
"Lo nggak privat di Al lagi?" tanya Aura
"Enggak tau," jawab Karan malas
"Kenapa nggak lo coba buat privat di Dean aja?"
Karan menoleh mengerenyitkan dahinya.
"Kan lo lagi proses buat move on,gue jamin move on lo bakal gagal kalau lo masih ada hubungan privat privatan segala macem sama Al." terang Aura memperjelas.
"Harus gitu banget ya?"
"Karann harus lah, lo kalau mau move on yang totalitas dong!"
Tak lama secara kebetulan cowok yang mereka berdua bicarakan tengah berjalan menuju parkiran.Tak bisa dipungkiri Dean adalah tipe cowok friendly yang berparas tampan.Wajar saja jika ia famous di kalangan kaum hawa.
"Yann!" panggil Aura
Dean menolah dan berjalan menghampiri Aura dan Karan
"Anjrit lo mau ngapain heh,"bisik Karan
"Kenapa ra?" tanya Dean ketika cowok itU sudah ada didepan mereka berdua.
"Lo pulang sendiri kan? nih si Karan nggak bawa mobil tebengin pulang gih." ucap Aura Tanpa beban
Karan melotot kesal."Apaansih kok jadi gue,gue mau mesen gojek kali." sewot Karan, gadis itu mengambil Hpnya di saku.
"Daripada lo pesen gojek mending bareng sama gue,gue nggak keberatan kok ran." tutur Dean
"Nah tuh dengerin,dah ah gue mau latihan dulu byee have fun kalian." Aura tertawa mengejek sebelum ia benar benar hilang di pertigaan lorong menuju tempat eskul dance.
"Gajelas banget sih ih." gerutu Karan yang didengar oleh Dean.
"Udah ran jangan kesel mulu cepet tua nanti." ucap Dean disertai kekehan.
__ADS_1
Karan dan Dean berjalan bersisihan menuju parkiran sekolah. Dari arah berlawanan nampak Ralina dan Al juga tengah berjalan menuju parkiran.Sialnya pula mobil Al terparkir tak jauh dari mobil Dean.
Tanpa sadar Karan berhenti ditempat,matanya menatap ke arah Al yang juga menatapnya sekilas.Cowok itu terlihat tidak peduli dengan kehadiran Karan.
"Ran!" panggil Dean,cowok itu sudah membukakan pintu untuknya .Karan yang tersentak segera masuk kedalam mobil Dean.
Al menghela nafas sebelum ia akhirnya melajukan mobilnya keluar dari area sekolah.Sedari tadi moodnya terasa buruk,entah mengapa.Bahkan berada di samping Ralina pun tetap tak membuat moodnya sedikit membaik.
Tangan Ralina memegang pundak cowok disampingnya yang terlihat lelah."Al lo kenapa?"
"Enggak."
"Kalau ada apa apa bilang aja."
Al hanya mengangguk mengiyakan.
••••
"Ran,"
"Karan."
Cewek yang sedari tadi di panggil hanya melamun menatap keluar jendela mobil.
Dean menepuk pundak Karan. "Ran!"
"A-eh ih ngagetin aja sih lo." kesal Karan
"Habisnya lo ngelamun mulu sih,ngelamun apaan sih,Al?"
Tepat sasaran dan tidak meleset sedikit pun.
"Apaa sih,enggak lah ngapain gue ngelamunin dia."
"Serius nih,satu sekolah udah tau kali ran lo suka Al." ucap Dean membuat Karan memutar bola matanya malas.
__ADS_1
"Iya itu mah dulu,sekarang gue mau move on dari dia.Udah nggak usah nanya kenapa!" kesal Karan
"Tau aja lu gue mau nanya itu," Dean tertawa kecil.Ada perasaan bahagia di hatinya saat mengetahui bahwa Karan tengah berusaha move on dari Al.Artinya ada kesempatan bagus untuknya masuk kedalam hidup Karan.
Mobil Dean berhenti tepat didepan rumah Karan.
"Makasih ya yan."
"Iya,sama sama.Sering sering bareng kek."
"Idih paan sih lo," jawab Karan disertasi dengan tawa kecil.
Setelah mobil Dean berlalu,Karan baru membuka gerbang rumahnya.Suasana hatinya sedang tak enak.Dari kejauhan Al yang melihat itu mendegus.Entah apa yang membuatnya seperti ini.Dari beberapa hari yang lalu Al selalu merasa sedikit tak terima kalau Karan tertawa bersama cowok lain.Apalagi cowok itu adalah Dean.
••••
"Kenapa nih anak mama cemberut aja dari tadi." Mirna duduk disebelah anak semata wayangnya.Karan menyenderkan kepalanya di pundak mamanya.
"Salah nggak sih ma Karan suka orang dan orang itu nggak suka Karan?"
"Enggak dong,kan kita nggak tau kita mau suka sama siapa." Mirna mengelus rambut Karan. "Kalau kita bisa milih perasaan kita untuk siapa pasti nggak ada yang namanya sakit hati di dunia ini."
Butiran bening keluar dari mata Karan.
"Jadi dewasa itu nggak enak ya ma,dulu Karan nanggis kayak gini karena mainan sekarang karena cowok.Karan nyesel kenapa dulu waktu kecil pengin banget cepet cepet dewasa."
"Hush nggak boleh kayak gitu,emang sekarang udah waktunya kamu jadi dewasa.Semakin kamu dewasa semakin dunia tak adil untuk kamu,banyak hal yang harus kamu pikirkan,banyak hal juga yang membuat kamu merasa tak punya siapa siapa dan porsi kamu dikecewakan sama orang semakin besar."
"Ma Karan kurang apa?"
"Ini bukan tentang kurang tapi tentang perasaan sayang," Mirna mengusap punggung anak satu satunya ini.
Karena terlalu sibuk bekerja,Mirna hingga tak sadar kalau Karan yang dulu menanggis karena mainan kali ini anaknya itu menanggis karena perasaan.
__ADS_1
Hai jangan lupa comment,favorit dan vote ya karena itu sanggat berarti buat author makasi