
Tak ada yang spesial dengan hari Karan.Semuanya terasa sama saja.Sudah tiga hari ini Dean belum masuk sekolah, serta sudah tiga hari ini juga dia sering melihat Ralina di rumah Al.
Al: Nanti malam nyokap nyuruh lo buat makan malam dirumah.Sekalian, nyokap lo ajak
Karan: Sorry gua sibuk, nyokap blm pulang.
Al: Buat kali ini aja lo iyain permintaan nyokap gue.Gue nggak mau bikin dia kecewa
Karan: Ok
Karan melempar ponselnya ke kasur.Matanya menatap ke luar jendela.Senja terhias indah di langit Jakarta.Bak lukisan, itu cukup untuk membuat Karan merasa sedikit tenang dan terhibur.
Ponsel Karan kembali berdering.Membuat Karan mau tak mau berdiri dari duduknya.
"Iya, halo ma?" sapa Karan.
"Halo sayang, nanti kamu makan malam di rumah tante Lelita aja ya.Mama pulang malam soalnya."
"Iya, ma.Mama jangan lupa makan malam ya."
"Iya sayang, yaudah Mama mau selesain kerjaan Mama dulu."
Panggilan terputus oleh Mirna, Mama Karan.Karan mengesah panjang.Terkadang, ia merasa bersalah kepada Mamanya.Sekaligus ia berterima kasih telah diberi Mama seperti Mirna.Demi Karan, Mirna berjuang mati matian.
••••
Di tempat lain, seorang cewek dengan rambut terurai sedang duduk di pinggir danau sembari melamun.Pikirannya sedang kacau.Ia juga membutuhkan penenang.
Sampai tak sadar bahwa sedari tadi ada seorang cowok yang mengintainya diam diam.Saat cewek itu lengah.Barulah cowok itu berulah.Cowok dengan tato di sekujur lengannya itu dengan sigap langsung mengambil tas cewek tersebut.
Cewek itu langsung berdiri dan meminta tolong.Ia mengejar preman tersebut sendiri.Berhubung tak ada seorang pun disini, karena sudah petang.Tak seramai tadi.
"Tolong!!" teriak Nana sambil berlari sekuat tenaga.
Nana hampir menyerah ketika tiba tiba ia melihat ada seorang yang masih mau menolongnya.Cowok yang tak asing di matanya tengah berkelahi dengan preman yang membawa tasnya.
Nana mengatur napasnya terlebih dahulu.Sebelum ia mendekat untuk mengambil tasnya yang terlempar tak jauh dari tempatnya berdiri.
Cowok yang menolong Nana langsung mendekat ke arah Nana dan memeluknya, ketika preman tersebut sudah pergi.
Dengan sekuat tenaga Nana mendorong tubuh cowok itu menjauh darinya.
"Makasih buat kali ini dan gue duluan."
Tangan Nana di tahan oleh cowok yang bernama Regan,berstatus sebagai mantannya.
"Na," panggil Regan lembut.
Nana menyentakan tangannya agar terlepas.Tetapi, nihil.Tenaga Regan lebih besar daripada dirinya.
"Lo mau apa lagi sih?" bentak Nana
__ADS_1
"Gue mau lo dengerin gue dulu." pinta Regan
"Apa yang harus gue dengerin dari lo? drama lo? atau kabar tenang anak yang di kandung Fely?" kata Nana tajam. "Tapi, sorry gue nggak minat buat dengerin itu semua."
"Gue sayang lo." hanya tiga kata yang mampu keluar dari mulut Regan.
Nana kembali menyentakan tangannya dan kini ia bisa terlepas dari cekalan Regan.
Nana tertawa meremehkan.Menganggap seolah itu lelucon yang terdengar hambar.
"**** you." Nana mengacungkan jari tengahnya dan pergi meninggalkan Regan begitu saja.
"Na, kapan lo bisa maafin gue? kapan kita bisa ngobrol seru kayak dulu Na?gue kangen Lo " gumam Regan kepada angin malam yang berhembus pelan membawa Nana menjauh dari pandangan matanya.
Nana terus berjalan.Tak mau menoleh kebelakang sama sekali.Air matanya pun ikut meluncur begitu saja.Seiring dengan langkah kakinya.Kejadiannya sudah lama, tapi sakitnya masih terasa sampai sekarang.Orang orang yang dia percaya mengkhianatinya semua.Dia di pojokan oleh situasi, di pandang sebelah mata oleh orang orang.Serta, dianggap tak ada.
••••
Karan berdiri di depan cermin kamarnya.Malam ini Karan mengenakan dress putih selutut dan membiarkan rambutnya di urai begitu saja.
Kalau bukan karena Tante Lelita.Karan tak mau repot repot kesana.Setelah merasa sudah siap semua.Gadis itu beranjak meninggalkan kamarnya dan segera menuju rumah Al yang bisa ditempuh hanya dengan jalan kaki.
Karan telah sampai didepan pintu rumah Al.Sebelum mengetuk pintu Karan menetralisir jantungnya yang tiba tiba seperti lari marathon.
Tok...tok..
Tak lama pintu pun terbuka.Senyum dibibir Karan seketika hilang.Tatapannya berubah menjad dingin.Begitupula dengan Ralina yang membukakan pintu untuk Karan.
Karan tersenyum miring. "Gue?dapat undangan khusus lah dari calon tante mertua.Eh, ups.Maaf gue udah nggak minat sama Al lagi sih."
Setelah mengatakan itu Karan meninggalkan Ralina terlebih dahulu.Sudah bisa dipastikan bagaimana ekspresi kesal Ralina sekarang.
"Hai Tante," sapa Karan ketika sampai di ruang makan.
"Oh, hai sayang." Lelita langsung memeluk Karan hangat.
Mood Ralina turun drastis ketika melihat Karan ada disini.Ralina pikir mereka makan malam bertiga, ternyata ada tamu penganggu lagi disini.Al acuh tak acuh dengan kedatangan Karan.Cowok itu menggandeng Ralina untuk duduk di sampingnya.
Setelah berbasa basi dengan Lelita.Kini Karan mengambil duduk di samping Lelita dan berhadapan langsung dengan Al.
"Ayo makan..makan." ajak Lelita kepada penghuni meja makan yang tak lain tak bukan Al, Ralina dan Karan.
"Karan nih makan yang banyak.Tante sengaja tau beli ini buat kamu.Karena ini makanan favorit kamu kan." tunjuk Lelita ke arah ketoprak
"Tante tau aja." Karan dengan sengaja milirik ke arah Ralina.
"Iya dong, Tante udah hafal betul gimana kamu." ujar Lelita. "Eh, sayang banget ya Mirna nggak ikut."
"Mama sibuk banget Tante, taulah gimana."
Lelita mengangguk sambil tangannya mengambil nasi untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
"Karan kalau kamu butuh apa apa jangan sungkan buat bilang ke Tante sama Al ya."
Al mendongak sekilas kala namanya disebut.Ralina pun begitu.Ingin rasanya dia membanting sendok yang di genggamanya.Tetapi, itu hanya akan membuat dirinya buruk dimata Mama Al beserta Al.Ralina tetap berusaha sabar, meskipun ia merasa tak dianggap keberadaan ya disini.Padahal pacar Al adalah dia, tapi yang Lelita istimewakan justru Karan.
Oh iya, Ralina satu kelas juga sama Al dan Karan?" tanya Lelita.
"Enggak Tante, Ralina beda kelas sama mereka."
Lelita ber-oh ria.
"Btw,Ma.Ralina wakil ketua osis di sekolah." Akhirnya Al kini berusara.
"Oh, ya?wah."
Ralina tersenyum canggung.
"Kamu Karan, kamu masih ikut dunia modelling?" tanya Lelita sebelum memasukan makanan ke mulutnya.
"Udah lama enggak Tante.Tapi, kayaknya dalam waktu dekat ini Karan mau memulai lagi deh."
'Yaelah, modal muka doang.Otak mah kosong.' cibir Ralina dalam hati
"Emang disayangkan banget sih.Kamu berbakat di dunia model, tapi kamu malah milih keluar."
"Nah, sekarang Karan mau masuk lagi Tante."
Ralina menjadi tak nafsu makan.Karena dari tadi Lelita hanya tertarik dengan cerita dan berbagai hal tentang Karan.Bukan dirinya.
"Kamu udah punya pacar Ran?" tanya Lelita tiba tiba
Karan refleks menoleh kearah Lelita.
"Duh, Tante.Enggak, Karan belum punya pacar."
"Padahal cewek kayak kamu pasti banyak yang suka."
"Aku pernah suka cowok.Tapi, cowok itu nggak suka aku balik.Cowok itu lebih milih cewek lain yang menurut dia terbaik.Cowok itu belum tau aja si, keburukan pacarnya gimana."
Al dan Ralina seperti tengah disindir secara halus oleh cerita Karan tersebut.Tangan Ralina gatal sekali ingin melempar pisau di hadapannya ke mulut Karan.
"Wah, bego sih cowoknya udah nyia-nyiain cewek kayak kamu."
Karan mengangguk menyetujui ucapan Tante Lelita.
"Udah cari yang lain aja yang lebih baik dari dia.Pasti cowok yang nyia-nyiain kamu itu bego, fakboi, brengsek gitu kan.Udah jangan.Biarin dia mampus sama cewek ularnya."
Karan tertawa kecil tetapi sanggat puas.Sedangkan Ralina refleks menatap ke arah Al.Al menatap Mamanya datar seperti biasa.Tanpa Mamanya sadari, ia tengah membicarakan anaknya sendiri.
"Ya gimana lo nggak dijauhin sama cowok itu.Kalau lo murahan banget." kata Al tajam
cieee di gantung, tunggu new eps yaa wkwk
__ADS_1
oh, iya gimana pada mau dibikinin grub chat nggak nih?comment yaaa