Al Dan Karan

Al Dan Karan
28.Masing masing


__ADS_3

"Woi lo nggak main?" tanya Devon sembari mengarahkan stick PS ke arah Al yang memejamkan mata disebelahnya.Al menatap stick itu kemudian kembali memejamkan mata.


"Dugong, kalau nggak mau bilang gak jangan diem aja lo kaya patung." omel Devon


"Kan emang patung gimana sih lo." sahut Farel yang masih sibuk bermain.


"Emak lo dulu ngidam apaan sih,anaknya bisa gini?"


"Es batu kutub utara kali." jawab Reonal asal. "Eh,Al lo kenapa dah diem aja enggak kayak biasanya?"


"Re emang biasanya Al ngomong?"


"Yaa enggak sih,tapi masih konek dikit dikit daripada hari ini udah kaya jelmaan patung dufan tuh."


Tanpa ba bi bu Al mengeplak kepala Reonal yang kebetulan ada disampingnya.


"Ah mas kasar, enggak sukaa hh gelayyy!" Reonal mengusap kepalanya dan berteriak seolah tersakiti.


"Kadal diem dulu bisa enggak sih!" ketus Farel


"Siapa lo emak gue?" sinis Reonal,Farel hanya berdecak malas menanggapi sahabat bobroknya itu.


"Btw Al,lo sama Ralina gimana?" tanya Devon tiba tiba.


Al membuka matanya dan mengesah panjang. "Ya gitu."


"Sebenarnya disini yang digantungin itu lo apa dia sih?"


"Al lah bego!" caci Devon kearah Reonal. "Terus kenapa tu akhir akhir ini Karan udah enggak pernah gangguin lo lagi?"


"Iya, biasanya lo kemana aja selalu diikutin lah ini ngeliat lo aja ogah kayaknya." timpal Farel


"Bagus lah,risih gue sama dia." sarkas Al


Al bisa berkata seperti itu didepan sahabatnya tapi hatinya dan matanya tak pernah bisa berbohong.Hatinya mengharap hal itu terulang sedangkan matanya menatap sendu ke depan.Ada sedikit perasaan rindu dihatinya.


"Kasian Karan cantik cantik di sia-siain,kalau dia suka gue mah udah gue gas kali." gumam Reonal


"Buaya lo, Aura di embat sekarang Karan," cibir Farel


"Dih yang penting bukan Marsya kali."


Farel mengehentikan gamenya sejenak dan menoleh kearah Reonal.


"Apaa?" sewot Reonal


Bukannya menjawab Farel mengacungkan jari tengah lalu kembali melanjutkan gamenya.


...…...


"Ayoo cepat ke lapangan upacara sebentar lagi di mulai!"


"Arya itu rambutnya udah panjang bukannya dipotong malah di pelihara kayak jamet!"

__ADS_1


"Nurul itu roknya astagfirullah!"


"Ini juga Devon dasinya!"


Teriakan Pak Ipun menggema di koridor sekaligus menegur para murid yang masih di koridor.


"Ck galak bener Dasi miring dikit aja di komentarin." cibir Devon saat mereka berempat sampai di lapangan.


"Biasalah." sahut Al seadanya.


Upacara berlangsung khidmat seperti biasa dibawah terik matahari yang kali ini panasnya berkali kali lipat.


Karan berkali kali menyeka keringatnya berharap upacara ini cepat selesai.Saat tengah mengedarkan pandangan mata Karan terfokus pada Al yang tiba tiba saja meminta tukar barisan dengan Reza.Reza mengangguk mengiyakan karena barisan Al tadi tidak terlalu kena panasnya sinar matahari.


Karan masih melihat Al dari kejauhan,tidak faham dengan apa yang cowok itu lakukan.Semua orang ingin ada di barisannya tadi,lah dia malah minta panas panasan di tengah.


Sedetik kemudian Karan baru menyadari bahwa disamping Al ada Ralina yang terlihat kepanasan.Hal itu yang membuat Al maju.Cowok itu berniat menghalangi sinar matahari dari tubuh mungil Ralina.


180 derajat mood Karan langsung berubah.Lagi lagi yang ada di otaknya hanya pertanyaan 'kenapa bukan gue?' padahal itu pertanyaan yang jelas jelas Karan sudah tau jawabannya.


"Dih sok banget sih biar apa coba kayak gitu." cibir Aura saat melihat aksi Al barusan.


"Iri aja lo bilang aja pengen,kasian jomblo." sahut Nana dari belakang Aura


Aura memutar bola matanya kesal."Ngaca bego lo kira lo engga apa?"


"Enggak tuh udah punya pacar gue."


Refleks Aura dan Karan memutar-mutar badannya kebelakang dan menatap Nana tidak percaya. "Serius? siapa pacar lo?"


"Nah kepo kan lo pada,jadi pacar gue tu-" ucapan Nana terpotong dengan suara tegas milik Pak Ipun yang memanggil nama mereka bertiga.


"Shit,kena lagi." ringis Nana


"Kalian bertiga ikut bapak!"


Dengan terpaksa mereka bertiga mengikuti langkah Pak Ipun dari belakang.


"Lo sih na!" tuduh Aura kepada Nana


"Lah kok gue kan lo berdua."


"Lo yang mulai."


"Dih lo yang pertama banget mulai."


"Kok gue,salahin Al lah."


Pak Ipun berhenti dan menoleh kebelakang melihat Aura dan Nana yang tengah berdebat."Kalian bisa diam tidak!"


"Aura pak yang mulai."


"Kok gue kan lo yang-"

__ADS_1


"Udahh!"


Mereka berdua terdiam sedangkan Karan hanya cekikikan di samping Nana.


"Gak lucu!" sewot Nana dan Aura bersamaan.


...…....


"Al makasih ya yang tadi." ucap Ralina saat mereka berdua hendak meninggalkan lapangan.


Al tersenyum kecil. "Iya sama sama gapapa kok."


"Umm gue mau beli minum dulu nih lo mau langsung ke kelas apa gimana?"


"Ikut lo aja deh."


Mereka berdua berjalan bersisihan menuju kantin.Saat itu juga Karan bersama ketiga temannya yang selesai mendapatkan hukuman membersihkan lapangan basket berpas-pasan dengan mereka.


Pandangan Karan sempat bertemu dengan Al tapi dengan cepat Karan memutusnya, dia segera mempercepat jalannya.Sudah cukup dengan yang tadi.Begitupun dengan Aura.


Lain halnya dengan Nana,cewek itu malah menghampiri keduanya dan mengatakan. "Btw tadi lo keren Al,kayak di drama korea gitu.Pasti lo sering nonton drama korea kan ngaku lo,pasti dra-"belum sampai Nana melanjutkan ucapannya.Tangannya sudah ditarik oleh Aura untuk segera pergi.


"NANTI KALAU LO MAU NANYA TENTANG DUNIA PER-DRAKORAN TANYAKAN GUE AJA YAA!" teriak Nana dengan sebelah tangganya ditarik paksa oleh Aura.


Al dan Ralina hanya geleng geleng kepala.Sedangkan para murid yang tengah berlalu lalang di koridor menatap Nana dengan pandangan aneh.


'Kalau bukan temen gue udah gue ceburin ke kolam buaya.' batin Aura kesal


Saat akan berbelok Karan berpas-pasan dengan Dean. "Eh hai Ran!"


Karam tersenyum tipis,"Hai juga yan."


"Umm.. nanti mau nggak ke kantin bareng gue?" tawar Dean


Sebenarnya Karan ingin menolak tapi mengingat Al dan Ralina membuat pikirannya berubah.Karan mengangguk mengiyakan.


"Yaudah gue duluan ya ke kelas." pamit Karan


Dean mengangguk.Cowok itu menatap punggung karan yang semakin lama semakin hilang di makan pertigaan koridor.


Ting!


Satu pesan masuk di ponsel Dean.Dengan segera Dean membukanya.Tangannya terkepal kuat ketika melihat apa pesan yang ia terima.Cowok itu langsung berlari entah kemana.


Disisi lain,sebelum Ralina benar benar masuk kedalam kelasnya.Al sempat berkata."Gue sayang lo."


Ralina yang mendengar itu mematung di depan kelasnya.Sedangkan Al tersenyum kecil dan pergi meninggalkan Ralina.


"Eh ran kenapa lo?" tanya Naura teman sebangkunya.


Bukannya menjawab Ralina hanya tersenyum sambil memasuki kelas.Meningalkan Naura dengan segudang keponya.


------

__ADS_1


Maaf author jarang up, jangan lupa comment,vote yaa :)


__ADS_2