
"Makasih ya pak." ujar Karan kepada abang gojek.
Hari ini sengaja ia tak membawa mobil sendiri.
Kaki jenjangnya memasuki gerbang.Para siswa siswi berseragam putih abu abu tampak hilir mudik kesana kemari.
Dua menit lagi bel masuk akan berbunyi.Bukannya ke kelas Karan malah berjalan ke arah kantin untuk membeli roti dan sekotak susu.
"Hai, ran!" sapa Dean
"Oh, hai.Lo udah baikan emang?"
"Udah dong, bosen gue lama lama di rumah mulu." keluh Dean. "Kalau di sekolah kan bisa ketemu sama bidadari."
"Alah gombal mulu lo."
Dean terkekeh pelan. "Lo mau bolos ya?"
Karan memukul pelan lengan Dean. "Enak aja, gue habis dari kantin.Udah ya gue mau masuk ke kelas dulu."
"Iya, belajar yang rajin."
Dean mengacak-acak rambut Karan.Sebelum ia meninggal Karan.Karan hanya diam, kemudian pergi melanjutkan perjalanannya ke arah kelas.
"Iya, kayaknya Karan udah move on deh dari Al."
"Bukan kayaknya.Emang udah, sekarang dia lagi deket sama Dean deh."
"Cewek cantik mah bebas ya milih yang mana aja."
"Jijik gue lihat tu cewek.Nggak cukup satu cowok kayaknya.
"Sumpah iya, kayak cabe banget."
"Lo ngomongin dia karena lo iri kan sama dia." sahut Al dari belakang gerombolan cewek yang duduk di taman.
"Lo iri kan karena nggak secantik dia?iri karena nggak bisa kayak dia?" sinis Al.
"Nggak ada yang lebih najis selain mulut lo semua.Cabe kok teriak cabe, ngaca sana." omongan Al seperti pisau yang menghunus.Dengan tak bersalah cowok itu pergi meninggalkan taman.
Dia tidak suka dengan cewek seperti itu.Cewek munafik yang didepan orangnya memuji muji, tetapi di belakang layaknya ular.Ada sesuatu hal yang tak Al sadari ketika seseorang menjelek jelekan nama Karan.Al merasa tak terima.
Bel istirahat berbunyi tiga menit lalu.Tetapi, Karan bersama kedua sahabatnya baru hendak ke kantin sekarang.Sebab Karan menunggu kedua sahabatnya menyalin jawaban dari bukunya.
Mereka memilih tempat duduk di tempat biasa.Dekat jendela yang berhadapan langsung dengan lapangan basket.Di luar tengah mendung, sebentar lagi hujan deras akan turun.
Dean melambaikan tangannya ke arah Karan.Karan membalas dengan senyuman.
"Cieee..". goda Aura tersadar
"Apaansih lo."
"Ada apa nih kok cie cie."
"Tau nih si Aura."
__ADS_1
"Ye, emang nggak pernah jelas tuh anak satu." bisik Nana kepada Karan.Namunmasih bisa didengar oleh Aura.
"Gue denger anjir."
Saat mereka bertiga tengah menyantap makanan di hadapannya.Cowok dari IPS-2 bernama Gio datang menghampiri.
"Karan mana Karan?"
Sontak ketiganya langsung menoleh ke sumber suara.
"Kenapa?" tanya Karan
"Ikut gue." ajak Gio
"Hah? kemana?"
"Ikut aja."
Karan beranjak dari duduknya.Sebelumnya, ia meyakinkan kedua sahabatnya untuk tidak khawatir.Melalui kode mata.
Karan mengira Gio akan mengajaknya ke tempat yang tertutup.Untuk membicarakan hal privasi.Tapi, dugaannya salah.Gio membawa Karan di lapangan basket, ditempat Dean bermain berberapa menit tadi
"Lah si Gio kenapa ngajak Karan ke lapangan?" Tanya Nana kepada Aura.
Aura mengangkat bahunya tak mengerti.
Lapangan kini terlihat kosong.Tak ada satupun anak basket yang berada di sini.Mungkin, faktor mendung juga.
"Terus Lo ngapain ngajak gue kesini?" tanya Karan bingung
"Ya enggak tau lah, lo yang ngajak juga."
Gio mengangguk. "Sekarang, coba lo lihat ke belakang."
Sesuai perintah Gio, Karan menoleh kebelakang dan melihat Dean disana bersama sebuket bunga.
Dean mendekat ke arah Karan.Sedangkan Karan dibuat bingung sekaligus takut.Apakah harus secepat ini untuk dia membuka semuanya.
Dean memegang tangan Karan dan berlutut di depannya.Tangan sebelahnya Dean gunakan untuk menjulurkan sebuket bunga.Karan benar benar menahan nafas di posisi tersebut.
"Buset itu latihan drama buat pentas seni atau gimana?" celetuk Reonal ketika melihat adegan di lapangan basket.
Ucapan Reonal membuat Devon, Farel, Al dan Ralina mengikuti arah pandang Reonal.Al dibuat kaget dengan itu, bisa dipastikan Dean akan menyatakan perasaannya.Al langsung menatap keduanya dengan pandangan yang sedikit berbeda.Terselubung harapan dalam hati Al agar Karan tak menerima cinta Dean.
Para murid yang semula tenang di kantin.Kini berlarian memadati tepi lapangan.Ponsel ponsel sudah terangkat untuk merekam momen tersebut.Mengingat, kini mereka hidup di zaman milenial.Sorak sorai heboh bersahut sahutan.
"Ran, gue tahu ini terlalu cepat buat lo.Tapi, gue nggak bisa nahan semuanya.Gue bener bener sayang sama lo, so will you be mine?"
"OMG NA!" heboh Aura di samping Nana
Nana menutup mulutnya sama terkejutnya dengan Aura.
"Terima!"
"Terima!"
__ADS_1
"Say Yes ran!!"
"Terima!"
Sorakan heboh dimana mana.Mendukung Karan untuk menerima pernyataan cinta dari Dean.Para murid yang semula berada di dalam kelas, sekarang ikut bersorak sorai
Tadi, Al tak mau keluar dari kantin hanya untuk menyaksikan hal seperti ini.Tetapi, Ralina berserta sahabatnya memaksa jadi dengan terpaksa dia ikut.Disinilah Al berada, di ujung lapangan.
Sebenarnya ada alasan lain mengapa Al tak mau ikut menyaksikan.Karena, Al tak siap untuk merasakan perasaan aneh di hatinya lagi.Sepanjang Karan diam, sepanjang semuanya bersorak sorai.Al hanya diam, berharap semoga Karan tak menerimanya.
Karan semakin dibuat bingung sekarang.Karan belum siap.Saat Karan hendak menolak Dean, mata hitamnya bertemu dengan mata Al.Omongan Al yang menyakitkan kembali meraung raung di kepalanya.
Karan memejamkan matanya, kemudian membukanya lagi. "Yes i will."
Dean melotot tak percaya.Cowok yang mengenakan baju basket itu langsung berdiri dan memeluk Karan.
Para penonton bersorak sorai dengan heboh.Sebagian para siswi ikut baper menyaksikannya.Begitupun Aura dan Nana.Terkecuali, hanya Al yang menatap Dean dan Karan datar.Tak ada yang tahu sebenarnya Al menahan cemburu di dalamnya.
"Akhirnya Karan jadi sama Dean." kata Ralina
Al mengangguk tanpa ekspresi dan meninggalkan lapangan menuju kelasnya.
"Eh dia kenapa?"
Ralina mengedikan bahu tak tahu.Kemudian ikut pergi meninggalkan lapangan mengejar Al.
"Ayang, soon ya." teriak Reonal kepada Aura yang tak jauh dari tempatnya.
Aura membuang muka malas, menarik Nana untuk pergi dari situ.
"Yah, ayang pergi." kata Reonal kecewa
"Emang dari awal Aura nggak mau sama lo bego.Sadar diri aja kek." sahut Devon
"Tau tuh, maksa banget."
"Bacot lo berdua." sinis Reonal
"Makasih ya ran, aku nggak nyangka Kamu bakal nerima aku."
Karan mengangguk.Kini merek berdua ada di kursi koridor, sambil menunggu bel masuk.Sembari menikmati semesta yang tengah mengeluarkan tangisnya.
Karan harap semoga keputusannya tak salah.Tak bisa dipungkiri, masih ada ruang kecil di hati Karan untuk Al.Tetapi, sebisa mungkin Karan akan benar benar menghilangkannya sampai bersih.Sampai, tak ada ruang untuk Al.Sudah semestinya Karan mengganti semua tentang Al menjadi Dean.
Dean mengambil tangan Karan dan menggengamnya.
"Ran, aku tau kamu masih ada sedikit perasaan kan buat Al."
Karan diam tak menjawab hanya menatap mata hitam Dean.
"Kamu nggak perlu khawatir, Aku bakal bantu Kamu buat hilangin perasaan Kamu yang masih tersisa buat Al.Kamu juga harus berusaha." kata Dean "Percuma Aku berusaha menghapusnya tapi, kamu masih berusaha mendekapnya." lanjutnya.
Karan menundukkan kepalanya.Apa yang dikatakan Al ada benarnya.Tak seharusnya Karan masih mendekap perasaan tersebut.
"Maaf, aku bakal berusaha."
__ADS_1
Dean menarik dagu Karan untuk mendongak.Sudut bibirnya tertarik dan mengusap rambut Karan halus.