Al Dan Karan

Al Dan Karan
76. Gelisah


__ADS_3

Hujan tak kunjung reda. Entah sudah keberapa kalinya Karan berdiri menatap langit, kemudian duduk kembali. Al yang melihatnya ikut jengkel sendiri.


"Lo bisa nggak sih duduk aja. Tuh hujan kalau reda juga keliatan."


"Lo bisa nggak sih nggak usah sewot," balas Karan.


Al memilih menutup mulutnya. Debat dengan perempuan seperti Karan hanya akan membuat tenaganya habis.


"Eh tadi lo belum selesai ceritain gue yang lo jadi ojol terus ada jalanan misterius." Karan duduk disebelah Al, bersiap mendengar cerita Al.


Al menepuk jidat Karan. "Bego jangan dipelihara. Gue becanda kali tadi."


Karan berdecak kesal. Padahal dirinya sudah begitu bersemangat mendengar cerita yang akan keluar dari mulut Al.


Terjadi keheningan diantara keduanya. Hanya ada suara hujan yang tengah bercengkrama satu sama lain. Karan menguap lebar. Ia sudah tidak bisa menahan kantuknya. Cewek itu menyenderkan kepalanya di tembok ruko. Keduanya tangannya ia lipat di dada. Matanya yang indah mulai tertutup perlahan.


Al menoleh ketika tak ada lagi suara berisik dari Karan. Rupanya gadis itu tengah tertidur dengan lelap. Al memandangi wajah Karan sebentar, kemudian ia membawa kepala Karan untuk bersandar di pundaknya. Membiarkan gadis itu tertidur lelap ditengah hujan deras.


Al tak bisa menjelaskan apa yang dialaminya. Tetapi, ia merasa semakin kesini, semakin besar perasaannya ke Karan. Ia selalu ingin menjaga dan melihat gadis disampingnya tertawa. Sudah cukup ia menorehkan luka. Tak bisa dipungkiri juga, ada perasaan nyaman dan aman ketika bersama Karan.


"Lo bener bener cewek aneh. Bisa bisanya, lo bikin gue ke makan omongan sendiri." Al terkekeh.


Karan tak tahu sudah beberapa lama ia tertidur. Bahkan, kini sekarang hujan pun sudah reda. Karan menegakkan kepalanya dari pundak Al.


"Udah reda?" tanya Karan polos


Al bergumam.


"Dari tadi?"


Al kembali bergumam.


"Kok lo nggak bangunin gue sih, " gerutu Karan


"Gimana bisa gue bangunin lo, kalau tidur lo aja nyenyak banget." ujar Al sembari beranjak dari duduknya.


Karan meraih tasnya dan mengikuti Al menuju motor.


"Btw, thanks ya pundaknya."


Al terkekeh kecil, "Betah banget lo ya tidur di pundak gue."


Karan memukul punggung Al sedikit kencang. "Dih, biasa aja."


Al menyalakan mesin motornya. "Iya deh biasa aja, tapi tidur nggak bangun bangun."


Senja sudah hilang ke peraduannya. Karan turun dari motor Al. Begitu mereka sudah sampai didepan rumah Karan.

__ADS_1


"Ran."


Sebelum ia memasuki gerbang rumah. Langkahnya di cegat oleh panggilan pelan dari Al.


"Apaan?"


"Lo masih suka sama Dean nggak?"


Karan mengerenyit, kemudian tetawa. Sedangkan Al hanya menunggu jawaban yang akan Karan ucapkan. Bagi Al ini bukan sebuah lelucon, kenapa gadis dihadapannya malah tertawa.


"Gila ya lo. Gue udah di bohongin, yakali gue masih suka dia."


Al mengangguk. "Bagus deh."


Al kembali menyalakan mesin motornya. Tangan Karan menyentuh punggung tangan Al yang berada di stang motor. Membuatnya menoleh kearah Karan.


"Kenapa lo nanya tentang hal ini?"


"Gapapa, gue cuma kepo."


Karan memicingkan matanya curiga. "Tumben?"


Alih alih menjawab, justru Al langsung melajukan motornya. Sambil tersenyum kecil. Senyum yang tak bisa Karan lihat. Karena tertutup oleh helm.


"Aneh," gumam Karan.


"Oneng, tumben lo pesen chesee cake segala." kata Devon ketika chesee cake pesanan Reonal datang.


"Calon pacar gue suka cheese cake, nah karena gue udah cinta pandangan pertama sampai ke seratus. Gue mau nyoba, tau aja gue suka dan akhirnya kita punya kesamaan deh. Sama sama suka chesee cake." jelas Reonal panjang lebar.


"Bucin sama bego beda tipis kayaknya."


"Lo jomblo diem aja sih." protes Reonal.


Farel menoyor kepala Reonal yang disebelahnya. "Lo juga jomblo Udin."


"Otw gua mah."


"Dari dulu otw mulu lo. Padahal, udah keliatan tanda tandanya kalau si Aura nggak suka lo." kini Al ikut angkat suara mengomentari hubungan sahabatnya.


"Yee.. lo juga nggak jelas."


"Lo berdua sama sama nggak jelas." ledek Devon.


Al mengesah panjang. Ia menaruh gelas minumannya.


"Gue mau ngejelasin hubungan gue sama Karan. Tapi, gue masih ragu."

__ADS_1


Farel menepuk punggung Al. "Apa lagi yang lo raguin. Toh lo udah benar benar sayang sama dia."


Devon dan Reonal mengangguk, menyetujui pernyataan Farel.


"Tapi dia? apa dia masih sayang sama gue, setelah gue perlakuan kayak dulu?"


Hening tak ada jawaban


Mata Al tertuju ke satu persatu sahabatnya. Al mengusap wajahnya gusar. Ia tak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang.


"Gue nggak mau kehilangan dia."


"Al, daripada lo cuma bisa menebak nebak gini. Mending lo tembak dah." saran Devon gemas.


"Mati dong kalau ditembak."


Farel dan Devon menatap Reonal kesal. Tak tahu waktu untuk bercanda.


"Nggak lucu." sinis keduanya.


"Gue setuju sama saran Devon. Dari situ lo bisa tau, Kalau Karan juga cinta sama lo he said yes."


"Kalau enggak?"


"Nah, disini lo nggak boleh egois. Kalau dia enggak ngebalas perasaan lo. Artinya lo harus biarin dia pergi. Biarin dia nyari sumber bahagianya sendiri. Meskipun itu bukan lo." tutur Farel panjang lebar.


Al mencerna matang matang setiap perkataan Farel. Dia akan begitu bahagia jika Karan memilih opsi satu dan jika Karan memilih opsi dua sepertinya harus ada cinta yang di biarkan pergi.


"Nah sekarang, lo tembak Karan gih."


Devon mengeplak kepala Reonal.


"Gue salah apa sih, kan bener." protes Reonal tak terima.


Farel yang mendengar hanya memijat pelipisnya. Entah bagaimana bisa ia berteman dengan orang seperti Reonal.


"Ya nggak se instan itu juga. Biarin Al mikir dulu. Lo sono nembak Aura."


"Besok deh gue tembak dia." jawab Reonal tanpa beban.


Reonal kini menjadi sorotan ketiga sahabatnya.


"Serius lo?" tanya Farel


"Iyalah, biar gue nggak jomblo lagi."


nunggu Al nembak Karan ya? bentar lagi kok wkwk

__ADS_1


__ADS_2