Al Dan Karan

Al Dan Karan
84. Ex


__ADS_3

“Al nggak berangkat lagi?” tanya Aura kepada Karan yang baru saja datang.


Karan mengedikan bahu.


“Justru gue berharap dia nggak dateng sih hari ini.” Kata Karan


“Kenapa ngarep gue nggak dateng, gara gara yang kemarin?”


Aura dan Nana langsung mendongak kearah cowok yang tengah mereka bicarakan, ia berdiri tepat dibelakang Karan.


Karan sendiri tak berani menoleh. Ia masih malu akan kebodohannya di rumah Al kemarin.


“Wah, hayolo lo pada kemarin ngapain?” Nana memicingkan matanya curiga.


“Pasti lo berdua itu..kan?”


Karan mencubit lengan Nana dengan kencang. Membuat Nana berteriak kesakitan.


Al menggeleng gelengan kepala dan melanjutkan perjalanan menuju bangku yang sudah lama tak ia duduki.


Karan menghela nafas lega saat Al sudah masuk ke kelas terlebih dahulu.


“KARAN PARAH BANGET LO , SAKIT TAU!” teriak Nana kencang. Membuat ia menjadi pusat perhatian para murid yang tengah berlalu lalang.


Karan hanya nyengir tak berdosa, dan masuk kedalam kelas.


“Makanya punya mulut jangan rese.” Aura terkekeh, ikut menyusul Karan. Meninggalkan Nana yang menghentak hentakan kakinya kesal.


Sepanjang pelajaran kimia Karan berkali kali menguap menahan kantuk. Matanya begitu berat untuk diajak bekerja sama. Tak kuasa menahan kantuk, akhirnya Karan terlelap sambil menutupi wajahnya dengan buku paket kimia.


“KAREN!” teriak Bu Mila dari depan saat ia menyadari Karan tertidur pulas di bangkunya.


Seluruh murid di kelas, langsung memusatkan perhatiannya kearah gadis tersebut.


“Karan bu, bukan Karen.” Ralat Devon.


Bu Mila yang mendengar, melotot kearah Devon. “Terserah saya, mulut mulut saya.”


Berberapa murid dan Al yang ada disamping Devon, terkekeh oleh jawaban yang Bu Mila lontarkan untuk meng-skak Devon.


“Apa lo ketawa tawa gue sambit make golok, kelar idup lo.”sinis Devon kepada teman


sebangkunya. Al.


“KARAN!”


Gadis berambut kecoklatan masih terlelap dengan damai, tak terusik sedikit pun oleh teriakan Bu Mila.


“Anjir, kebo banget cewek lo.”gumam Devon.


“Calon.” Ralat Al, dengan senyum kecilnya.


Nana yang bertepatan duduk di depan Karan. Dengan sengaja menarik meja Karan yang dibelakangnya, agar gadis itu terbangun.


“Apa sih, Na. Ganggu orang tidur aja sih lo.”gumam Karan dengan mata yang masih tertutup.


Ia malah menganti posisinya dengan membelakangi Bu Mila.


“Niat kamu kesekolah untuk tidur apa belajar?” bentak Bu Mila


Karan membuka matanya lebar, menelan ludahnya susah payah. Perlahan ia menoleh dan mendapati Bu Mila sudah berdiri disampingnya.


“Berdiri didepan tiang bendera, sekarang.”


“T-tapi bu,”


“SEKARANG KAREN."


“Karan bu,”

__ADS_1


“Suka suka saya.”


“Tapi nama saya Bu. Papa Mama saya waktu bikin namanya juga mikir bu." Balas Karan. Sebelum ia benar benar meninggalkan kelas.


Bu Mila menggeleng gelengkan kepalanya. Sebelum akhirnya ia kembali melanjutkan pelajarannya.


Al sudah tak fokus dengan materi yang disampaikan oleh Bu Mila. Ia justru memikiran cara supaya dihukum juga oleh Bu Mila.


Al mengambil ponsel dan mulai membuka aplkasi game di ponselnya dan memainkannya ketika Bu Mila menjelaskan. Devon menyenggol lengan Al memberikan instruksi untuk menghentikan aksi gilanya. Tetapi, diacukan oleh Al, justru ia semakin menambah volume gamenya.


Seperti harapan Al, Bu Mila menegurnya dan menyuruhnya keluar kelas, berdiri di depan tiang bendera.Seperti halnya yang Bu Mila perintahkan kepada Karan tadi.


Alh alih menggrutu, Al justru menampakan raut senang di wajah datarnya.


Di lapangan Karan duduk jongkok dengan tangan yang ia gunakan untuk menutupi wajahnya dari sinar matahari.


“Ini nggak ada orang yang dihukum juga gitu, biar gue nggak keliatan ngenes sendiri disini.” Ucap karan kepada dirinya sendiri.


“Ekhem,” Al sengaja berdehem di sebelah Karan.


“Ya tuhan, jangan dia juga dong, yang lain kek.”


“Gue denger loh,”


“Biarin, emang sengaja.” ketus Karan


Keduanya kembali terdiam tak ada yang bersuara. Sinar matahari menyelimuti mereka. Berberapa siswa serta guru guru yang berlalu lalang pasti melihat mereka.


Bahkan, ada yang dengan sengaja berjalan berkali kali.Sampai sampai Karan hafal dengan wajah dan cara berjalannya. Siapa lagi, kalau bukan fans dari Al yang sengaja caper dan tebar pesona dihadapan Al.


Bahkan dari tadi ada segrombol cewek kelas X yang berdiam diri di pojok lapangan. Sembari menikmati kegantengan Al, katanya. Tentu hal itu juga membuat Karan risih. Bagaimana tidak, ia selalu ditatap sinis oleh mereka dan dianggap angin, seolah olah tak ada dirinya di samping Al.


Seperti yang dilakukan anak kelas XI ini.


“Hai kak Al,” sapa seorang gadis dengan rambut pirang berwajah blasteran.


'Helooo.. excuse me, gue disini ghaib apa ya?' batin Karan dalam hati.


“Dih,” Decak Karan ketika gadis itu sudah berlalu agak jauh dari mereka. Terlihat jelas wajah kesal Karan.


“Cemburu?”


Kara memutar bola matanya, “Ogah.”


“Yakin?”


“Banget."


Al manggut manggut, “Padahal gue berharap lo cemburu.”


“Never!”


Al menyeringai kecil, “ Gue pegang kata kata lo.”


...…...


Karan menselonjorkan kakinya yang terasa begitu sakit, akibat bediri dua jam lebih tadi. Sialnya, moodnya juga rusak karena ulah Al dan fansnya yang menyebalkan dimata Karan.


“OMG,ran lo harus tahu sesuatu.” Pikik Nana, ketika ia masuk kedalam kelas dan mendapati Karan ada disana.


Tak hanya Karan, berberapa penghuni kelas yang tak keluar disaat jam istirahat ikut menoleh.


“Suara lo kecilin dikit napa,” protes Edo yang terganggu dengan suara cempreng Nana.


Nana mengacuhkan Edo dan berjalan dengan girang ke belakang kelas, menghampiri Karan.


Aura menyusul Nana sambil membawa sebungkungkus somay dan sebotol air dingin.


“Lo tau ga sih ra,” Nana mulai membuka topik perbincangan. “Tadi Al sengaja main game di pelajaranya Bu Milla biar dia dihukum sama lo.”

__ADS_1


Karan yang sedang menguncir rambutnya, terkekeh tak percaya. “Kebetulan aja anjir, yakali Al kaya gitu, mimpi.”


“Demi alex, samsul, Al beneran sengaja banget tadi.” Sahut Aura.


Nana menangguk, menyetujui ucapan Aura.


Karan tertawa, masih tetap tak percaya. Tak mungkin Al sampai sebegitunya. Kalaupun ingin dihukum pasti alasannya bukan karena Karan. Karena hal lain.


“Au ah, laper gue.” Karan memakan somay yang diberikan Aura dengan lahap. Daripada harus membicarakan Al yang membuatnya kesal sendiri.


“Kaya nggak pernah makan somay aja lo,” cibir Aura. Melihat Karan dengan lahap menghabiskan somay-nya.


Karan mengusap perutnya yang sudah terisi dengan sempurna. Moodnya juga sudah benar benar membaik. “Btw, thanks ya makanan sama minumnya. Tumben banget lo berdua perhatian sama gue.”


“Makasih aja sama Al, dia yang udah beliin ini buat lo.”


BRUSHHHH


“KARAN... OH MY GOD!” teriak Nana karena semburan air dari Karan tepat mengenai wajah dan bajunya.


“Na.. lama lama gue tarik pita suara lo,” ketus Edo lagi. Merasa terganggu oleh suara Nana.


“Bacot Edo, ah nyebelin lo ra," kesal Nana.


Nana beranjak dari duduknya dan pergi ke toilet untuk membersihkan wajah dan bajunya.


“Sorry bestie.” Teriak Karan.


Aura tetawa terbahak bahak, melihat kejadian yang begitu singkat tersebut.


“Apaan lo ketawa tawa gue sembur juga lo," sewot Karan.


“Ra, serius itu dari Al?” tanya Karan, berusaha memastikan.


Aura mengangguk di sela sela tawanya yang masih tersisa.


“Tadi, waktu gue sama Nana mau ke kelas dia nitipin ini, katanya buat lo.’’ Aura menujuk bungkus makan dan minum yang sudah beralih posisi dalam perut Karan.


“Dalam rangka apa dia ngasih gue?”


Aura mengedikkan bahunya. Tak tahu.


“Ran, kayanya makin kesini Al nunujukin kalau dia benar benar suka lo.”


Karan tak menjawab hanya tersenyum kecil. Senyum yang sudah menjadi jawaban atas pernyataan Aura. Ada perasaan bahagia yang menyebar ke seluruh hatinya dengan cepat.


Semoga apa yang Aura katakan benar adanya.


Karan mengambil ponsel di sakunya begitu ponselnya berdering kencang.


“Apaan?"


“Marah marah mulu lo, cepet tua ntar.”


Karan mendegus kesal, “To the point napa, boros kuota lo.”


Al berdehem sebentar, “Pulang bareng gue, tunggu di parkiran gue ada urusan.”


“E-“


Tut..


Karan mentap ponselnya kesal. Padahal ia belum menjawab, sudah dimatikan sepihak.


Karan menuruti apa mau Al, berhubung hari in ia tak membawa mobil. Lumayan ia jadi hemat ongkos pulang. Karan juga berniat mengajak Al untuk makan di tempat makan favoritnya, sebagai bentuk terima kasih atas tadi.


Sudah lama Karan berdiam diri didalam mobil Al. Banyak pesan dan panggilan yang Karan tujukan untuk Al, namun tak mendapat jawaban sama sekali. Sekolah sudah hampir sepi, hanya menyisahkan berberapa murid dan kendaraan di parkiran.


Daripada menunggu Al, Karan memilih untuk keluar dari mobil dan melangkahkan kakinya menuju toilet terlebih dahulu, untuk membuang air kecil.

__ADS_1


“Kita udah bener bener selesai, you know. Please leave in my life.”


Alih alih pergi, justru ia menangkup pipi cowok dihadapannya dan mencium bibirnya.


__ADS_2