
“Lo mau sampai kapan kaya gini terus?”
Tak ada sahutan, hanya suara film yang menyala dengan kencang memenuhi kamar yang begitu gelap dan berantakan.
“Makan ya?”
Tetap tak ada jawaban.
Karan menghela nafasnya kasar. Berjalan kearah kasur dimana Al tengah tiduran disana dengan mata yang terpejam.
Karan membelai lembut rambut Al. Semenjak kematian Mamanya seminggu lalu, kini Al benar benar jauh dari kata baik baik saja.
Bawah matanya menghitam dan terlihat begitu lelah. Rambutnya yang tak pernah disisir membuatnya terlihat begitu berantakan.
“Tante Lelita pasti sedih liat lo kaya gini.”
Al membuka matanya begitu nama Mamanya disebut oleh Karan.
Karan menatap lurus kedepan, pandangannya menrawang kembali dalam berberapa minggu lalu. Saat Lelita memberikan pesan kepadanya.
“Berberapa hari sebelum Tante Lelita koma, dia sempat bilang ke gue.”
Al menunggu kalimat selanjutnya yang akan diucapkan oleh Karan.
“Kalau seandainya nanti dia udah nggak ada di samping lo. Dia minta sama gue, buat ngingetin lo makan. Karena lo anak yang paling susah kalau disuruh makan.”
“Dia juga bilang, Tante Lelita seneng banget kalau ngeliat lo makan dengan lahap. So, lo mau bikin nyokap lo disana sedih, gara gara anaknya yang kaya kulkas ini nggak mau makan?”
Entah kenapa seketika mood Al naik begitu saja. Ia tersenyum kecil, Al merasa seperti anak kecil yang dibujuk oleh Mamanya untuk makan. Karan memang gadis yang pandai membujkk orang.
Karan menyuapi Al di taman belakang rumah Al. Keheningan merebak diantara mereka. Tak ada lagi yang saling berbicara, hanya suara sendok dan piring yang bertemu.
__ADS_1
Ini bukan kali pertama Karan melihat wajah Al dari jarak yang sedekat ini. Degupan kencang masih terasa di hati Karan, rasanya masih sama seperti dulu kala.
“Bisa nggak untuk berberapa hari kedepan kalau lo senggang, kesini suapin gue,” pinta Al.
“Bisa banget woi, asal lo tau waktu gue isinya lo semua.” Batin Karan heboh.
Meskipun hatinya sudah memiliki jawaban yang kuat. Karan tetap berpura pura untuk menanyakan maksud dari permintaan Al.
“Emang kenapa?”
Alih alih menjawabnya pertanyaan yang Karan lontarkan. Al justru membuat Karan ingin menendangnya sampai ke kutub utara.
“Jawabannya cuma dua iya dan enggak.”
Karan menaruh piring yang telah habis di meja depannya. “Ya, gue harus tahu dong alasan lo minta hal kaya gitu karena apa.”
“Nanti juga tau sendiri.”
Al mengambil botol air putih di meja dan meneguk habis isi dari botol tersebut. Karan memperhatikan Al yang tengah minum, berharap setelah ini Al memberitahukan alasan tersebut.
Harapan Karan hancur begitu saja, ketika Al pergi meninggalkan Karan setelah selesai minum. Karan lupa bahwa Al tetaplah Al, cowok dingin dan menyebalkan yang berhabitat di Jakarta.
Karan mengelus elus dadanya, “Sabar ran, sabar. Dia es kan batu kutub utara jadi sifatnya agak beda daripada yang lain.”
“Parah banget si es batu kutub. Cewek secantik ini dianggurin disini.” Karan mengomel, sambil membawa peralatan makan yang ia gunakan untuk menyuapi Al ke bak pencuci piring.
Al tersenyum kecil dari kejauhan. Daritadi ia mendengar ocehan Karan.
“Jadi mau di apain kalau nggak mau di anggurin?” sahut Al.
Karan melotot kaget. Ia menoleh kearah Al yang sudah ada di belakangnya.
__ADS_1
“Eh..e-lo kok disini bukannya keatas ya tadi,” Karan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Jadi lo mau diapain, biar nggak gue anggurin?” Al menaikkan sebelah alisnya, dan tersenyum miring, ia semakin mempertipis jaraknya dengan Karan.
Jangan ditanya lagi bagaimana berdebarnya jantung Karan saat ini . Jangan ditanya lagi tentang semburat merah di pipi Karan yang benar benar terlihat jelas sekarang.
“Eh..emm.. ah, iya ponsel gue kayaknya ketinggalan di meja tadi.” Alibi Karan agar bisa menghindar dari Al.
Sebelum Karan menjauh darinya. Al langsung menarik lengan Karan untuk kembali pada posisinya.Menempelkan punggung Karan di tembok dapur. Al juga mengunci pergerakan Karan. Sehingga tak ada yang bisa Karan lakukan selain menunduk malu, pasrah,takut dan salting. Bercampur menjadi satu.
Al menarik dagu Karan. Sehingga mata mereka bertemu cukup lama. Al mulai mendekatkan wajahnya ke arah wajah Karan. Sehingga jarak diantaranya benar benar tidak ada. Karan menutup matanya, bersiap akan sebuah hal yang tak pernah ia duga sebelumnya.
Lama Karan menutup mata. Namun tak ada sesuatu hal yang ia duga menyentuh bagian wajahnya. Karan membranikan diri untuk membuka mata. Saat mendengar Al tertawa puas didepannya.
“ Ciee.. yang ngarep gue cium,”goda Al.
“Di, ogah gue ciuman sama lo,” sinis Karan
“Yakin, terus tadi kenapa lo nutup mata segala?” Al menaik turunkan alis
Karan memukul legan Al pelan. “Apaansi, NYEBELIN BANGET LO.”
Karan berlari pergi meninggalkan rumah Al. Ia ingin segera pulang untuk menenggelamkan dirinya di bak mandi . Ataupun kalau bisa, ingin rasanya menghilang detik ini juga dari bumi.
Karan mengambil ponsel di saku celananya ketika ponselnya bergetar, menandakan ada pesan yang masuk.
AL: Yah.. kok pulang sih, marah ya gara gara nggak jadi ciuman?
Karan yang kesal langsung melemparkan ponsel tesebut di kasur kamarnya.
“MAMA... KARAN MALU...TENGGELAMIN KARAN KE RAWA RAWA.”
__ADS_1