin." Farel meninggalkan Al yang terdiam.
Al antara percaya dan tidak percaya apa yang Farel katakan tadi. Kalau memang benar, mengapa Ralina menerima menjadi pacarnya. Mengapa pula Ralina harus cemburu ketika Al bersama Karan.
__ADS_1
Al mengambil ponselnya, menelpon Ralina. Tetapi, ponselnya tidak aktif. Al benar benar cemas sekarang, yang bisa ia lakukan sekarang adalah menemui Ralina. Memastikan apa yang Farel ucapkan salah.
~hi guys maaf ya lama upnya, sibuk nugas hehehe