Al Dan Karan

Al Dan Karan
51.Dean vs Al


__ADS_3

Semakin hari kondisi Karan semakin membaik.Perlahan tapi pasti,Karan sudah bisa melupakan Al.Meskipun tak banyak.


"Hai," sapa Karan ketika ia bertemu Dean di depan kelas Karan.


"Oh, hai.Nanti lo jadi mau nunggu gue latihan basket?"


Karan mengangguk. "Sure."


Dean tak bisa menyembunyikan kegembiraannya,ia mengacak acak rambut Karan dan pamit menuju kelasnya.


Karan pun ikut tersenyum.Sepertinya, Karan sudah memiliki sedikit perasaan untuk Dean.Bertepatan dengan itu, Al datang dengan raut datar dan tenangnya.Meskipun kini di dalam hatinya tengah ramai berdebat tak karuan.


"Eh Ralina? mau ngapelin Al ya?" sapa Karan dengan nada yang dibuat buat. "Al! ni cewek lo mau ngapel nih." teriak Karan dari luar tapi masih bisa terdengar sampai dalam.Terdengar berberapa anak kelas tengah menyoraki Al.Karena, telah menjadi budak cinta saat ini.


Karan menatap mata Ralina dengan senyum licik.Sedangkan Ralina menampilkan raut tak sukanya.Al datang dari dalam.Menarik lembut lengan Ralina agar menjauh dari kelasnya dan Karan.Karan menatap keduanya dengan senyum kecil.Tak ingin mengorek luka lama, Karan memilih masuk ke kelas.


"Kenapa?" tanya Al


"Kok kenapa sih, kamu nggak suka aku samperin?" tanya Ralina balik.


Al merapikan rambut Ralina yang berantakan."Bukan gitu."


"Nanti kamu mau latihan basket kan?"


Al mengangguk.


"Yaudah, semangat ya nanti. Tapi, besok malam kita harus jadi ya."


"Iyaa, tenang aja."


"Al," panggil Ralina


"Apa?"


"Ponsel."


Al sempat menghela nafas kecil.Kemudian ia memberikan ponselnya untuk Ralina.Membiarkan gadis itu memeriksanya.Ralina sanggat posesif kepada Al.Seperti saat.Al hendak bermain bersama sahabatnya, Ralina selalu ingin ikut.Memeriksa ponsel Al tiap kali bertemu.Apalagi sesuatu yang berhubungan tentang Karan. Terkadang hal itu


Membuat Al merasa tak nyaman.Tapi, apa boleh buat.


Al kembali memasuki kelas dan duduk di tempatnya semula.


"Kenapa?ribut lagi?" tanya Devon ketika melihat Raut Al yang sedikit berubah.


Al menggelang. "Biasalah."


"Posesif tandannya sayang."


Al hanya diam dan kembali mencatat materi di depannya.


Nana melangkahkan kakinya di koridor menuju kelasnya.Cewek itu baru saja dari toilet.


Mungkin hari ini adalah hari yang tak terduga bagi Nana.Ketika mata Nana bertemu dengan mata seorang cowok didepannya.Nana tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.Mereka berdua seperti terkena kutukan menjadi es, saling diam dan berpandangan satu sama lain.


Nana mengerjap, ia memutar tubuhnya dan berlari dari cowok tersebut.Sepertinya, cowok tersebut bisa menebak gerak gerik Nana. Sehingga, dengan cekatan ia langsung mencekal pergelangan tangan Nana.Sebelum Nana kabur.

__ADS_1


"Lepas!" Nana menyentakan tangannya yang dicekal oleh cowok tersebut.Tapi, nihil.


"Dengerin gue dulu Na."


Mata Nana berkaca kaca.Seolah menyimpan luka yang belum benar benar kering. "Apa yang harus gue denger dari lo? pembohongan lo? atau janji manis lo?"


Cowok itu hanya diam.Sebelum akhirnya ia mengatakan hal yang paling Nana benci. "I love you Na."


"BULLSHIT, GUE BENCI LO.KENAPA LO MUNCUL LAGI DI HIDUP GUE.APA LO BELUM CUKUP BIKIN GUE SAKIT, HAH!?" Bentak Nana denga air mata yang sudah mengalir deras.


Cekalan tangan dari cowok tersebut mulai mengendur.Hal tersebut di manfaatkan Nana untuk kabur.Bukan ke kelas seperti niat semula.Tapi, ke toilet


Nana menangis sejadi jadinya.Didalam toilet yang sepi.Meluapkan rasa sakitnya yang kembali muncul di permukaan.Berkali kali Nana memukul dadanya sendiri, dengan harapan rasa sakit itu hilang.Berharap pula, ia tak pernah bertemu dengan cowok itu.


"Nana nguras air toilet apa bagaimana dah, lama banget." kata Karan berbisik ke Aura


Aura menggelang kepala tak tau.Benar kata Karan, tak biasanya Nana selama ini di toilet.


Baru saja di bicarakan, satu pesan di ponsel Karan masuk dari Nana.Nana mengirim pesam di grub mereka.


INI GRUB


Nana kurang imunisasi: Guys, gue mau cabut.Nanti tolong bawain tas gue yaa mwahh


Karan: Lo ngapain cabut segala, tumben?


Aura galak: Kenapa Lo?


Nana kurang imunisasi: Panjang ceritanya, nanti malam aja lo berdua ke rumah gue.


Aura galak: Tau nih bocah.


Nana kurang imunisasi: Ciee iri, nggak boleh iri sist.Lo berdua jangan lupa bawain tas gue.


Karan dan Aura merasa Nana tengah tak baik baik saja.Tetapi, gadis itu sepertinya sedangkan berusaha terlihat baik baik saja di hadapan kedua sahabatnya.


Sepulang sekolah sesuai janjinya.Kini, Karan menemani Dean latihan basket.


Karan duduk di pojokan melihat Dean yang tengah bermain.Sesekali mengecek ponselnya.Saat ia tengah asyik dengan ponselnya, tak jauh dari tempatnya duduk.Karan menangkap basah Al tengah menatap dirinya.Cowok dengan gengsi tinggi itu langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Karan membuang muka tak peduli. Dean datang dari arah lapangan menuju dimana Karan duduk.


"Hai, sorry ya lama.Tinggal satu babak doang kok."


Karan langsung mengambil handuk kecil yang ada di tas Dean.Mengelap keringat cowok itu, tanpa di suruh.Dean terkejut sekaligus senang.


"Udah lo santai aja.Gue tungguin kok."


"Btw, kok lo mau sih nungguin gue latihan basket, kenapa?"


"Jawabannya ya, karena kalau dirumah gue gabut.Mending nungguin lo latihan basket kan."


"Sekalian cuci mata ya? atau sekalian ngeliatin cowok kutub utara?" goda Dean.


Karan melempar handuk yang di pegangnya ke arah dada Dean. "Apaansi, sotoy lo."

__ADS_1


"Cieee..iya kan?"


"Engga!"


"Amoso, itu mukanya merah.Pasti, iya."


"Dean, enggak ih."


Lagi lagi Al menatap Dean dan Karan sekilas.Hatinya kembali merasakan perasaan aneh seperti tadi pagi.Al memejamkan mata sejenak.Ia mendengar jelas suara tawa dari Dean maupun Karan.Seperti ada amarah dalam dirinya, yang entah mengapa itu tercipta.


"Oi, Al ayo lagi." ajak Vero


Al bangkit dengan emosi dalam dirinya yang belum terkontrol.Dean pun ikut bangkit menunju lapangan.Mereka mulai berlatih.Terbagi menjadi dua tim, tim Al dan tim Vero.Sialnya, Dean masuk kedalam tim Al.


Dari kejauhan, Karan dapat melihat bahwa Al bermain dengan egois dan sepertinya cowok itu tengah berada dalam emosi yang tak stabil.


"Woi Al.Lempar sini." kata Alvin.


Bukannya melempar ke arah Alvin.Al dengan egois membawa bola tersebut menuju ring sendiri.Alhasil, ia tak berhasil.


"Al lo kenapa sih?"


Tak ada jawaban dari Al.Lagi lagi cowok itu bermain seenaknya sendiri, egois dan tak mementingkan tim.Sehingga hal itu di manfaatkan oleh tim Vero untuk mencetak point.


Saat Dean berhasil merebut bola dari tangan Al dan mengopernya ke Edo.Barulah tim Al mendapatkan satu skor.Masih tertinggal jauh dari tim Vero.


Emosi Al semakin memuncak kala ia tak bisa membuat bola tersebut masuk ke dalam ring.Sehingga cowok itu bermain dengan emosi yang semakin tak stabil.Bahkan juga membuat teman satu timnya terjatuh.


Karena tak terima.Dean menghamiri Al dan langsung mencengkram baju basket yang Al kenakan.


Al memandang Dean dengan emosi yang semakin tercetak jelas.Karan yang melihat hal itu mulai was was.Begitupun mereka yang berada di lapangan.


"Maksut lo apa sih"


Al tertawa meremehkan.Dean pun ikut terpancing emosi.Tanpa basa basi, Dean melayangkan bogem mentah.Membuat Al sedikit terhuyung ke belakang.


Al mengeluarkan seringainya.Cowok itu membalas pukulan Dean.Bahkan, kali ini lebih dari apa yang Dean lakukan.Al menjadi membabi buta.Sontak, seluruh cowok yang ada di lapangan ikut melerai.Begitupun Karan yang langsung berlari ke lapangan.


Dean terkapar lemas di bawah.Sedangkan Al masih tak puas, ia masih ingin meluapkan emosinya.Saat akan melayangkan tinjunya lagi, Karan dengan sigap langsung menahan tangan Al.


"Pukul gue!" Karan menunjuk pipinya yang mulus ke arah Al.


Al terdiam, semuanya pun ikut terdiam.Tangan Al tertahan di udara.Ketika tau siapa yang tengah berada dihadapannya sekarang.


"Kenapa lo diem aja? Gue bilang pukul ya pukul." nada suara Karan meninggi.


"To, lo bawa Dean ke uks gih!" perintah Karan kepada Anto, teman kelasnya.Anto mengangguk.Cowok itu membawa Dean ke uks, beserta beberapa cowok lainnya yang membantu Dean berdiri.


Karan kembali menatap Al dengan tatapan kecewa.


" Salah Dean apasih sama lo? udah jelas jelas tadi lo yang salah.Tapi, lo malah bikin dia babak belur kayak gini."


Al menatap Karan tak percaya.Cewek yang dulunya tak pernah membentaknya, yang selalu menampilkan sisi manja dihadapannya.Kini berubah, hanya karena satu cowok yang menjadi sumber Al cemburu.


"Gue benci banget sama lo.Gue kecewa banget sama lo." setelah mengatakan itu Karan berlari meninggalkan lapangan menunju uks.

__ADS_1


__ADS_2