Al Dan Karan

Al Dan Karan
45.Rooftop dan dia


__ADS_3

Hari ini Al sengaja berangkat pagi untuk menghindari kemacetan Ibu Kota.Sesampainya di kelas Al, hanya melihat Karan yang sedang bermain ponsel di bangkunya.Serta berberapa tas yang entah pemiliknya kemana.


Mata mereka sempat bertemu.Tapi, sedetik kemudian Karan lah yang memutuskan kontak mata tersebut.Al kembali berjalan menuju mejanya.Memilih membuka aplikasi game di ponselnya.


Satu bubble chat masuk dari no yang tidak ia save.Namun, Al tahu betul itu no Karan.


*085**560912456* : sepulang sekolah temuin gue di rooftop ada yang mau gue omongin sama lo.


Al menoleh sekilas ke arah Karan. Cewek itu masih fokus pada ponselnya.


"Cie berdua aja.Eh,pasti berangkat bareng kan lo berdua." seru Devon yang baru saja masuk kelas.


Al memutar bola matanya malas.Sedangkan Karan menatap datar ke arah Devon.


"Cie, berdua tapi nggak ngobrol.Ah, lo berdua nggak seru diem diem bae." sahut Reonal juga.


"Cie, yang sebenarnya saling kangen tapi diem diem." Farel pum tak mau kalah.


"Kok lo tau kalau mereka saling kangen?sotoy." ujar Reonal sembari duduk di kursi dekat Devon.


Farel menoyor kepala Reonal. "Makanya suka cewek biar tau."


"Astagfirullah.Selama ini lo..lo?" tuduh Devon


"Matamu.Gue normal njir.Ini gue juga lagi suka cewek, tapi ceweknya kaya angry brid."


Mendengar ucapan Reonal sontak Al dan Karan kompak melihat ke arah ketiganya.


"Cie cie yang kompak liatin cogan." celetuk Reonal.


"Cie cie, ikatan batin yang kuat."


Al menghela nafas kasar.Begitupun Karan yang memilih membuang muka.


"Oh iya, ran cewek gue kemana?" tanya Reonal kepada Karan


Karan mengedikan bahu. "Lah kan cewek lo, kok nanyanya sama gue."


"Maksut dia si Aura, ran." jelas Farel


"Apaan nih,nama gue di bawa bawa." sahut Aura.Dia dan Nana baru saja sarapan di kantin.


"Hai sayang, darimana?" tanya Reonal.Aura langsung mendelik kesal.


"Sayang sayang, pala lo peyang."


"Cie udah sayang sayangan aja ih kalian." kata Nana


"Iya ini lagi masa pendekatan.Lo bujuk tuh temen lo.Biar tau kalau ada yang setia di depan mata, 24 jam, seumur hidup sama dia."

__ADS_1


"Tuh Ra, dengerin." cetus Nana dengan tawa yang ditahan.


Aura memandang Nana sinis."Lo temen gue apa dia sih?"


"Temennya Karan.Ya kan ran." kata Nana mengambil jalan tengah.


"Udah ah, kesel gue kalau ngeliat lo."


"Ih, kok kamu gitu sih." Reonal kini duduk didepan Aura.


"Ya,lo yang ngapain,njir.Pagi pagi udah bikin orang kesel aja."


"Yakin kesel?" goda Reonal.


Aura tak menggubris Reonal.Cewek itu membuka ponselnya.


"Sakit loh sayang di kacang itu." rengek Reonal.


"Ra, temen gue tu.Lo kacang kasian,ngenes dia." celetuk Devon.


"Dih, sama aja lo von sama dia."


"Beda lah, sayang.Gue ganteng gini disamain sama upil Anoa kaya Devon." kata Reonal tak terima.


Sontak membuat Devon mengeplak kepala Reonal.


"Lo baru tau?" tanya Devon


Karan mengangguk.


"Emang iya? kok nggak heboh kaya biasanya sih." Nana ikut menimbrung.


"Yaela.Dari kemarin kali.Tapi, nggak seru anak barunya cowok.Jadi merasa tersaingi gue." kata Farel kecewa.


"Ganteng nggak?" tanya Aura dengan sengaja.


"Heh,apaan sih.Nanya nanya gituan.Jelas gantengan gue lah." jawab Reonal percaya diri.


"Dih, najis lo." sahut Karan.Mereka tertawa mendengar sahutan Karan.Sedangkan Reonal mencebikan bibirnya kesal.


...…...


Karan sengaja memisahkan diri dari teman temannya.Kini cewek itu tengah melamun di taman sekolah.Rasanya lelah,tapi tidak dapat di hentikan.


Andai saja waktu itu dia tidak bertemu dengan Al di makam Papanya.Mungkin, sekarang Karan bisa sedikit melupakan Al.Bodoh memang,semudah itu Karan kembali terjebak oleh yang namanya cinta.


Baru pertama kali ini Karan berjuang sedemikian rupa untuk mendapatkan cowok.Padahal, sebelumnya mereka para cowok yang mendekat.Kini berbanding terbalik.


"Kenapa, gue sebego itu." gumamnya entah kepada siapa

__ADS_1


Dari kejauhan, Al dapat melihat sorot sendu di mata Karan.Rautnya menggambarkan kesedihan.Al ingin memeluk Karan lagi.Memberikan kekuatan kepada gadis itu.Namun,egonya lebih berkuasa.


Al menikmati setiap sudut wajah Karan yang cantik.Rambutnya yang terurai dimainkan oleh angin.Tapi sayang, senyumnya hilang.Tawanya juga serta keramahannya mulai sedikit tak terlihat.Al merasa bersalah telah menyakiti gadis seperti Karan.Di hati kecilnya berkata, bahwa Karan tak sejahat dan setega itu.


"Hai." sapa Ralina


Al menoleh dan tersenyum. "Oh,hai."


"Kamu ngapain?liatin Karan ya,ciee." kata Ralina menggoda.


"Engga tuh.Ngapain juga ngeliatin dia." alibi Al.Ralina mengangguk menganggapi, meskipun tahu bahwa Al tengah berbohong.


"Yaudah, mau ke kantin?" tawar Ralina


Al mengiyakan dan berjalan beriringan dengan Ralina menuju kantin.


Karan dapat melihat Al dan Ralina yang berjalan berdampingan.Seraya membicarakan,entah apa.Sesekali Al tersenyum kecil menanggapi apa yang Ralina ucapkan.Kalau dia tau jatuh cinta akan sesakit ini.Dari awal dia akan membuang perasaannya kepada Al.


"Ada apa?" suara berat dari cowok di belakangnya membuat Karan menghela nafas panjang dan menoleh.


Karan tak langsung bangkit.Cewek itu benar benar dilema.Akankah dia memberi tahu yang sebenarnya meskipun tak dipercaya, atau tidak sama sekali.


"Gue nggak punya banyak waktu buat lo." ujar Al.


Karan diam membelakangi Al. "Silahkan lo pergi.Karena sekalipun gue ngasih tau lo.Lo nggak akan percaya."


Al semakin dibuat bingung oleh apa yang baru saja Karan katakan.Tadi, hadis itu mengajaknya bertemu.Kini, ia malah menyuruh Al pergi.


"Apa gunanya lo tadi ngajak gue buat ketemu?"


"Gunanya karena gue akan ngasih tau satu hal ke lo.Tapi, kayaknya lo nggak bakal percaya.So,go from here."


Al dibuat bertanya tanya oleh ucapan Karan.Sebenarnya apa yang akan gadis itu katakan.Karena tak mau ambil pusing, Al memutuskan untuk langsung pergi.Sebelum Al benar benar pergi,dia mengucapkan sesuatu untuk Karan.


"Jangan pernah ganggu gue dan Ralina lagi.Dengan seribu drama lo."


Karan tersenyum hambar.,mendengar pernyataan itu keluar dari cowok yang masih menjadi alasannya bersedih.Kalau boleh,ia ingin sekali melompat dari gedung rooftop ini.Mengakhiri semuanya dengan mata yang terpejam.


"Gimana,Al percaya?"


Karan memejamkan matanya.Tangannya mengepal kuat kuat.


"Udahlah ran, stop deh berharap, peduli sama Al.Daripada lo sakit hati terus kan." tutur Ralina dengan nada mengejek.


Karan hanya diam.Memandang pemandangan kota di hadapannya.


"Lo itu udah jelas jelas kalah dari gue.Mending lo mundur aja.Lo nggak bakal menang, karena saingan lo,itu gue." sombong Ralina.


Karan terkekeh, kemudian bangkit dari duduknya.Menghadap ke arah Ralina dengan pandangan meremehkan.

__ADS_1


__ADS_2