
Karan dan Al memilih bolos di cafe yang agak jauh dari sekolah mereka. Mereka berdua menikmati makanan dan minuman yang sudah dipesan. Tak ada pembicaraan diantara mereka. Hanya suara sendok dan garpu yang saling bertemu.
Mata Al tak bisa lepas untuk tak menatap Karan yang tengah sibuk makan. Semua tentang Karan merupakan hal favorit bagi Al dari dulu sampai detik ini.
"Ngapain lo ngeliatin gue mulu?" tanya Karan yang sadar Al memperhatikannya.
"Lo cantik." gumam Al pelan sanggat pelan, bahkan semut pun sepertinya tak bisa mendengar.
"Hah? lo ngomong yang keras kek."
"Lo masih ngantuk?" Al berusaha mengalihkan perhatian.
Karan menggelang dan kemudian melanjutkan makannya lagi. Melupakan apa yang Al gumamkan beberapa detik tadi.
Setelah keduanya mengisi perut masing masing. Mereka memilih mengunjungi salah satu Mall di Jakarta.
"Lo mau ngapain sih ke gramed?" tanya Karan begitu mereka hampir sampai ke store Gramedia.
"Gue maunya jawaban, bukan. 'Menurut lo' ."
Al terkekeh, ternyata gadis itu sudah hafal dengannya.
Al tak menjawab, justru ia berjalan terlebih dahulu memasuki store tersebut. Karan hanya bisa mengikuti dengan pasrah.
"Es batu kalau dikasih nyawa ya kek gini."
Al mulai mencari cari buku yang menarik hatinya. Sesekali ia membaca bagian sinopsis, kemudian menaruhnya kembali. Dan terus begitu saja, sampai Karan yang berada dibelakangnya merasa jenuh.
"Lo mau beli yang mana sih, semuanya aja lo bacain tuh sinopsisnya." kesal Karan
Ocehan Karan seperti angin lalu bagi Al. Bahkan, ia tak merespon sedikit pun ucapan Karan. Seolah tak ada orang disampingnya.
Karena merasa kesal, Karan memilih berjalan jalan sendiri menyusuri rak demi rak. Karan tak terlalu suka dengan buku, berbeda dengan Al yang begitu tergila-gila dengan buku. Karan mengambil salah satu komik. Alih alih membacanya, Karan justru hanya membuka buka halaman untuk melihat gambarnya.
"Ini tuh dibaca, bukan dilihat gambarnya doang. Kalau cuma mau lihat gambar gambarnya aja, noh buku anak Tk" sahut Al dari belakang Karan, tangan kanannya menujuk rak buku khusus anak anak.
Karan menoleh dengan tampang kesal. "Serah gue."
__ADS_1
Al mengacak acak rambut Karan gemas.
Rambutnya yang diacak acak, hatinya yang bergetar. Karan tak lagi tertarik untukmelihat gambar gambar di komik. Ia lebih tertarik merasakan kupi kupu dalam jumlah yang banyak berterbangan di perutnya.
"Lo udah kan? balik yuk."
Karan berjalan keluar store mendahului Al. Berusaha menyembunyikan semburat kemerahan dipipinya. Sedangkan Al menuju kasir terlebih dahulu untuk membayar buku buku yang ia beli.
Keduanya berjalan menyusuri mall. Begitu sampai didepan tempat yang menjadi favorit anak anak, Timezone.Karan dengan antusias mengajak Al masuk ke tempat tersebut.
"Katanya tadi lo ngajak balik?" Al berusaha menggagalkan rencana Karan untuk ke Timezone.
Karan berdecak, "Nggak jadi. Udah ih, ayo."
Mereka berdua menikmati berberapa permainan di Timezone dan menjadi pusat perhatian. Bagaimana tidak, mereka begitu mencolok dengan seragam SMA- nya.
"Al," panggil Karan
"Kenapa?"
"Photo booth yuk."
Tak butuh waktu lama, hasil dari foto mereka telah keluar.
"Kok gue gini amat sih, jelek banget." ujar Karan sambil memperhatikan dengan seksama hasil foto tersebut.
Al mengambil foto dari tangan Karan. "Bagi lo, lo jelek? padahal bagi gue lo cantik sih ini."
Karan auto melotot, begitu mendengar pernyataan itu dengan gampang keluar dari mulut Al. Sudah tidak usah diatanyakan bagaimana hati Karan sekarang.
"Apaansi lo, gombal."
"Fyi, gue nggak bisa gombal apa yang gue omongin pure dari realita."
"Udah ah, ayo balik." Lagi lagi Karan langsung ngcir pergi meninggalkan Al. Berdekatan dengan Al dalam tidak sehat untuk hatinya.
Jam sudah menunjukkan pukul tiga sore. Karan dan Al berhenti di sekolah mereka. Untuk mengambil tas dan motor Al. Kemudian keduanya melanjutkan perjalanan untuk pulang kerumah masing masing. Al sengaja mengambil jalur yang tak biasa ia lewati. Agar ia masih bisa terus berdua diatas motor meniti jalanan Jakarta bersama perempuan di belakangnya.
__ADS_1
"Perasaan ini bukan jalan pulang deh." Karan tersadar begitu jalanan ini asing di matanya.
"Sotoy lo."
"Awas ya, kalau lo sampe bawa gue ke tempat yang enggak enggak. Gue tonjok lo."
Al tersenyum kecil, matanya tetap fokus mengemudikan motornya. Sedangkan Karan, menoleh kesana kemari. Seumur umur ia tinggal di Jakarta, ia tidak pernah melewati jalanan ini.
"Dari bocil gue tinggal disini kok gue nggak pernah liat ni jalanan." cerocos Karan
"Btw, lo mantan gojek ya? kok bisa tau segala macam jalanan di Jakarta sih?" tanya Karan heran.
Al hanya bergumam.
"Serius? wah keren dong. Lo pasti ahli nih urusan jalanan gini. Eh, lo pernah lihat jalanan misterius nggak di Jakarta? atau jalanan yang bisa ngehubungin antara dimensi satu ke dimensi lain gitu?"
"Kebanyakan nonton kartun lo."
"Ihhh serius ini, pernah nggak?"
"Pernah."
Karan menabok punggung Al kencang dengan excited. Membuat Al hampir hilang kendali.
"Lo bisa nggak kalem dikit, hampir jatuh nih gue."
"Ya habisnya gue penasaran. Lo lihat jalanan misterius dimana? cerita dong?" Karan mendekatkan kepalanya di pundak Al, agar nantinya ia bisa mendengar cerita Al dengan jelas tanpa halangan angin.
Belum juga membuka cerita, tiba tiba langit mulai menurunkan isinya. Awalnya tak terlalu deras lama lama semakin deras. Sehingga mereka harus berteduh di depan sebuah ruko yang tutup.
"Hujannya nggak tau situasi banget."
Al menyentil dahi Karan membuat sang pemilik meringis. "Bersyukur di kasih hujan."
**Haiii guysss maaf ya aku baru up, baru kelar ujian soalnya. Maaf banget ya, bakal rajin up kaya sebelumnya lagi. Btw makasih ya yg masih setia sama Al dan Karan
saran dan kritik selalu dinantikan dan
__ADS_1
makasih**