Al Dan Karan

Al Dan Karan
65.Terungkap


__ADS_3

"Thanks," ujar Karan


Al mengangguk dan pergi meninggalkan rumah Karan. Perut Karan masih terasa nyeri. Ia tertatih tatih menaiki tangga menuju kamarnya.


'drttt'


Ponsel Karan yang di letakan di nakas bergetar.


'Halo?' sapa Karan dengan nada malas.


'Hai, gimana kabar lo?'


Karan langsung melihat layar ponselnya. Tertera nama cowok yang paling ia benci disana.Karan langsung mematikan sambungan sepihak.


"Gila lo, udah bikin perut gue sakit. Pake acara nanya segala." Karan berbicara sendiri.


Baru saja Karan merebahkan tubuhnya, benda pipih itu kembali menyala. Ada notifikasi dari linenya.


'Istrht yg ckp jngn bnyk gerk'


Karan refleks bangun.Mengucek matanya berkali kali, siapa tau ia salah lihat.Seorang Aldevan sanggat jarang, bahkan tak pernah seperti ini sebelum.


"Eh, gue nggak boleh baper lagi cuma gara gara chat kayak gini."


Karan mengacuhkan pesan dari Al dan kembali tidur dengan seragam yang masih melekat di tubuhnya.


...…...


Sesuai janjinya dengan Farel kini Al, Devan dan Reonal berada di rumah Farel. Tapi yang membuat Al sedikit speechless adalah dengan kehadiran tiga sosok yang tak asing baginya. Nana, Aura & Regan.


"Lo udah siap buat lihat semuanya?" Farel berbasa basi dengan senyum liciknya.


Farel mulai mengotak atik laptopnya, sedangkan semuanya hanya duduk melihat apa yang akan Farel tampilkan di proyektor.


"Al gue harap pikiran lo bakal kebuka setelah ini." Ujar Farel.


"Woi jangan tegang tegang ngapa, serem amat muka lo pada." sahut Reonal.


"Ayangg aku dikacang," rengek Reonal ke Aura


Aura memutar bola matanya malas. "Bodoamat, diem bisa ga si lo."


Reonal hendak bersuara lagi.Tetapi, saat melihat video yang tengah terputar membuatnya mengurungkan niat untuk bercanda.


Hampir semua orang yang berada di ruangan tersebut syok dengan apa yang terputar. Begitupula Al 2X lebih syok dan tak percaya, namun ia tak bisa menyangkal bukti sudah ada didepannya.


Divideo tersebut menampilkan Dean dan Ralina yang tengah berhubungan badan di apartement Dean. Video kedua menampilkan Dean yang berciuman dengan Ralina di ruang osis. Video selanjutnya menampilkan Ralina bersama beberapa cowok yang entah siapa, tengah memadu kasih. Terdapat pula foto foto Ralina bersama Dean dan beberapa cowok. Entah mereka tengah berjalan berdua dengan mesra, atau hal tak senonoh lainnya.


Seorang Ralina yang terkenal lugu, polos dan pintar hanyalah cover saja.Namun, siapa sangka dibalik itu kelakuannya sungguh bejat.


Al masih terdiam, antara percaya dan tidak. Ia benar benar merasa bodoh, ia dikhianati dan dipermainkan oleh gadis yang begitu ia sayangi.Benar apa kata Mamanya, Ralina tak sebaik kelihatannya.


Semua pasang mata menatap Al yang memandang kedepan dengan kosong.Banyak pertanyaan kenapa, serta mengapa di benak Al.


Devon menepuk pundak Al. "Al lo gapapa?"


Alih alih menjawab Al langsung pergi meninggalkan rumah Farel. Pikirannya kacau, hatinya dihancurkan tanpa ampun. Al mengendarai motor dengan kecepatan yang tinggi, menembus jalanan ibu kota.


Al baru melambatkan langkahnya dan menepi ketika seorang cewek mengenakan kaos oversize dan celana pendek hitam berjalan di trotoar sendiri.


"Ngapain lo?" tanya Al to the point


"Kepo banget sih lo." sewot Karan


Al mengedikan bahunya, bersiap akan melajukan kembali motornya. Tetapi, ditahan oleh Karan.

__ADS_1


"Gue anterin dong, ke abang sate yang disana." pinta Karan lembut


"Naik."


Mereka berdua sampai di kedai sate yang dimaksud Karan.


"Loh kok lo ikutan masuk?" tanya Karan heran, tak sadar kalau Al juga ikut masuk.


"Emang nggak boleh?"


"Yaa, bukan gituu-"


"Gue laper." potong Al sebelum Karan nerocos panjang lebar.


Karan duduk di sebuah bangku pojok kedai.Al pun ikut duduk didepan Karan.


"Lo ngapain sih duduk disini, banyak tuh meja kosong?"


"Serah gue."


"Ya bukan gitu anjir, gue males banget kalau harus ribut sama cewek lo, kalau kita ketahuan duduk bareng disini."


"Sans."


"Iye lu bisa sans, sans. Sedangkan gue?" Al menatap Karan datar. "Gue tersiksa woiii."


Al tak bereaksi sama sekali.Masih menatap Karan datar.


"Lo punya ekspresi lain, selain muka datar nggak? kalau punya keluarin, gedeg gue lihat muka datar lo."


Karan kira Al tak meresponnya.Ternyata dugaannya salah, cowok itu menarik bibirnya lebar.Tersenyum.


"Nah kayak gitu aja sampai nanti.Btw lo darimana?"


"Kepo banget si"


Pesanan mereka berdua sudah datang.Mereka memakan makanan masing masing. Tak ada suara obrolan diantara mereka, hanya suara ramai dari para pengunjung.


Ringtone ponsel Al yang di letakan di atas meja berbunyi. Al melihatnya sebentar dan menolak panggilan tersebut. Hatinya kembali sakit, mengingat bagaimana Ralina mempermainkan dirinya.


Baru saja hendak di letakan diatas meja lagi, ponsel Al kembali berbunyi. Terlihat dengan jelas raut jengkel di wajah Al.Tanpa berbasa basi lagi, cowok itu memilih menonaktifkan ponselnya.


"Kenapa nggak diangkat?" tanya Karan penasaran


"Nggak penting."


Karan menebak Al dan Ralina tengah bertengkar. Tapi yang jadi


pertanyaan Karan adalah kenapa Al sampai segininya. Atau, Karan buru buru mengecek ponselnya. Benar saja, ia mendapat satu pesan dari Farel yang entah apa isinya, Karan belum membukanya.


Setelah selesai makan, Karan baru berani mengajukan pertanyaan yang sedari tadi bersarang di kepalanya.


"Al."


Al menarik sebelah alisnya


"Lo.. lo"


"Apa?"


"Lo jelek." Karan tak bisa meluncurkan pertanyaan di kepalanya, seolah tertahan di kerongkongan.


"Dih, lo lebih jelek."


Ralina terkejut ketika melihat pacarnya berangkat sekolah bersama cewek yang ingin sekali ia musnahkan di muka bumi ini.

__ADS_1


Bahkan, mereka saling bercanda satu sama lain. Sebelum akhirnya Karan memisahkan diri menuju sahabatnya.


"Lin, lo kalah deh kayaknya." panas Hera.


Emosi Ralina sudah memuncak, ia tak bisa menahannya lagi. Kedua kakinya ia langkahkan menuju parkiran. Dimana Al bersama sahabatnya berada.


"Aku mau ngomong, ikut aku."


Tanpa banyak bicara Al mengikuti kemana Ralina pergi.


"Gila ya nggak malu apa." kata Reonal sepeninggalan Ralina bersama Al.


"Tau, harga dirinya seribu tiga."


"Kayak ****** di pasar."


Farel menoyor kepala Reonal. "Mana ada seribu tiga, yang ada sepuluh ribu tiga goblok."


"Susu gue."


"Lo punya susu?" tanya Devon polos


"SUKA SUKA GUE, ANJIR."


"Mau ngomong apa, cepet."


"Kamu nggak inget, kemarin aku bilang apa. Aku nggak suka kalau kamu berangkat, pulang atau hal lain yang berhubungan sama Karan."


Al berdecih. "Itu udah nggak berlaku sekarang."


"Kenapa enggak?"


"Karena detik ini juga kita putus."


Seolah di sambar petir di pagi hari. Ralina tak percaya apa yang baru saja Al katakan.


"Enggak, kamu bercanda kan?"


"Serius."


"Tapi kenapa? di sogok apa sih kamu sama cewek murahan kayak Karan. Sampai kamu berubah banget gini."


Al terkekeh. "Siapa yang lebih murahan lo atau Karan?"


"Maksud kamu apa sih. Jelas Karan lah, kamu juga sering bilang kan kalau Karan itu cewek murahan."


"Iya dulu, sebelum gue tau apa yang sebenarnya terjadi. Sekarang gue ralat, lo yang murahan."


"Apasih maksud kamu?" Ralina mengerenyitkan dahinya bingung.


"Hebat ya, lo emang ratu drama. Bersikap seolah olah tak ada apa apa. Gue tau lo hanya manfaatin gue, demi famous, demi uang dan ngejadiin gue sebagai bahan gabut lo, iya?" kata Al penuh emosi di dalam nadanya. "Lo sering ngelakuin hal yang tak senonoh, entah sama cowok lain atau Dean. Dibelakang gue sama Karan, lo juga


ngejalin hubungan sama Dean. So lebih murahan mana, Karan atau lo?"


Ralina diam tak bisa menjawab. Air matanya mengalir membasahi pipinya. Ralina terlalu banyak berpura pura selama ini, mengendalikan Al secara halus.


"Kita putus."


Ralina mencegah langkah Al. "Al gue nggak mau putus dari lo."


Al tertawa hambar. "Sorry gue udah nggak ada rasa sama lo."


Al menepis tangan Ralina yang memegang legannya.Kaki panjangnya ia langkahkan menuju rooftop.Hari ini akan menjadi hari yang melelahkan bagi Al.


Ralina mengambil ponsel di saku seragamnya. Mencari kontak seseorang dan menelponya.

__ADS_1


"Halo, belakang sekolah cepat." ujar Ralina disertai isak tangis.


"Karan, lo lihat aja apa yang bakal terjadi setelah ini." ucap Ralina penuh dendam.


__ADS_2