Al Dan Karan

Al Dan Karan
62. Selesai


__ADS_3

Karan dan Dean tengah menikmati malam minggu mereka di sebuah restoran ternama. Usai menikmati makan malam telah tersebut Dean izin pergi ke toilet.


Sembari menunggu Dean Karan memainkan ponselnya. Mengscroll Instagram pribadinya. Kegiatan Karan terhenti ketika ponsel Dean bergetar. Ada panggilan dari nomor tak dikenal.


Mulanya Karan mengabaikan panggilan tersebut. Tapi karena berdering terus menerus, akhirnya Karan gemas sendiri.


Saat hendak menyentuh ponsel Dean. Tiba tiba Dean datang dan langsung mengambil ponselnya dengan gerakan cepat membuat Karan sediki terkejut. Tak banyak bicara Al menjauh dari Karan untuk mengangkat panggilan tersebut.


"Dari siapa?" tanya Karan ketika Dean sudah kembali.


"Aku nggak suka ya kalau kamu lancang kayak gitu." alih alih menjawab Dean malah berbicara demikian.


"Iya maaf, tapi itu berdering berkali kali."


Dean mengangguk dengan ekspresi datar tak seperti biasanya.


"Emang dari siapa?"


"Temen SMP aku."


Karan mengangguk, seolah percaya dengan apa yang Dean ucapkan. Meskipun sebenarnya dalam hati Karan meragukan ucapan Dean.


"Kita langsung pulang aja ya malam ini."


Karan mengerenyitkan dahi. "Loh kenapa? bukannya setelah ini kita mau ke tempat yang kamu tunjukin tadi?"


"Sayang, nggak bisa sekarang. Kapan kapan aja."


Karan yang memang dasarnya keras kepala. Tetap mendesak Dean untuk mengatakan alasan mengapa mereka harus pulang lebih awal.


"Temen SMP aku ada yang sakit. Makanya tadi aku di telepon, disuruh cepat cepat kesana. Aku mau nolak tapi enggak enak. Maaf ya sayang."


Karan mengangguk, berusaha mengerti.


Setelah sampai didepan rumah Karan. Cewek itu segera turun dari mobil Dean.


"Jangan tidur kemalaman ya."


Karan mengangguk dan tersenyum menganggapi.


Ketika mobil Dean sudah agak menjauh. Karan langsung mengambil kunci mobilnya dan mengemudikan mobil tersebut untuk mengikuti kemana Dean peri.


Akhir akhir ini Karan dibuat curiga dengan tingkah Dean yang tak seperti biasanya.


"Lah ini kan rumah sakit yang dia katakan tadi, kok malah terus sih." gumam Karan kepada dirinya sendiri.


Karan terus mengikuti Dean dengan rasa penasaran yang tinggi. Ia merasa ada yang tak beres. Beruntungnya, jalanan malam ini sedikit lengang memudahkan Karan untuk melakukan misi ini.


Mobil Dean berhenti di sebuah rumah bercat putih. Karan ikut menghentikan mobilnya agak jauh dari tempat Dean berhenti.


Dean turun dari mobilnya dan sudah mengganti bajunya dengan kaos berwarna hitam. Karan tak mungkin tahu apa yang terjadi kalau dirinya hanya duduk diam disini. Sehingga ia turun dari mobilnya dan bersembunyi di balik pepohonan.

__ADS_1


Dean tampak sedang mengetuk pintu rumah dimana ia berhenti tadi. Betapa shock-nya Karan ketika melihat siapa yang keluar dari rumah tersebut. Ralina Tyvana.


Sebelum masuk kedalam rumah. Dean menciumi Ralina dan memeluknya. Perasaan Karan seolah di hancurkan tanpa ampun


. Karan kira Dean datang untuk mengobati lukanya, ternyata ia sama saja. Datang membawa luka.


Air mata Karan mulai berjatuhan. Seorang yang Karan kira tulus mencintainya, ternyata bermain api dibelakangnya.


Takut ketahuan, Karan segera berlari kembali menuju mobilnya dan mengemudikan pulang. Sudah cukup, Karan tahu sampai sini.


Karan menangis sambil mengendarai mobilnya. Semesta seolah menghukumnya, berkali kali hati Karan dipecahkan begitu saja. Karan merasa bodoh, ia seolah terjebak dalam permainan yang Dean buat.


Setelah sampai dirumah. Karan tak langsung masuk, ia duduk didepan gerbang rumahnya. Menekuk kedua kakinya dan mulai menangis pelan. Beruntung, keadaan komplek saat itu sanggat sepi. Karan menangis sejadi jadinya dalam diam, menyuarakan laranya kepada semesta.


Tanpa sepengetahuan Karan. Al dari tadi memperhatikan gerak gerik Karan dari depan rumahnya. Hati Al tergerak untuk menghampiri Karan.


"Lo mau caper ke siapa sih? nangis depan rumah malam malam gini." kata Al.


Karan langsung mendongak, Al sudah berdiri dihadapannya dengan tampang datar seperti biasa.


"Lo nggak lihat gue lagi sedih." omel Karan


"Menurut lo?"


"Udah deh, kalau lo mau ngajak gue berantem jangan sekarang. Mending lo pergi deh." kesal Karan


"Kalau gue nggak mau?" pancing Al


Bukannya pergi Al malah duduk disamping Karan. Dengan jarak yang agak jauhan. Karan menoleh menatap Al yang sedang mendongak menatap langit. Karan baru sadar, bahwa disini bukan hanya dirinya yang terluka. Tetapi,


Al juga. Bahkan cowok itu sepertinya tak tahu kalau cewel yang ia sayangi hanya memanfaatkannya.


"Ngapain lo ngeliatin gue?"


Karan mendegus, kembali menatap lurus kedepan.


"Lo kenapa nangis?" tanya Al pelan


"Nggak tau, gue capek. Gue pengin ketemu Papa."


Al langsung bangkit dari duduknya. "Ayo!"


"Mau kemana?"


"Katanya lo mai ketemu bokap lo, ayo gue anterin."


Tanpa berpikir panjang, Karan menerima ajakan Al untuk mengunjungi makam Papanya.


...…...


Karan yang sedang mengobrol dengan Farel di koridor langsung ditarik oleh Dean.

__ADS_1


"Ih, apaansi." Karan menghentakan tangan Dean yang menarik lengannya.


"Ikut aku, aku mau ngomong."


Karan dengan terpaksa kemudian mengikuti Dean dari belakang. Dean membawa Karan ke gedung belakang sekolah untuk berbicara empat mata.


"Kenapa?" tanya Karan datar


Dean terkekeh. "Kamu masih nanya kenapa. Apa kamu nggak inget apa yang aku omongin seminggu lalu?"


"Inget."


"Terus kenapa kamu masih dekat dekat dengan cowok lain? aku udah bilang, aku nggak suka kamu dekat sama cowok lain. Terutama Al."


"Yan, stop kamu berlebihan banget tadi Aku sama Farel cuma bicara doang lagian, kita juga temen."


Dean membuang muka muak.


"Berlebihan kamu bilang? terus ini apa?" Dean menunjukan foto dimana Al dan Karan berboncengan dua hari lalu. Ketika mereka hendak ke makam Papa Karan.


Karan melipat tangannya didepan dada. "Imbang dong."


Dean menurunkan ponselnya, menatap Karan tak mengerti.


"Maksut kamu?"


"Iya imbang. Kamu sama Ralina, aku sama Al."


"Aku nggak ngerti maksut gimana."


"Udahlah sayang, nggak usah berlaga bego kayak gini. Aku udah tau semua."


"Tau apa?" sahut Dean


"Tahu kalau lo punya hubungan spesial sama Ralina."


"Berhenti omong kosong."


"What? omong kosong? Yan, dua hari lalu setelah kita di restoran malam itu. Gue ngikutin lo dari belakang. Semuanya udah jelas,o main api dibelakang gue, bersama Ralina."


Dean mencengkram lengan Karan. "Kenapa lo ngikutin gue."


"Karena lo makin hari makin aneh." kata Karan tajam. "Makasih udah nunjukin sifat asli lo yang nggak jauh beda sama Ralina. Kita sampai sini aja."


"Karan tunggu!" langkah Karan dicegat oleh Dean.


"Dengerin gue dulu ran."


"APA YANG HARUS GUE DENGER YAN, GUE UDAH MUAK SAMA LO." teriak Karan berlari pergi meninggalkan Dean.


"LO LIHAT AJA RAN, LO BAKAL BALIK SAMA GUE. CUMA GUE YANG BISA MILIKIN LO RAN!"

__ADS_1


Karan berlari sekencang kencangnya, menjauh dari gedung belakang.


__ADS_2