Al Dan Karan

Al Dan Karan
34.Menyimpan luka


__ADS_3

Karan berharap malam ini hujan deras.Ternyata, semesta berkata lain.Malam ini adalah malam yang benar benar tenang, disertai bulan sabit diatas sana.


"Ran." Panggil Dean sambil menyetir mobilnya.


"Iya yan,kenapa?"


"Kok diem aja."


Karan berusaha tersenyum. "Lagi kurang mood ngomong gue malam ini."


"Tapi kalau sama Al jadi mood." Pancing Dean


Karan memukul pelan pundak Dean. "Berhenti ngomongin dia.Gue males denger namanya."


"Yakin males? kemarin disekolah aja bisa barengan telatnya." Dean tertawa mengejek.


"Cemburu?"


"Kalau boleh jujur, iya sih.Tapi nggak ada hak."


Karan tau itu kode dari Dean, tapi gadis itu berpura pura mengabaikannya. Menganggap hanya sebagai lelucon belaka.Nyatanya sampai detik ini Karan masih banyak berharap kepada Al.


.........


Al mengerenyitkan dahi saat melihat Dean dan Karan diseberang sana.Mereka berdua tengah makan malam.Semakin kesini,Al merasa mereka berdua menjadi semakin dekat.Al pula dibuat bingung oleh perasaanya sendiri.

__ADS_1


"Eh, Al itu bukannya Karan sama Dean?" tunjuk Ralina dengan dagunya.


"Iya, nggak penting Lin."


"Yakin nggak penting?" goda Ralina


Al mengangkat sebelah alisnya. "Iya."


"Kalau disuruh milih, lo milih Karan apa gue?"


"Pertanyaan macam apa ini, jelas lo lah." Jawab Al yakin.Tapi tidak untuk dihatinya, karena jawaban di hatinya tak seyakin itu.


Ralina tersenyum puas.Dia merasa bahwa memang dirinya lebih baik daripada Karan.


Mereka duduk tak jauh dari Karan dan Dean.Mata Al dan Karan sempat bertemu, walau dengan sepihak Al memutuskan kontak mata.Tampaknya, Al benar benar bahagia jika Karan menjauhinya.Terlihat saat ini, Al menatap Ralina dengan tulus, tersenyum ketika Ralina bercerita dan mengusap kepala Ralina penuh kasih sayang ketika gadis itu menyenderkan kepalanya di pundak Al.


"Coba gue yang jadi Ralina." Batin Karan


"Ran,lo ngeliatin mereka?" tanya Dean mengagetkan


Karan yang merasa tertangkap basah tengah menatap Al dan Ralina segera menggelang cepat.


Dean terkekeh, menyembunyikan rasa cemburunya. "Nggak usah bohong kali Ran."


Karan hanya diam tak membalas ucapan Dean.Pandangannya terfokus kedepan,menampakan layar yang akan memutar film.

__ADS_1


"Ran." Panggil Dean lembur


Karan menoleh kearah Dean.Cowok itu menghela nafas panjang.Mata Dean menatap sendu Karan.


"Lo boleh suka sama seseorang,lo boleh jatuh cinta sama seseorang.Tapi,saat perasaan lo nggak dihargai.Disitu lo harus mundur.Lo nggak kasihan sama diri lo sendiri?"


Karan kembali menatap hampa ke depan."Gue capek.Tapi,gue nggak bisa." Ucapnya Parau


Dean memeluk Karan."Lo bisa Ran.Ada orang yang cinta sama lo yang bisa menghargai perasaan lo.Tapi lo selalu nutup mata."


Karan masih terdiam di pelukan Dean.Karan tidak membalas,tidak juga menolak pelukan Dean.


"Kalau cinta udah bikin lo sakit.Itu udah bukan cinta namanya." Ujar Dean.


"Gue bego banget ya Yan?" tanya Karan dengan nada yang pelan


"Iya Ran,lo bego,karena cinta sama orang yang nggak mau dicintai sama lo."


Karan terdiam membisu, meratapi ucapan Dean barusan.


Entah mendapat panggilan dari mana.Al menoleh kebelakang dan mendapati Dean yang memeluk Karan.Dean menatap Al penuh kebencian.Sedangkan yang ditatap memilih acuh tak acuh.


Fokus Al bukan pada film yang tengah berputar sekarang.Tapi,pada Karan.Dia ingin bisa berbicara dengan Karan seperti kemarin.Mendengarkan setiap ocehan yang keluar dari mulut Karan.


Dia merindukan gadis yang tengah di dekap oleh orang lain.Gadis yang di tenangkan oleh orang lain.

__ADS_1


__ADS_2