Al Dan Karan

Al Dan Karan
73. Al with Karan


__ADS_3

"Jawabannya yang C."


Karan mendongak melihat Al datar dihadapannya. Bukannya menjawab seperti apa yang ditunjukan Al. Karan lebih memilih menjawab B.


"Gue yakin kalau jawabannya B."


"Serah lo," Al melanjutkan perjalanan menuju tempat duduknya.


Nana yang baru datang langsung duduk disamping Karan. Menyenggol lengan cewek tersebut. Membuat yang disenggol mengumpat pelan.


"Lo hutang cerita sama gue dan Aura."


Karan menghela nafas panjang, "Hutang cerita apa?"


"Lo sama Al ada apa?"


"Ga ada apa apa."


"Bohong, seantero sekolah juga tahu kalau lo pacaran sama dia." sergah Nana


Karan langsung menutup mulut Nana. "Stop it."


"Naaa.. dengerin gue. Itu cuma pura pura bukan real," terang Karan menahan emosi.


Baru saja Nana akan membantah, tetapi notifikasi singkat dari ponsel Karan membuat keduanya terdiam.


Karan mengambil ponselnya, ada satu notif chat dari cowok yang baru saja berbicara dengannya.


Al: Kalau nanti jawaban yang gue jawab gue bener, temenin gue futsal sore nanti.


read.


"Darisiapa?"


"Lo kayaknya cocok jadi wartawan na," Karan beranjak dari duduknya dan keluar kelas.


...…...


Disinilah Karan berada. Disebuah lapangan indoor khusus untuk futsal. Sudah beberapa menit Karam duduk sambil memperhatikan Al yang tengah bermain. Sesekali ia juga nampak sibuk meng-scroll medsosnya


"Ran," seseorang dengan suara yang tak asing memanggil Karan.


Karan tak menoleh, sudah bisa dipastikan bahwa pemilik suara itu adalah seorang cowok yang Karan benci.


"Ngapain lo kesini?"


Karan diam saja tak menjawab, matanya tetap berkutat dengan ponsel di tangannya.


"Ran, lo cewek bego yang pernah gue temuin. Asal lo tau, Al nggak benar benar suka lo. Apa lo nggak inget bagaimana dulunya lo dibuang sama dia." tuturnya "Ayolah ran, jadi cewek jangan murahan gini."


Bugh!

__ADS_1


Pukulan dari belakang mengenai Dean dengan tepat sasaran.


Disinilah Karan berada. Disebuah lapangan indoor khusus untuk futsal. Sudah beberapa menit Karam duduk sambil memperhatikan Al yang tengah bermain. Sesekali ia juga nampak sibuk meng-scroll medsosnya


"Ran," seseorang dengan suara yang tak asing memanggil Karan.


Karan tak menoleh, sudah bisa dipastikan bahwa pemilik suara itu adalah seorang cowok yang Karan benci.


"Ngapain lo kesini?"


Karan diam saja tak menjawab, matanya tetap berkutat dengan ponsel di tangannya.


"Ran, lo cewek bego yang pernah gue temuin. Asal lo tau, Al nggak benar benar suka lo. Apa lo nggak inget bagaimana dulunya lo dibuang sama dia." tuturnya "Ayolah ran, jadi cewek jangan murahan gini."


Bugh!


Pukulan dari belakang mengenai Dean dengan tepat sasaran.


Karan langsung berdiri menarik tangan Al untuk menghentikan aksinya. Namun, tak diindahkan oleh Al. Justru cowok itu menarik kerah baju Dean yang tengah terkapar.


"Jaga mulut lo, gue nggak sebejat lo. Dan asal lo tahu, gue sayang Karan bukan main main seperti apa yang lo lakuin ke dia." kata Al dengan emosi yang sudah naik ke ubun ubun.


Sadar tengah menjadi pusat perhatian anak anak basket yang lain. Karan langsung menarik Al untuk keluar gedung. Kemudian memberikan cowok itu air minum.


Al duduk di kursi samping Karan. Meneguk minuman itu sampai habis.


"Makasih dan jangan lagi."


"Gue nggak bisa."


Karan mengerenyitkan dahinya mendengar jawaban Al yang begitu tegas.


"Gue nggak bakal tinggal diem, ketika lo di jelek-jelekin didepan gue atau ketika ada orang yang berani nyakitin lo. Gue nggak bakal diem, terutama cowok sialan itu."


Perasaan hangat menjalar ke tubuhnya. Karan merasa seperti dijaga dan dilindungi dengan baik oleh Al. Seolah tak boleh ada satupun yang membuatnya retak.


Mata Karan dan Al bertemu cukup lama. Saling melihat keseriusan di masing masing maniak.Al mengambil tangan Karan dan menggengamnya.


"Makasih, lo udah pernah cinta sama gue. Sekarang, gantian gue."


Karan tak mampu berkata kata yang bisa dilakukan hanya menunduk.


"Gue denger lo habis berantem sama Dean tadi?" tanya Devon


Farel dan Reonal yang sibuk bermain ponselnya ikut menatap kearah Al yang menyenderkan kepalanya di kasur.


"Hm."


"Masalah apa lagi? Karan?"


"Iya."

__ADS_1


Farel menepuk pundak Al. "Lo beneran suka sama Karan?


Al membuka matanya, lalu menatap Farel dengan tampang yang begitu yakin.


"Iyalah, gila kali lo kalau gue becanda."


"Sans boss," sahut Reonal. "Kalau beneran suka, kapan dong di jedornya?"


"Tau nih, gak sabar gue makan ditaraktir."


"Lo pada kalau ngomong gampang banget." sinis Al.


"Iyalah tinggal ngomong doang," balas Farel.


Al kembali menyederkan kepala dan memejamkan matanya. Bayangan wajah Karan nampak begitu jelas seolah ada dihadapannya.


Matahari berdiri disinggah sana. Hiruk pikuk ibu kota masih sama seperti biasanya. Hari ini adalah hari kebebasan, dimana setiap orang bebas dari tugas sekolah dan perkejaan untuk sementara. Hari yang selalu dinanti nanti. Terutama Karan.


Disetiap hari Minggu, ia tak pernah lupa untuk mengunjungi makam Papanya. Seperti yang gadis itu lakukan sekarang.


Karan hampir tak mengenali makam Papanya begitu disekitar makam ditumbuh berbagai macam bunga. Diatas makam Papanya juga ada bunga yang masih segar. Karan pikir bukan Mamanya, karena Mamanya masih dirumah.


"Selamat Pagi Pa, Karan cantik kesini lagi."


Karan mengusap nisan Papanya lembut. Menceritakan kebahagiaan yang kini seolah berpihak kepadanya. Kebahagiaan yang di dapat dari sebuah cowok dingin bernama Al.


Ketika nama Al Karan sebut. Seketika dirinya ingat dengan percakapan mereka berberapa Minggu lalu disini.


Beberapa hari lalu Karan dan Al sengaja mengunjungi makam Papa Karan dan Kakek Al kebetulan disini juga.


"Lo tau, saat gue denger berita tentang kepergian Papa gue. Rasanya dunia gue runtuh, mimpi yang gue bangun seolah hancur berantakan."


Al mengenggam tangan Karan disebelahnya.


"Semenjak kematian Papa, Mama jarang bicara sama gue. Mama ngurung diri di kamar dan ia terus bekerja tanpa istirahat. Untuk mengalihkan rasa sakitnya. Begitu juga gue, Karan yang dulunya sebagai anak penurut berubah jadi Karan yang nakal, suka bolos dan gue dengan sengaja selalu nyari masalah."


Karan menyeka air matanya yang turun dengan deras.


"Udah nggak usah diusap, biarin aja." kata Al lembut.


"Gue kehilangan sosok Papa. Dulu Papa Gue begitu suka bunga dan burung. Tiap sore,dirumah gue yang lama. Kita selalu nikmatin waktu bersama di belakang rumah yang isinya Bunga dan burung. Cerita tentang hari masing masing. Tapi, itu dulu."


Al membawa Karan dalam dekapannya. Mengelus rambut Karan lembut.


Jadi bisa dipastikan yang menanam bunga di makam Papanya adalah Al.


"Pa, Al habis dari sini ya? dia cerita apa sama Papa?"


Karan tahu, tak mungkin untuk Papanya merespon pertanyaan barusan.


 

__ADS_1


HAI GUYS JANGAN LUPA BACA CERITA BARUK. (FAKE NERDY GRIL)


__ADS_2