
"Na, gue bareng lo ya pulangnya?"
"Enggak, Lo pulang bareng gue." potong Al dibelakang Karan.
Karan memejamkan mata, menghela nafas sejenak sebelum ia menoleh ke arah cowok tersebut.
"Enggak."
"Lo pulang sama gue." Al menarik lengan Karan dan mendapat tepisan kasar.
"Lo bolot ya? gue bilang enggak ya enggak." ketus Karan. "Lagian ngapain sih maksa banget."
Al menatap Karan dengan tajam. "Lo berangkat sama gue, pulang juga harus sama gue. Gue cuma mau tanggung jawab."
"Gue nggak perlu tanggung jawab lo!"
Nana, Reonal dan Devon yang juga masih berada disitu hanya diam menyimak perdebatan tersebut.
"Ayo, na. Gue bareng sama lo pokoknya." Karan menoleh ke arah Nana, berjalan terlebih dahulu kemudian disusul Nana.
"Eh, eh,lepasin anjir woii!" teriak Karan ketika tanpa aba aba Al menggendongnya ala bridal style.
"Woii.." Karan terus memberontak di gendongan Al, sedangkan cowok itu acuh tak acuh. Bahkan ia tak menghiraukan beberapa murid yang memperhatikannya.
"Naaa, tolongin gue!"
"Karann.. sorry gue emang sahabat lo, tapi kalau urusan kayak gini. Gue jadi temennya Al deh."
Karan mengumpat dalam hati. Tidak ada yang bisa dilakuin selain memberontak agar terlepas dari gendongan cowok pemaksa ini.
"Lo berontak lagi, gue jatuhin lo sekarang." ancam Al
"Jatuhin aja, dikira gue -"
brakk
"AWW-" jerit Karan kesakitan.
Sesuai ancamannya tadi, Al menjatuhkan Karan dibawah rumput rumput.Al menatap Karan dibawahnya dengan tatapan datar seperti biasa.Karan tak menyangka kalau Al benar benar melakukan ancamannya. Ia kira itu hanya sebuah ancaman belaka.
"Gila ya lo, sakit bego."
"Sesuai mau lo."
Karan hendak berdiri tapi rasanya nyeri. Al yang melihat itu langsung menggendong Karan kembali.
"Gue nggak butuh penolakan dari lo." kata Al sebelum kemudian cowok itu berjalan menuju parkiran.
Sesampainya di ruang keluarga Karan menaruh tasnya di meja. Tubuhnya ia istirahat kan disofa. Rumahnya terasa sepi, sudah tak ada lagi kebersamaan disini. Ruang keluarga adalah ruang paling nyaman untuk Karan, bersama kedua orang tuanya disini ia membicarakan berbagai hal.
Karan menatap foto keluarga didepannya, dengan ukuran besar yang dipajang di tembok. Rasanya ia menjadi anak yang paling bahagia kemarin dan sekarang ia harus dipaksa oleh semesta untuk merasakan pahitnya hidup.
"Coba Papa disini, banyak yang pengin Karan ceritain ke Papa. Pa, Mama sibuk banget. Kadang aku kasian sama Mama, bahkan kita jarang komunikasi Pa. Pa, Mama juga kangen Papa tau. Tiap malam, Mama nangisin Papa.Mama nyibukin diri buat nggak keinget Papa. Mama banting tulang buat ngehidupin Karan. Pa, Karan udah gede sekarang. Pa, inget nggak dulu Karan punya wish semoga wisuda SMA Papa dan Mama datang. Tapi, tuhan punya rencana lain ya Pa."
Karan mencoba untuk tegar, ia sudah lelah untuk menangis. Bibirnya tertarik keatas kemudian pergi menuju kamarnya. Karan tak tahu kalau dari tadi Mamanya sudah pulang. Mirna mendengar semua apa yang putrinya katakan. Tangis Mirna pecah ketika Karan meninggalkan ruang keluarga. Benar apa kata Karan, ia hanya mengalihkan semua masalahnya ke pekerjaan. Ketika ia sendirian, ia kembali meratapi, menyalahkan dan menangisi semua hal. Terutama kematian suaminya.
Diam diam tanpa Mirna berulang kali harus ke psikolog. berkali kali juga Mirna harus ke rumah sakit untuk check up, karena penyakit yang dideritanya. Sampai saat ini Karan tak tahu itu semua. Mirna memang sengaja menyembunyikannya. Kadang rasanya, Mirna ingin menyerah kepada dunia. Hanya karena Karan lah dia masih bertahan sampai sejauh ini.
"Al, jujur sama kita lo suka Karan kan?"tanya Reonal mengintimidasi.
__ADS_1
"Kepo," jawab Al malas
"Dari jawaban dan tingkah Lo, lo kayaknya emang suka Karan." Farel ikut menyahut.
"Bahas yang lain aja sih." gerutu Al
Devon terkekeh ketika sahabatnya itu ingin mengalihkan pembicaraan. Ia melempar Al dengan kulit kacang yang ada ditangannya. Membuat ditatap kesal oleh Al.
"Fix lo suka Karan." simpul Reonal
"Terserah."
"Cieeee..." sorak ketiganya.
"Gila." umpat Al
"Karma cepet banget ya datangnya."
"Ada yang kemakan omongannya sendiri nihh.."
"Dari musuh jadi cinta..kiww kiw."
Al memutar bola matanya. Malas untuk menanggapi mereka.
...…...
Hari Minggu pagi, Karan bersama Mamanya mengunjungi makam Papanya. Berhubung mereka berdua tengah libur. Ponsel Karan mati dan Mirna juga lupa membawa ponsel ,sehingga disinilah mereka berdua berada setelah dari makam. Minggu ini halte tersebut sepi, hanya ada mereka berdua yang tengah menunggu kendaraan umum lewat.
"Ran, maafin mama ya nak."
Karan menoleh ke arah Mirna. Menunggu apa yang selanjutnya Mirna katakan.
"Karan menggeser duduknya, mengenggam tangan Mirna.
"Karan yang harusnya berterimakasih banyak sama Mama. Mama berangkat pagi, pulang malam demi Karan. Maafin Karan ya Ma, Karan jadi bikin Mama gini."
"Kamu nggak perlu minta maaf, ini memang tugas Mama, ngegantiin posisi Papa kamu. Mama sama Papa pengin banget one day, lihat Karan bisa lulus dengan jurusan dokter seperti yang Karan cita citain." ujar Mirna tulus dengan mata yang teduh.
"Karan janji nggak akan ngecewain kalian."
Mirna mengelus rambut putri semata wayangnya dengan penuh kasih sayang. Mirna tak ingin.Karan meninggalkannya, ia tak bisa membayangkan kalau seandainya Karan juga pergi meninggalkannya.
Bukannya kendaraan umum, melainkan mobil hitam yang terasa familiar di mata Karan, berhenti tepat didepan mereka.
Benar saja, Al selaku pemilik mobil tersebut keluar dengan dengan balutan kaos dan jeans, menghampiri mereka.
'Anjir, ngapain sih es batu kesini segala. Awas aja kalau dia nyapa gue. Gue kacangin.' bisik Karan dalam hati.
"Hai Tante, "sapa Al ke Mirna.
Karan mendegus, bisa bisanya dia tidak disapa juga. Apa dia tidak kelihatan, apa dimata dia Karan gaib.
'Bodoamat nggak disapa, nggak penting juga, diaa siapa sih, Jefri Nichol juga bukan, jadi yaudah bodoamat.' gerutu Karan dalam hati.
"Hai Al, udah gede ya sekarang makin ganteng aja."
Al terkekeh sambil menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. "Oh iya, Tante mau kemana?"
'Dih, sok baik banget biasanya juga judes lo.' Karan masih mendumel dalam hati
__ADS_1
"Tante dari makan Papanya Karan. Mau pulang lagi nunggu angkot. Kamu?"
"Dari ke makam Eyang juga Tan. Tante, daripada lama nunggu angkot mending pulang bareng Al." ajak Al ramah.
' Plis..jawab enggak ma, plisss...' harap Karan
"Boleh, tapi apa nggak ngerepotin?"
'Buset.. ngapain sih pake diterima segala ajakannya, ih mama.' Karan mengumpat ngumpat didalam hati.
"Enggak banget tan, lagian sekomplek juga."
Al membukakan pintu untuk Mirna. Mirna sengaja duduk dibelakang dan menyuruh Karan untuk duduk disamping Al. Dengan catatan Terpaksa, bagi Karan.
Al menatap Karan membuat cewek tersebut dibuat salah tingkah. Tak habis disitu, Al mendekatkan tubuhnya ke arah Karan disampingnya.
'Anjir, ini es batu mau ngapain sih. Ada emak gue woii dibelakang.' batin Karan.
"Gue cuma mau masangin seat belt bukan mau nyium lo, geer." bisik Al.
Sontak pipi Karan berubah menjadi kepiting rebus, menahan malu. Ingin rasanya ia hilang dari bumi saat itu juga. Kalau dipikir pikir iya juga ngapain Al nyium dia didepan Mamanya seperti ini.
'Karannn...lo bego banget, tolol banget. huaaa.. plisss tenggelamin gue ke rawa rawa.'
Al tersenyum miring, puas menjahili gadis Karan.
Sepanjang perjalanan obrolan diisi oleh Al dan Mirna. Sedangkan Karan lebih memilih menatap ke luar jendela. Malas untuk berbicara dengan cowok ngeselin.
"Kamu tuh Al menantu idaman banget pasti. Ya, nggak ran?"
Karan langsung menoleh kearah Mamanya, "Enggak."
"Ih apa yang kurang coba, dia ganteng, baik, sopan bisa segalanya juga."
"Ya Mama belum tau aja aslinya. Dia mah bongkahan es batu kutub Utara ma, gak tau deh kenapa bisa ada disini."
"Hust, Ganteng ganteng gini dikata es batu."
Karan memutar bola matanya malas. Hari ini moodnya dibuat rusak oleh cowok es batu ini.
Al terkekeh pelan membuatnya ditatap Karan sinis. "Apaan lo?"
Al tersenyum kecil, senyumnya lebih mirip seringai.
"Dih, sok lo." gumam Karan namun masih bisa didengar oleh Al.
"Karan, jangan judes judes lah. Masa sama mas crush-nya galak gitu."
"Maaa...dulu, ogah sekarang suka dia." kesal Karan bisa bisanya Mamanya ember didepan Al.
"Lah Kenapa?" kepo Mamanya
"Biar gantian Al yang suka dia Tante."
Apa yang Al lontarkan barusan membuat Karan menoleh, dengan raut terkejut. Sedangkan Mirna malah makin gencar menggoda Karan.
Haii maaf ya baru up, ada kendala huhuu
btw yg make tanda petik (' ') berarti itu ngomong dalam hati ya
__ADS_1