
Karan duduk di kursi yang tak jauh dari tempat Dean berbaring.Kini,luka luka Dean tengah di obati oleh perawat uks sekolah.
Usai mengobati, perawat tersebut pamit pulang terlebih dahulu.Karena ada urusan.Karan mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
Sepeninggal perawat tersebut.Karan berjalan mendekat ke arah Dean.Gadis itu pun menarik kursi dan duduk disamping kasur yang ditempati Dean.
Dean meraih tangan Karan.Membuat sang empu sedikit terkejut.
"Makasih ya, lo tadi keren." kata Dean pelan dengan seulas senyum.
"Apasih, biasa aja kali." jawab Karan. "Lain kali, jangan gitu lagi.Gue nggak mau lo terluka kayak tadi." Lanjutnya.
"Untung tadi gue di tolongin wonder woman."
Karan mencebikan bibirnya.Dean terkekeh ketika melihat ekspresi Karan yang mengemaskan baginya.
Satu tangan Karan yang tadi di pegang Dean.Kini berpindah alih, karena Karan gunakan untuk mengelus rambut Dean yang terbilang lebat.
Dean memejamkan mata menikmati setiap sentuhan yang Karan berikan.Sambil menetralisir rasa sakit di wajahnya.
"Sakit ya?" tanya Karan ketika melihat Dean seperti menahan rasa sakit.
"Tadinya iya, tapi karena ada bidadari disini.Jadi, agak lumayan mendingan."
Karan memutar bola matanya. "Gembel lo ah.Gue lempar pake kursi nih."
"Gitu gitu juga lo suka kan."
"Mana ada." elak Karan.
__ADS_1
"Pipi lo nggak bisa bohong ran." Dean tertawa kecil berbeda dengan Karan yang cemberut dan malu.
Tanpa mereka berdua sadari.Dari tadi tadi ada Al yang memperhatikan keduanya dari luar.Al melangkah pergi meninggalkan uks, sebelumnya ia semakin dibuat sakit hati sendiri.
Langkahnya terasa begitu berat.Rasanya masih ada emosi yang belum keluar, bahkan semakin menjadi jadi.Disaat seperti ini, Al tak tau harus meluapkannya dengan cara apa.
Dering ponsel membuat langkah Al terhenti.Al memandangi ponselnya datar.Sebelum mengeser tombol hijau, Al sempat menghela nafas terlebih dahulu.
"Halo?" sapa Al
"Kamu masih main basket?" tanya Ralina dari sebrang.
Al bergumam.
"Aku dirumah kamu."
"Iya, tunggu." Al mematikan ponselnya dan bergegas menuju parkiran.
Kamu udah dekat sama Al lama?" tanya Lelita, Mama Al.
Ralina mengangguk. "Bisa dibilang iya tante."
"Kok nggak pernah main kesini?"
"Pernah tante, tiap kali main kesini tante lagi nggak dirumah."
Lelita mengangguk paham.Kemudian di susul suara langkah kaki yang tak lain tak bukan adalah Al.
"Al, kamu bersih bersih terus makan dulu gih."
__ADS_1
"Nanti dulu Ma." kata Al, lalu menyalami Mamanya.
Al mengajak Ralina untuk keluar ke halaman belakang rumahnya.Ralina mengikuti langkah Al dari belakang.Sepertinya cowok ini sedang tidak baik baik saja.
"Kenapa?" tanya Al to the point, saat mereka berdua sudah sampai di halaman belakang rumah.
"Ya kamu yang kenapa? kenapa kamu mukulin Dean?"
"Tau darimana?"
"Nggak penting aku tau darimana.Kenapa kamu mukul dia? "
Al mengusap wajahnya kasar. "Dia yang mulai."
"Penyebabnya?"
Al diam tak menjawab pertanyaan Ralina.Sebenarnya Al juga tak tau apa yang membuat dia berubah seperti tadi.Al hanya tau bahwa ini berkaitan dengan Karan.
"Karena Karan?" tebak Ralina tak meleset sedikitpun.
Sontak Al langsung menoleh ke arah Ralina yang disampingnya.
"Nggak ada hubungannya sama dia." sinis Al
"Aku nggak mau kamu mukulin Dean lagi.Apalagi sampai penyebabnya gara gara Karan."
Al mengangguk.Tak mau memperpanjang masalah.Meskipun, ia tak yakin dengan apa yang Ralina ucapkan.
Ralina menarik tubuh Al kedalam pelukannya.Seolah olah memberi kekuatan.Padahal, ini termasuk bagian dari dramanya.
__ADS_1
Al membalas pelukan Ralina.Tak sedikit pun Al merasakan tenang di pelukan tersebut.Hati Al masih memikirkan nama perempuan lain.Serta, masih ada emosi yang terkurung di baliknya.
'Sorry, gue brengsek.' kata Al dalam hati.