Al Dan Karan

Al Dan Karan
55.Pertarungan sengit


__ADS_3

"Ya gimana lo nggak dijauhin sama cowok itu.Kalau lo murahan banget."


Spontan Lelita langsung melotot tajam ke arah Al.Al memandang Mamanya datar, seolah tak merasa bersalah sama sekali.Di sisi lain, Ralina merasa senang ketika Al mengucapkan kalimat tersebut.


Alih alih cemberut.Karan tersenyum manis memperlihatkan bahwa dia tidak sakit hati dengan ucapan Al.Dia sudah keba mendengar hal tersebut dari mulut Al langsung.


"Gini ya Al.Lo tau nggak sih muarahan sama berjuang? Gue kayak gitu enggak ke semua cowok kali.Gue kayak gitu cuma ke cowok yang buta cinta doang."


"Tapi lo udah di tolak berkali kali sama dia.Gak punya malu Lo?"


Karan terkekeh.


"Al..Al..gue bukan tipe orang yang sekali di tolak, entah dalam hal apapun itu langsung nyerah.Gue adalah Karan, yang bakal selalu memperjuangin apa yang gue mau.Gue nggak peduli apa kata orang tentang gue."


Karan memotong steak dengan lembut. "Gue jauh lebih tersiksa ketika gue harus memendam perasaan gue.And ya, lo liat diri gue sekarang? gue udah ngelepasin cowok yang buta cinta itu.Karena gue juga punya limit."


Lelita merasa suasana meja makan terasa berbeda atmosfernya.


"Udah Al emang suka gitu.Kalau ngomong nggak ngotak."


"Tante santai aja.Udah kebal sama yang modelan kayak dia."


"Al minta maaf sama Karan!" perintah Lelita.


Al menghentikan kegiatan makannya, sebelah alisnya terangkat.


"Hah? minta maaf? kan apa yang Al omongin emang benar itu nyatanya."


Lelita hendak membuka suara lagi.Tetapi, ditahan oleh Karan.


"Udah tante.Karan enggak gila maaf.Biarin aja, kalau emang bagi Al Karan kaya gitu, it's ok.Karan enggak sakit hati kok."


Lelita mengusap lengan Karan dan mengangguk paham.


Karan dan Ralina membantu Lelita mencuci piring dan membersihkan meja makan.Sedangkan Al mendapat telfon dari Paparnya yang berada di luar negeri.


"Tante, Karan izin ke toilet dulu ya." pamit Karan.


"Iya ran." jawab Lelita sibuk dengan cucian piringnya.


Tak lama setelah Karan izin untuk pergi ke toilet.Ralina pun sama, ia izin kepada Lelita untuk ke toilet juga.


Karan hendak keluar dari toilet.Tetapi Ralina langsung mendorong tubuh Karan untuk kembali masuk.Ralina menutup pintu toilet.


Seulas senyum iblis kembali tercetak di wajah Ralina.Karan mengangkat alisnya, menantang cewek ular di hadapannya ini.


"Mau apa lo?" tanya Karan to the point.

__ADS_1


"Tau nggak sih lo.Lo itu pengganggu.Kedatangan lo itu ngerusak suasana dinner ini."


"Oh ya? sorry, sorry aja nih.Tante Lelita sih yang ngajak gue buat ikut kesini."


"Gue benci banget sama lo."


"Lo kira gue enggak?" balas Karan tak kalah sinis."Lambat laun keburukan lo bakal terbongkar."


"Seriously ah..takut." Ralina tertawa mengejek. "Kita lihat aja nanti siapa yang akan menang disini."


"Lo jahat banget.Manfaatin cintanya Al.Kalau sampai dia tau, dia bakal kecewa banget sama lo."


"Terus gue peduli? gue enggak peduli.Salah sendiri, kenapa dia percaya banget sama gue."


Ralina langsung keluar meninggalkan Karan sendiri di toilet.


"Karan mana?" tanya Lelita saat Ralina terlebih dahulu menghimpirinya, padahal yang pertama ke toilet adalah Karan.


"Masih di toilet tadi Tan."


Lelita mengangguk.


Karan pamit pulang terlebih dahulu.Karena ada tugas sekolah yang belum ia kerjakan.Sedangkan Ralina dan Al berbicara berdua di halaman belakang rumah Al.


......…......


"Al, Mama mau ngomong sama kamu." panggil Lelita ketika Al sudah pulang dari mengantar Ralina.


"Jauhi Ralina." perintah Lelita tegas.


Al langsung menatap Namanya tajam. "Kenapa?"


"Dia bukan cewek yang baik buat kamu."


Al membuang muka sekilas mendengar ucapan Mamanya barusan.


"Terus, bagi Mama Karan gitu yang terbaik buat Al?Mama mau Al sama Karan kan?"


"Siapapun selain Ralina.Enggak harus sama Karan.Asal kamu tahu, Ralina itu bukan cewek yang baik baik."


"Udahlah Ma.Kalau Mama emang nggak suka Al sama Ralina yaudah.Tapi, jangan jelek jelekin Ralina kayak gini."


Al beranjak dari duduknya, berlari menaiki tangga ke kamarnya.Al langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur.Berusaha mengatur emosi akibat ucapan Mamanya.


Al merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya.Ada beberapa notif dari grub chat sahabatnya, kelaa dan dari Ralina.


Jari Al langsung membuka room chatnya dengan Ralina.Ada dua pesan yang baru saja Ralina kirimkan.

__ADS_1


Ralina: Al udah nyampe?


Ralina: Sayang kalau udah sampai kabarin yaa.


Bibir Al tertarik saat membaca pesan sederhana dari pacarnya itu.


"Gue heran cewek sebaik lo kenapa selalu di tuduh yang enggak enggak." gumam Al sambil mengetikan balasan untuk Ralina.


Al keluar ke arah balkon kamarnya untuk sekedar menikmati udara dingin malam itu dan menyejukkan pikirannya.


Tanpa sengaja.Mata hitam Al menangkap seorang gadis dengan piyama duduk di depan balkon kamarnya.


Angin angin menerbangkan berberapa helai rambutnya.Membuat rambut terurai itu sedikit berantakan.Tetapi, tak jadi masalah.Justru hal itu membuatnya semakin terlihat cantik.


Hanya saja, mata sendunya tak bisa berbohong.Sepertinya gadis itu tengah tak baik baik saja.Entah apa yang menjadi permasalahannya.


Al hanya dapat memandang wajah cantik Karan dari kejauhan.Tanpa bisa mendekat.Roda kehidupan sekarang sudah bukan berpihak kepadanya.Kini ganti ia yang merasakan bagaimana sakitnya jatuh cinta tetapi seseorang yang kita cintai tak mau peduli sama sekali.


Karan melirik sekilas ke meja di sampingnya.Ponselnya menyala,. serta ada empat bubble chat dari Dean.


Jemari lentik Karan mengklik notifikasi dari Dean.


Dean: Hai cantik udah tidur?


Dean: Tidur gih, udah malam


Dean: Besok ke sekolah jangan lupa sarapan dulu


Dean: Nice dream


Alih alih membalas pesan, Karan mendiamkannya.Karan kembali Memejamkan matanya, merasakan angin malam menerpa wajahnya.


Seharusnya sudah tak ada pikiran yang menghantui Karan.Karan sudah 90% berhasil melupakan Al.Tetapi, kenapa seolah masih ada beban yang belum bisa di mengerti oleh dirinya.Sebenarnya dirinya kenapa.


Entah darimana datangnya perasaan bersalah kepada Karan.Membuat Al langsung mengambil ponselnya dan mengetikan permintaan maaf diatas keyboardnya.


Karan kembali melirik ke ponselnya yang menyala.Awalnya Karan pikir itu Dean.Ternyata dugaannya salah.Justru itu adalah Al.


Al: Sorry buat yang tadi


Karan menghela nafas panjang dan menaruh kembali ponselnya tanpa ada niatan untuk membalasnya sama sekali.Al melihat Karan mendiamkan chatnya.Membuat ia merasa bersalah.


...…...


Buat yang udah kebelet pengen keburukan Ralinat terbongkar sabar ya.Butuh proses buat ngungkapin semuanya.Masih banyak perjalanan yang harus di lalui.


so sabar ya wkwk

__ADS_1


Btw next part ada kejutan nih, mybe sebagian ada yang suka sebagaian ada yang engga.Stay terus ya


oh iya jaga kesehatan buat pembaca Al dan Karan, jangan sampai sakit yaa


__ADS_2