
Bu Tari berdehem sebelum membacakan nilai ulangan para murid kelas 12-IPA 2.
"Sebelumnya selamat untuk Gistania Siska,Fero Zergano,Aldevan Daffandra dan Reta Maheswari kalian mendapat nilai 100 di ulangan kali ini."
Hampir seluruh murid bertepuk tangan heboh,tapi tidak untuk tokoh utama kita,Karan.Gadis itu menggigit jarinya panik.Kedekatanya dengan Al ditentukan oleh nilai ulangan Matematika hari ini.
"Audya Naraya 40!"
"Untung masih 40," kata Nana di belakang Karan
"40 nggak ada untungnya bego!" umpat Aura
"Aura Natasya Gibson 50!"
"Nih gue yang masih untung dapet 50," pamer Aura kepada Nana yang mengerucutkan bibirnya.
Bu Tari masih tetap membacakan nilai hingga sampai saat bagian Karan semuanya tampak menduga duga pasti cewek itu akan diomeli habis habisan oleh Bu Tari seperti biasanya.
"Dan terakhir, Karan Jevina Berlino 87!" ucapan dari Bu Tari refleks membuat seisi kelas hening dan hampir semuanya menatap Karan begitupula Al.Pikiran mereka semua ternyata salah gadis itu kini mendapat nilai yang cukup memuaskan."Bagus Karan tingkatkan lagi!" puji Bu Tari kepada gadis yang melongo dengan mulut terbuka
Setelah Bi Tari menggumumkan nilai ulangan Matematika,beliau keluar kelas dan memberikan free class untuk anak IPA-2.
"Karan otak lo udah balik ran?" tanya Nana tidak percaya
"Buku matematika lo nggak lo minum kan?" Aura menimpali
__ADS_1
Karan tersenyum puas dan memeluk kedua sahabatnya seraya berkata "Akhirnya gue bisa ngedate sama calon pacar!"
Setelah mengatakan itu,Karan beranjak menuju tempat duduk Al.
"Dia berusaha dapat nilai bagus ternyata buat kulkas dua pintu na,"
"Emang dari awal prinsip dia gitu kan jalan sama kulkas dua pintu."
"Hai Al!"
Tak ada respon dari cowok yang dia sapa.Al fokus dengan ponselnya.
"Wihh Ran lo ngedukun dimana nilai matematika bisa dapet 87 biasanya 20!" ledek Devon
"Gue anggap pujian ya Von!"
Tanpa disuruh Karan langsung duduk di samping Al, "Al sesuai perjanjian minggu besok kita jalan ya?"
"Hm."
"Kita jalan kemana?"
"Terserah!"
"Oke gue aja yang nentuin ya nanti gue sharelock sama kasih tau jam-nya." Ucap Karan sanggat antusias "Al jalannya dua kali ya,minggu besok sama minggu depan lagi kayaknya kurang kalau jalan cuma sekali?"
__ADS_1
"Nggak!"
"Yahh kan gue dapat nilanya ngelebihin perjanjian harusnya dapat bonus dong ih!"
"Jalan sekali atau nggak sama sekali?" ancam Al
"Yaudah iya sekali aja." pasrah Karan, kemudian cewek itu menaruh kepalanya dimeja.Kedua tangannya yang dilipat Karan gunakan sebagai bantal.
Alis tebal, hidung mancung,rahang tegas serta tahi lalat mati dibagian hidungnya menambah ketampanan Al.Mungkin saat sedang menciptakan Al tuhan sedang berbahagia.Cowok ini dianugerahi paras yang tampan serta otaknya yang cemerlang.Tetapi ada satu kekurangannya yaitu, hati dan sikapnya yang beku sebeku istana Elsa Frozen.
Merasa terus diperhatikan Al menatap kearah Karan, "Ngapain lo?"
"Menikmati ciptaan tuhan yang indah."
Al mendegus malas dan melanjutkan bermain game di ponselnya.
"Al," gumam Karan
sebagai jawaban Al mengangkat sebelah alisnya,tanpa berniat mengalihkan tatapannya dari ponsel ke arah gadis disampingnya.
"Cairin hati lo setetes aja untuk gue biar bisa masuk di hati lo." Setelah itu Karan pergi meninggalkan Al yang terdiam.
Fokus Al kini bukan game didepannya lagi, tapi ucapan dari gadis berberapa detik lalu.Entah mengapa kali ini hatinya seoalah tersentuh,seoalah ada kehangatan yang merebak ke sekujur hatinya membuat bibirnya terangkat menampilkan senyuman kecil sanggat kecil sehingga tidak terlihat seperti senyuman.
"Al!" panggilan dari Ralina membuat cowok itu tersadar dan berusaha membuang pikiran tentang ucapan Karan tadi.Tak seharusnya dia merasakan hak seperti itu.Lagipula sampai kapanpun Al bertekad untuk tidak mencintai Karan Jevina Berlino.
__ADS_1
Al tetaplah manusia biasa yang hanya merencanakan tanpa tahu kedepannya.Cowok itu juga tidak tahu rahasia semesta,ia juga tidak tahu permainan apa yang akan semesta siapkan untuk dirinya.