
Pernyataan yang baru Farel lontarkan membuat Al kini berada di depan rumah Ralina.Ia terlihat tenang, tapi tidak untuk hatinya. Rumah Ralina terlihat sepi, seperti tidak ada orang didalam. Al hampir menyerah dibuatnya.
Al melangkahkan kaki pelan menuju mobil yang terparkir rapi didepan rumah Ralina. Menunggu Ralina di dalam mobilnya.Baru saja Al hendak masuk ke dalam mobil, dari arah berlawanan datang pula mobil yang tak asing bagi Al.
Mobil itu berhenti didepan rumah Ralina. Menurunkan sosok yang Al tunggu sedari tadi. Kemudian pergi, entah kemana.Fokus Al bukan ke mobil yang bisa menjadi petunjukn.Melainkan ke Ralina.
"Ralina." panggil Al.
Ralina menoleh dan tersenyum
"Darimana?" tanya Al to the point
"Rumah Tante, Tante aku sakit tadi." jawab Ralina santai
"Kok nggak bilang?"
"Aku lupa, buru buru tadi."
"Terus itu tadi siapa yang nganterin kamu?"
"Sepupu aku. Kenapa sih kamu kok jadi posesif gini."
Alih alih menjawab pertanyaan Ralina barusan. Justru Al melemparkan pertanyaan balik.
"Ran, kamu serius nggak sama aku?"
Ralina terkekeh. "Lucu pertanyaan kamu, iyalah aku serius sama kamu. Aku itu sayangnya cuma sama kamu." alibi Ralina "Kenapa sih kok tiba tiba nanya gini, ada yang bilang sesuatu ke kamu?"
Al menggelang, memeluk Ralina penuh ketulusan. Berbeda dengan Ralina yang diam diam menusuk Al dari belakang.
...…...
"Rann!!" heboh Nana dan Aura
Karan yang tengah memainkan ponselnya di kelas langsung menoleh ke sumber suara.
"Ngapain sih lo?"
"Itu.. itu..." Nana menunjuk lapangan dengan nafas terengah-engah
"Itu apaan?"
"Al sama Dean" lanjut Aura
Sontak Karan langsung bangkit dari duduknya, berlari keluar kelas. Begitupun anak kelas lain yang kepo.
Lapangan sudah ramai oleh para siswa, bukannya membantu melerai melainkan bersorak sorai mendukung jagoannya masing masing.
__ADS_1
Al dan Dean saling adu kekuatan. Seolah tak menghiraukan sekitar.Karan tak tahan melihat itu semua, apalagi alasan mereka berantem adalah perihal kemarin pulang sekolah.
Cewek itu langsung menerobos masuk ke lapangan. Ia berlari, nekat berdiri di tengah tengah kedua cowok tersebut. Pada waktu bersamaan pula, Dean hendak melayangkan pukulan ke arah perut Al. Alih alih mengenai Al, justru pukulan tersebut mengenai tepat di perut Karan yang baru datang.
Karan jatuh pingsan setelah mendapat serangan tak disengaja oleh Dean. Beruntung Al langsung siap siaga, ia membawa Karan ke UKS. Sedangkan Dean terdiam di tempat, bagaimana bisa ia malah melukai perempuan yang ia cintai tersebut.
Sudah dua jam Karan tak sadar. Dua jam itupula Al senantiasa menemani Karam disampingnya. Bahkan cowok itu rela bolos pelajaran hanya demi cewek yang paling ia benci dulu.
Ralina berjalan masuk kedalam UKS. Menepuk pelan bahu Al.
"Aku mau ngomong." Ralina berjalan keluar UKS, diikuti oleh Al.
"Apa?" tanya Al langsung ke inti.
"Aku nggak suka kamu berlebihan gitu sama Karan."
Al mengerenyitkan dahinya. "Berlebihan gimana?"
"Ya kayak gitu.Kamu sampai rela relain bolos pelajaran, cuma demi cewek kayak gitu."
"Ran, tanpa sadar dia yang udah nolongin aku tadi. Aku cuma pengin berterima kasih sama dia, makanya aku ngelakuin hal ini."
"Untuk kali ini, lain kali aku nggak suka kamu berurusan lagi sama yang namanya Karan."
Al tersenyum kecil, mengangguk dan kembali berjalan masuk ke UKS.
Beberapa menit setelah Al keluar, Karan mulai membuka matanya.Memandang langit langit UKS untuk beberapa waktu kemudian Berusaha untuk duduk, namun perutnya masih terasa nyeri.
"Aw," rintih Karan. "Woi, fungsi lo duduk disini ngapain sih. Bantuin gue kek." kata Karan pelan dari biasanya
"Ogah." balas Al jutek.
"Kalau nggak mau pergi sono." Karan tetap berusaha untuk duduk.Namun Al malah mencegahnya dengan memegang lengan Karan.
"Ngapain lo pegang pegang, bukan mukhrim."
Al berdecak. "Jangan duduk dulu ego, perut lo masih sakit. Dibuat tidur dulu.
Mau tak mau Karan segera kembali ke posisinya semula. "Capek punggung gue."
"Gak nanya."
"Dih, siapa yang ngomong sama lo. Gue ngomong sama tembok."
Hening berberapa menit tak ada yang bersuara lagi.
"Kok gue bisa disini ya? kenapa tadi, seinget gue lo sama Dean berantem terus gue menengahi kalian terusss?"
__ADS_1
Al diam tak menjawab menatap Karan datar.
"Anjir, gue nanya sama lo kali ini bukan sama tembok." kesal Karan.
"Nggak tau, lo liat aja besok di akhirat rekaman ulangnya gimana."
"Bahasa lo serem banget."
Al berjalan dengan langkah panjang menuju kelas Ralina. Ia sempat bertemu denga Dean didepan BK.Dean melemparkan tatapan penuh kebencian ke arah Al.Cowok itu memilih mengabaikannya dan pergi. Ada banyak yang harus ia kerjakan daripada memancing emosi dengan Dean.
Belum sampai dikelas Ralina,Al melihat Ralina yang tengah berjalan bersama kedua temannya.
"Na!"
Ralina menoleh tersenyum kearah Al dan menghampiri pacarnya itu.
"Haii sayang, jadi pulang bareng kan?"
Al mensejajarkan tingginya dengan Ralina. "Maaf ya buat kali ini nggak bisa, besok ya aku janji."
Binar di mata Ralina langsung hilang begitu saja. Diganti dengan raut kesal yang tertahan.
"Kenapa? Karan?"
Al diam mengangguk. "Maaf ya."
"Iya." Ralina pergi meninggalkan Al dengan kekecewaan. Al menghela nafas panjang.
"Woi, berooo," heboh Reonal dari belakang, ia datang bersama Devon dan Farel yang jelas menampakan raut kesal.
"Kenapa tuh cewek lo?" tanya Devon
"Ngambek, gara gara gue ngebatalin janji pulang bareng."
"Yaela, didepan lo pura pura ngambek. Coba dibelakang lo, seliar apa dia." Ujar Farel sambil berjalan, ia dengan sengaja menabrak bahu Al.
Al yang tak terima langsung menghadang langkah Farel. Mencengkram baju seragamnya.
Farel terkekeh. "Kenapa? Lo nggak terima? mau pukul gue lagi? silahkan."
Devon dan Reonal sontak saling bertatapan dan sengol menyenggol. Sepertinya keduanya tengah terlibat masalah.
"Lo butuh bukti kan? ke rumah gue nanti malam dan lo bakal lihat semuanya."
Farel menepis tangan Al yang bertengger di kerah seragamnya. Pergi meninggalkan ketiga sahabatnya dengan tanda tanya diatas kepala.
-Hai readers setia Al dan Karan maaf ya upnya, lamaaa bgt.Banyak tugas, huhu(bakal diusahain cepet kok)
__ADS_1
BTW STAY YAA NEXT EPS KEBONGKAR NIH, YG PALING KALIAN TUNGGU!!!