Al Dan Karan

Al Dan Karan
47.Keraguan


__ADS_3

Gedung yang di dominasi warna putih sudah ramai oleh para murid SMA Tunas Bangsa.Karan turun dari mobilnya.Saat ia hendak melangkah meninggalkan parkiran.Ia tak sengaja menangkap sosok Ralina yang keluar dari mobil Al bersama sang pemiliknya.


Karan berpura pura memainkan ponselnya.Kala mereka berdua lewat di hadapannya.Gadis itu menghela nafas panjang,menoleh ke arah Al dan Ralina yang sudah berjalan agak jauh darinya.


Tatapan mata Karan berubah menjadi sendu.Hatinya terasa sakit, saat melihat orang yang dia cintai tertawa bersama orang lain. Al sepertinya sadar tengah di perhatikan sehingga iamenoleh kebelakang.Sekilas matanya berpapasan dengan Karan, sebelum akhirnya cowok itu kembali fokus ke depan.


"Sakit ya, ngeliat dia sama yang lain?" suara berat seorang cowok dari belakang, membuat Karan sedikit terlonjak.


Dean tersenyum lebar. "Sama kayak gue, ketika ngeliat cewek yang gue sayang.Ternyata, belum bisa ngelupain orang yang bikin dia sakit hati.


Karan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.Merasa dirinya tengah di sindir dia tersenyum kikuk.


"Eh, lo nggak mau masuk ke kelas?gue mau ke kelas dulu ya.See you, yan." pamit Karan begitu saja.


Karan berjalan terlebih dahulu sambil melambaikan tangan sekilas Ke Dean.


"Sial.Gagal lagi." umpat Dean pelan.


Sepanjang pelajaran Biologi,Al tidal fokus mendengarkan.Kepalanya memutar percakapan semalam dengan sahabatnya.


Malam ini.Devon, Reonal dan Farel berkumpul di kamar Al,Memainkan game ps.


"Al," panggil Devon


Al yang di panggil, menoleh sekilas ke arahnya.


"Hubungan lo sama Ralina itu apa sih?" tanya Devon to the point


"Tau tuh,kemana mana barengan terus.Giliran ditanya hubungannya apa, jawabannya 'cuma temen'." sahut Reonal sembari mencomot kentang goreng.


Benar apa yang dikatakan Reonal.Tak ada hubungan, ataupun ikatan, yang dimana masing-masing bisa pergi begitu saja.


"Ya gitu." jawab Al seadanya.

__ADS_1


"Ya gitu, ya gitu.Lo cowok nembak duluan atau gimana kek." gemas Devon


Almenoyor kepala Devon dari belakang.Membuat cowok itu berdecak.


"Enak lo kalau ngomong.Gue udah nembak ke lima kalinya,dia tetap nggak ngasih gue kepastian."


"Buset.Kalau dia nggak ngasih lo kepastian,tinggalin lah.Banyak cewek yang mau sama lo." Farel yang sedari tadi terdiam kini angkat bicara. "Beda lagi kalau modelannya Reonal tuh.Baru,susah nyari cewek yang mau ngadepin gilanya dia."


"Yee jangan salah lo njir.Banyak cewek yang ngantri sama gue.Siapa sih, cewek yang nggak mau sama gue ha?"


"Tuh, Aura." kata Devon


"Kecuali ayang sih.Dia emang gitu anaknya.Malu malu,nanti juga bakal suka gue."


"Anjirt percaya diri lo udah ngelebihin batas." celetuk Al.


"Daripada lo.Situ manusia atau jemuran,kok digantungin mulu." ledek Reonal disertai sorakan heboh.Karena berhasil meng-skak Al


Al meletakkan stick psnya.Kemudian menyandarkan kepalanya pada sofa.


"Ragu gue." ucapAl pelan.


"Whay?" tanya Devon lagi.


"Lo ragu sama perasaan lo sendiri sebenarnya buat Karan atau Ralina kan?"


Mendengar pernyataan dari Farel. Sontak Al menegakkan badannya, tertawa kecil.


"Ya enggaklah ngapain gue ragu sama perasaan gue sendiri.Gue udah yakin, hati gue cuma buat Ralina."


Al bisa mengucapkan itu dengan santai, serta seolah olah itu adalah faktanya.Padahal, benar apa yang Farel katakan.Dia ragu akan perasaannya.Tak bisa di pungkiri, Al memiliki perasaan kepada Karan.Namun, ia tampik.Ia selalu membohongi perasaanya sendiri, bahkan sampai detik ini.


Farel mengangguk mengiyakan pernyataan yang Al lontarkan.Meskipun cowok itu tak percaya sepenuhnya, Farel percaya Al memiliki perasaan juga kepada Karan.Meskipun tak banyak, setidaknya sedikit.

__ADS_1


"Tapi ada yang harus lo tau.Siapapun yang sekarang lo anggep sebagai rumah, sebenarnya dia bukan benar benar rumah." kata Farel, kemudian mengambil alih stick PS di tangan Devon.


Al mengerenyit, mencerna ucapan Farel. "Maksut lo?"


Alih alih menjawab.Farel hanya terkekeh.Kemudian memilih memainkan PS.Al memilih mengabaikan ucapan Farel.Kepalanya berputar, ada berbagai pertanyaan yang tak bisa dijawab dengan logika.Entah, seberapa lama Al akan menyangkal sebuah fakta.


"Aldevan!" panggil Bu Ira.


Al mengerjapkan matanya berkali kali dan menegakkan badannya. "Ke.. kenapa Bu?"


"Hah, kenapa? Kamu kira, ibu nggak tau.Dari tadi kamu ngelamun terus.Kenapa sih kamu, ada masalah?"


Al menggelang pelan.


"Sekarang, kerjakan soal no 17,18,19.Nanti hasilnya tulis di papan!" perintahnya.


Al langsung menuruti apa yang Bu Ira mau.Al mengerjapkan mata berkali kali, sial.Dia tak faham sama sekali dengan ketiga soal ini.Pikirannya kacau, meskipun Al berusaha memfokuskannya.


Karan yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik Al.Langsung menyobek kertasnya.Menulis jawaban untuk Al dan mengopernya ke tempatnya duduk Al.


Al sedikit terkejut karena diam diam, Devon memberinya secuil kertas berisi jawaban.Tak mau membuang waktu, Al menyalin jawaban tersebut dan maju ke depan.Sesuai dengan perintah Bu Ira.


Bu Ira mengangguk puas ketika soal yang Al kerjakan benar.


"Thanks, bro jawabannya." kata Al berbisik.


Devon langsung mengerenyitkan dahinya. "Bukan gue bego yang ngasih.Gue mana bisa ni pelajaran.Tanya anak anak yang lain noh."


Al sedikit terkejut mendengar pernyataan dari sahabat sekaligus teman sebangkunya.Tapi, ia tak mau ambil pusing akan hal itu.


 


Hai guys maaf yaa upnya lama banget.Soalnya author ujian,huhu maaf yaa.Makaaih juga yang udah setia sama Al dan Karan.

__ADS_1


__ADS_2