
"Eh Karan sama Dean tuh." Reonal menyenggol lengan Al yang tengah bermain dengan gamenya.
Diseberang sana terlihat Karan dengan Dean tengah berbicara entah apa.Al bisa membaca raut wajah Karan yang begitu tak nyaman disana.
Tanpa basa basi Al mengantongi ponsel miliknya dan segera menghampiri Karan.
"Lepasin tangan dia." gertak Al dari belakang Karan.
Karan sedikit terkejut dengan kedatangan Al.
"Lo bisa nggak sih, sekalian aja nggak usah ikut campur urusan gue sama Karan."
Al menaikan sebelah alisnya sinis.
"Apa? lo mau bilang kalau lo sama Karan pacaran? cih, gue udah nggak percaya sama drama lo."
Tak ingin terjadi perkelahian antara Al dan Dean Karan langsung menarik lengan Al menjauh.
"WOI!" teriak Dean.
Al dan Karan tetap berjalan, tak memedulikan panggilan Dean.
"Kenapa?" tanya Al begitu mereka sampai di koridor ruang musik yang sepi.
"Apanya?" tanya Karan balik.
"Tadi."
Karan menyenderkan tubuhnya ke tembok. Mengatur nafasnya sebentar. Sedangkan Al hanya memandangi Karan dari samping.
"Nggak penting."
"Kalau lo di apa apain sama dia bilang gue."
Alih alih mengiyakan, Karan justru terdiam menatap Al.
"Gue nggak mau lo kenapa napa, apalagi gara gara dia." lanjut Al mengutarakan isi hatinya.
Karan tetap diam. Ia berusaha mencari kebohongan dalam mata Al. Namun, nihil. Tak ada kebohongan disana. Ia malah menemukan sebuah ketulusan yang tak pernah Karan jumpai sebelumnya di mata Al.
"Gue sayang lo." gumam Al sambil memeluk Karan yang tengah terdiam di tempat.
Entah kenapa akhir akhir ini, Al begitu sensitif dengan sebuah hal yang berkaitan dengan Karan. Seolah tak ingin gadis yang ia peluk itu pergi meninggalkannya.
Dua hari ini, Al pun selalu bermimpi tentang sebuah perpisahan. Dimana seseorang di mimpinya itu begitu blur.
"Lo kenapa?"
Al semakin mengeratkan pelukannya. Membuat Karan mengerenyit heran.
"Al?"
"Jangan pergi dari hidup gue bisa?"
"Lo ngomong apa sih. Sapa yang mau pergi, nggak ada yang mau pergi."
Karan merasakan pelukan yang semula begitu rekat, mulai mengendur. Karan bisa melihat mata Al yang tampak gelisah ketika kini mereka tengah berhadapan.
__ADS_1
"Al, gue nggak bakal pergi dari lo. Lo tenang aja ya."
...…...
"Lo jangan ngerasa menang dari gue dulu."
Karan yang semula mencuci wajahnya, segera mengangkat kepalanya. Ralina sudah berdiri disampingnya dengan bersandar pada tembok. Matanya memandang Karan penuh kebencian.
Karan memilih mengabaikan. Ia sedang tak ingin mencari masalah. Terutama dengan cewek ular disampingnya. Saat tangan Karan hendak mengambil tisu disebelah Ralina. Ralina langsung memutar lengan tangan Karan sehingga membuatnyanya merintih kesakitan.
"Aww..lepasin."
"Enggak."
"Gila lo, apasih mau lo sebenarnya."
Ralina berbisik tepat ditelinga Karan. "Jauhin Al."
"Lo nggak punya hak untuk nyuruh gue jauhin Al."
PLAK
Satu tamparan mendarat kencang di pipi Karan. Membuat gadis itu terhuyung kebelakang dengan pipi yang memerah.
Karan yang tak terima langsung menjambak rambut Ralina. Ralina pun tak mau kalah. Kedua tangannya meraih rambut Karan dengan ganas. Sehingga terjadi adu tangan antara Karan dan Ralina.
"Karan, Ralina!"
Karan dan Ralina tak menggubris seruan Bu Feni selalu guru BK yang kebetulan lewat.
"HEH KALIAN UDAHH!" Bu Feni menerobos masuk ke tengah tengah mereka, melerainya.
"Dia duluan Bu," ujar Karan sambil merapikan rambutnya.
"Engga Bu, dia yang nyari masalah dulu." elak Ralina.
"Bu-"
"UDAH!" teriak Bu Feni nyaring.
Bu Feni memandangi Karan dan Ralina satu persatu. "Ikut ke ruang BK."
"Lo yang mulai, jadi lo yang ikut." Karan mendorong tubuh Ralina pelan untuk ikut Bu Feni.
"Lo -"
"DUA DUANYA!"
...…...
"Al, tuh cewek lo dihukum sama mantan lo."
Al paham maksud Jevan sehingga ia langsung berdiri dan menghampiri Jevan yang tengah berdiri didaun pintu.
Dari kejauhan Al dapat melihat Karan dan Ralina sedang berdiri hormat di tengah lapangan pada siang bolong.
Akibat perkataan Jevan barusan. Hampir seisi kelas berhamburan keluar hanya untuk melihat Karan dan Ralina yang tengah dihukum.
__ADS_1
"Pasti berantem lagi." gumam Aura dan mendapatk anggukan kepala dari Nana.
Karan sudah tak peduli dengan para siswa yang melihatnya. Kini yang ia inginkan adalah duduk sambil menyeruput air dingin di pinggir lapangan. Tak ada yang lebih indah selain membayangkan air dingin mengaliri tenggorokannya yang kering.
Ketika Karan tengah menutup matanya. Pipi kirinya terasa dingin. Seperti ada sesuatu yang mengenai pipinya. Begitu ia membuka mata, Al sudah berada di samping Karan sambil menempelkan sebotol air dingin di pipinya.
"Thanks, lo tau aja yang gue butuhin."
Saat Karan hendak mengambil botol tersebut. Al justru meminum air dingin tersebut didepan Karan sampai habis.
"Lo mau ini kan?" Al menaruh botol bekas tersebut ke telapak tangan Karan. Kemudia. pergi begitu saja.
Karan mendelik tak percaya bisa bisanya ia dibuat malu oleh cowok itu.
"AWAS AJA NANTI!" teriak Karan kesal.
Al tertawa sambil setengah berlari, puas sekali rasanya menjahili Karan.
"Gue tunggu!" balas Al sebelum punggungnya hilang dari pandangan Karan.
"Nggak usah senang dulu. Al belum tentu bener bener suka lo."
Karan menoleh kearah Ralina, tersenyum sinis. "Iri mah iri aja."
...…...
"Permisi, Tante."
"Tante Lelita..."
Entah sudah keberapa kalinya Karan mengetuk pintu tapi tak ada yang sebetulnya Karan ingin beranjak dari sana. Tetapi, ia ingat betul bahwa tadi sebelum ia kesini. Tante Lelita tengah ada didalam rumah.
Perasaan Karan semakin tak enak. Ketika pintu tak kunjung dibuka buka. Sehingga dengan terpaksa Karan masuk kedalam rumah Al yang tak terkunci.
Karan berjalan menuju dapur, benar saja feeling-nya ia melihat Lelita pingsan di lantai dapur. Karan yang khawatir dan terkejut segera menelfon Mamanya.
"Ran, Mama mana, Mama kenapa?" panik Al, ketika ia baru sampai dari rumah sakit setelah latihan basket.
Karan mengelus pundak Al lembut. "Tuh Mama lo,"
Al melihat Namanya berbaring di sebuah ruang inap dengan selang infus di tangannya.
Al segera masuk dan duduk disebuah kursi. Disebelah Mamanya. Ia mengambil tangan Mamanya, mengusap dan menciuminya penuh kasih sayang.
"Nyokap gue lagi ngomong sama dokter. Jadi, gue nggak tau Mama lo kenapa. Tapi, doakan aja semoga Tante Lelita baik baik aja" kata Karan, tiba tiba dibelakang Al.
"Kenapa Mama gue bisa kaya gini?"
"Tadi, gue kerumah lo buat nganterin cake pesanan Tante Lelita. Waktu nyampe dirumah lo, Tante Lelita udah pingsan. Jadi gue sama nyokap bawa Tante Lelita kerumah sakit."
Al mengangguk pelan, "Thanks."
Karan ikut mengambil sebuah kursi dan membawa disebelah Al. Ia memeluk Al hangat. Menyalurkan sebuah kekuatan didalamnya.
"Lo tenang ya, gue yakin Tante Lelita bakal baik baik aja."
Tanpa Karan sadari. Al meneteskan sebulir air mata. Ia begitu takut apabila harus kehilangan sosok Mamanya.
__ADS_1
"Gue takut." gumam Al tanpa sadar.
"Ada gue disini, gue bakal terus nemenin lo. Lo jangan takut ya, doain aja yang buat kesembuhan Tante Lelita."