Al Dan Karan

Al Dan Karan
32.Terluka


__ADS_3

Seperti janjinya kepada Bu Tari.Kini Karan tengah belajar bersama Dean di perpustakaan sesudah jam pulang tadi.


"Sampai sini faham?" tanya Dean


Karan mengangguk sebagai jawaban.Sejujurnya tak ada satupun yang masuk di kepala Karan.Hanya omongan Al yang sedari tadi berjalan mengitari kepalanya.


"Yaudah,kita lanjut besok ya,sampai sini cukup kan?"


Tak ada jawaban yang diajak berbicara malah melamun.


"Ran!"


"Eh..Iya kenapa?" tanya Karan gelagapan


"Lo kenapa?" tanya Dean balik


"Hah?gue?enggak gak kenapa kenapa kok."


"Beneran?" Dean memastikan


"Iya yan." Jawab Karan mantap. "Oiya kita udah selesai kan,gue pulang duluan ya." Sambungnya.


Dean mengiyakan membiarkan Karan pergi bersama isi kepalanya.

__ADS_1


"Lo kapan buka hati lo buat gue ran." Gumam Dean.


Dering ponsel dari saku Dean membuatnya terpaksa melihat siapa yang menelfonnya.


"Halo?" sapa Dean


"Ke sini sekarang gue perlu ngomong sama lo."


Belum sempat Dean menjawab, panggilan sudah dimatikan sepihak.


"Sial." Umpat Dean sebelum akhirnya pergi meninggalkan perpustakaan yang terlihat sepi. Namun siapa sangka sebenarnya ada seseorang yang tengah bersembunyi disana, tersenyum kecil.


.........


Karan duduk di kursi balkon kamarnya.Menulis beberapa lembar paragraf.Menceritakan keluh kesah yang tak dapat di ungkapkan lewat bibir.Sesekali,Karan mengusap air matanya yang keluar karena tak dapat dibendung lagi.


Al menatap Karan dari balkon kamarnya juga.Memperhatikan wajah cantik itu secara diam diam di padu dengan semilir angin.Ada perasaan bersalah saat gadis itu beberapa kali tengah mengusap pipinya.Al tau, dia adalah cowok brengsek yang hanya menyakiti hati Karan.Al pun tau,dia tak pantas untuk di cintai Karan.Karena yang ada Al hanya memberi luka bukan tawa.


Setelah dirasa lega, Karan menutup bukunya.Mengedarkan pandangan, merasakan angin yang sedari tadi menerbangkan rambutnya.Sampai pandangan Karan bertemu dengan pandangan sosok laki laki yang juga tengah menatapnya.Al langsung memalingkan wajahnya saat dia tertangkap basah sudah memperhatikan Karan.Begitupula Karan,cewek itu memilih masuk ke dalam kamarnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Al merasa tak diinginkan sekarang.Al merasakan kehilangan.Dulu dia ingin Karan menjauhinya,sejauh-jauhnya.Kini berbanding balik dengan apa yang ia ucapkan dulu.Perasaanya terbagi menjadi dua,antara untuk Ralina atau Karan.Tapi,semakin kesini Al juga ragu akan perasaannya untuk Ralina.


Al mengacak acak rambutnya frustasi. "Dunia bakal tenang kalau gue nggak kenal apa cinta."

__ADS_1


Mendiamkan Al seperti ini, menganggap bahwa dia tidak membutuhkan Al adalah hal terberat yang Karan rasakan.Nyatanya dia juga terluka sendiri.Dia ingin berbincang panjang lebar meskipun tak mendapat respon dari Al.Dia ingin bertingkah seperti sebelumnya.Namun, ucapan Al saat itu masih terus membekas disana.Meskipun Karan berusaha mengobatinya,tetap saja tak pernah benar benar hilang.


Karan menangis meluapkan rasa sakit hatinya.Menangis meratapi hidupnya dan menangis merindukan seseorang yang tak bisa untuk digapai lagi.


Berkali kali tangannya memukul dadanya pelan.Seolah ada perih yang tak bisa dijelaskan disana.Ada hati yang tak berbentuk dan ada lara yang tak juga mengering.


.........


"Lo sayang sama dia kan?"


Seseorang mengangguk sebagai jawaban.


"Buang rasa sayang lo ke dia.Karena, gue yang lebih pantas di posisi itu."


Seseorang berdecak. "Egois lo!"


"Bukan gue namanya kalau nggak egois." Tawa kecil keluar dari mulutnya. "Gue cuma pengen dapetin apa yang gue mau." sambungnya.


"Sekalipun lo harus ngerusak kebahagiaan orang?"


"Iya, itu salah satunya."


Seseorang hanya menggeleng tak tahu dengan jalan pikir lawan bicaranya ini.

__ADS_1


__ADS_2