Al Dan Karan

Al Dan Karan
72.Ingkar


__ADS_3

"Lo jahat, lo dulu pengin banget gue pergi dari hidup lo dan sekarang, gue udah pergi lo minta gue buat balik." Ucap Karan sambil terisak.


"Al..kenapa gue nggak pernah bisa benci sama lo, kayak apa yang lo lakuin ke gue?"


Al diam saja, mulutnya membisu, pikirannya berkelana tatapannya lurus kearah Karan.


Karan tersenyum kecil, jarinya menunjuk didadanya, dengan air mata yang masih berlinang. "Lo tau Al? rasanya masih sakit sampai saat ini, lukannya nggak pernah bisa hilang meskipun udah gue coba hilangin."


Al menangkup pipi Karan kemudian mengusap air matanya dengan lembut. "Maafin gue, mungkin kata maaf dari gue nggak berarti apa apa buat lo. Ran, gue bersedia buat nyembuhin luka luka lo."


Karan tak membuka mulutnya lagi untuk bersuara. Matanya beratapan dengan mata hitam Al yang malam ini tak seperti biasanya. Al membawa Karan kedalam pelukannya. Perasaan bersalah begitu besar tetapi cinta Al kepada Karan juga tidak kalah besar.


"Sekarang, gue cuma pengin lo bahagia." bisik Al.


'Gue harap apa yang lo omongin barusan, bukan cuma sekedar kalimat penenang.' jawab Karan dalam hati


...…...


Al menoleh kesana kemari. Dia tidak menemukan sosok cewek yang tak lain tak bukan adalah Karan. Padahal biasanya jam segini dia sudah datang kesekolah.


"Lo ngapain sih? kayak maling aja celingak-celinguk." sewot Reonal b


"Ck, diem."


"Tuhan udah ngasih gue mulut buat bicara, yakali gue anggurin. Emang lo."


Devon mengeplak kepala Reonal disebelahnya. "Ya nggak gitu goblok."


"Au ah pasti gue salah mulu, mau nyamperin ayang Aura aja."


Al mengerenyit heran dia makin dibuat penasaran. Bagaimana tidak, kedua sahabat Karan sudah datang. Sedangkan, Karan daritadi tidak memunculkan batang hidungnya.


Al beranjak dari duduknya menghampiri Aura dan Nana.


"Ra, Na," panggil Al.Reonal yang tengah berbicara dengan Aura ikut menoleh.


"Ngapain lo kesini, ini ayang gue." sinis Reonal


Al tak menggubris Reonal. Ia mengutarakan pertanyaan yang daritadi memenuhi isi kepalanya.


"Karan hari ini izin nggak masuk. Mau kerumah neneknya." jelas Nana.


"Ngapain lo nyari Karan?" tanya Aura tak suka.


"Bukan urusan lo."

__ADS_1


"YA URUSAN GUE DONG! DIA SAHABAT GUE!!" teriak Aura tak terima.


Al tak menoleh sedikitpun, dia tetap berjalan. Meskipun kini beberapa pasang mata menatapnya akibat teriakan Aura.


...…...


Karan membuka ponselnya begitu ada pesan masuk dari Al.


Al: mndadak bgt ga msukny


Al:. hati hati


Karan menarik ujung bibirnya, membentuk senyuman begitu membaca pesan dari Al yang sebenarnya tidak ada sesuatu yang manis disana.Berhubung yang mengirimnya adalah Al maka terlihat manis bagi Karan.


"Kenapa? Al ya?" tanya Mirna


"Ih Mama, apasi."


"Al baik tau Ran," ungkap Mirna sambil menyetir mobil.


"Hilih, dia tuh udah nyakitin hati Karan tau Ma."


"Semua hal di dunia ini beresiko. Terutama jatuh cinta. Obatin pelan pelan sakitnya, meskipun nanti bakal ninggalin bekas."


Karan terdiam mencerna ucapan Mamanya.


Mirna melirik tertawa pelan mendengar pernyataan polos dari anak perempuannya. "Siapa sih manusia di dunia ini yang nggak pernah patah hati. Entah itu karena cinta, friendship atau family."


Bu Tari menjelaskan panjang lebar didepan. Dan tak satupun materi masuk kedalam otak Al. Daritadi, pikirannya terus berkelana tentang pesan yang masuk 2 jam tadi di ponselnya .


081675437: Caffe Sherin, jam 5 soreh.


081675437: Datang sendiri atau lo kehilangan org yg lo sayang.


Sebenarnya apa mau si pengirim pesan ini dan siapa dalang dibalik ini serta pikiran buruk sudah bersarang di kepala Al.


081675437: meja paling belakang, outdoor.


Sesuai apa yang dimau oleh si pengirim pesan. Al sendirian menuju Caffe Sherin. Ia juga mengambil duduk sesuai apa yang diarahkan.


Meja yang dimaksud, tidak ada siapa siapa. Hanya terdapat dua minuman full. Suasana caffe hari ini juga cukup sepi. Tak mau berlama lama Al segera duduk menunggu seseorang itu datang.


Tak lama terdengar suara langkah kaki dari arah belakang Al. Al tak berniat untuk menolehnya, toh nanti dia juga bakal menampakkan siapa dirinya.


"Hai," sapa seseorang yang cukup membuat Al terkejut.

__ADS_1


"Lo?" heran Al.


"Ya, gue Hera."


Al langsung mengubah ekspresi terkejutnya. Ia pikir ini adalah akal akalan Dean. Ternyata, seorang gadis yang bahkan jarang berkomunikasi dengannya. Kini berani mengirimnya pesan dengan ancaman.


"Mau apa lo?" tanya Al dingin


Hera tersenyum manis, "Minum dulu dong, bukannya ini minuman favorit lo, Vanilla Latte?"


"Ngomong atau gue pergi."


Hera terlihat santai, tak takut akan emosi Al justru Ia terkekeh pelan.


"Oke, karena lo minta gue buat ngomong to the point. Lo harus mau jadi pacar gue."


Al melotot tak percaya. "Gila lo gue aja nggak kenal lo."


"Kan lo udah tau, gue Hera. Belum dekat? makanya kita pacaran biar lo tau dekat tentang gue."


Al menggelangkan kepala tegas. "Gue nggak mau."


"Oke, gapapa. Tapi, lo harus siap buat kehilangan Karan."


Maksut lo apa?" Al sedikit meninggikan suaranya begitu nama Karan dijadikan bahan ancaman.


"Lo jadi pacar gue atau kemarin hari terakhir lo ketemu sama Karan? Gue butuh jawaban sekarang juga." kata Hera.


"Berhubung sekarang Karan lagi keluar kota sama nyokapnya. Jadi lebih gampang deh buat ngabisin dia plus nyokapnya pula."


Al tak bisa berpikir jernih, banyak hal yang bisa ia gunakan untuk menjebak balik Hera. Rasa panik dan takut sudah menguasai dirinya sehingga ia tak bisa berpikir jernih. Saat ini isi kepalanya hanya tentang keselamatan Karan.


"Oke, tapi jangan sampai lo sentuh Karan apalagi sampai nyakitin dia."


"Gampang, btw selama lo pacaran sama gue. Cuekin Karan dan gue butuh pengakuan kalau gue cewek lo."


Al beranjak dari duduknya. Sebelum ia pergi meninggalkan tempat tersebut. Tangan Hera terulur menahan lengan Al.


"Oh ya, jangan pernah bocorin perjanjian ini. Kalau engga, lo bakal tahu sendiri apa yang bakal terjadi sama Karan. So, bersikap seolah olah lo emang suka gue."


Sejujurnya Al muak dengan drama drama sampah seperti ini. Tapi, tidak ada yang lebih penting selain Karan pulang dengan selamat.


"Kenapa sih lo ngelakuin hal kaya gini? murahan."


Hera tak sakit hati begitu ia dihina murahan oleh Al. Ia sadar tindakannya sekarang memang terkesan begitu murah.Ada sebuah perasaan egois yang begitu tinggi. Sehingga membuatnya menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan hal yang ia inginkan.

__ADS_1


"Gue ngelakuin ini karena selama ini gue suka lo dan gue selalu kalah bersaing dengan Ralina. Sekarang, gue nggak boleh kalah bersaing sama Karan."


__ADS_2