Al Dan Karan

Al Dan Karan
48.Terakhir kalinya


__ADS_3

"Lin, will you be mine?"


Karan meremas rok abu abunya.Ketika mendengar seorang cowoknya yang ia cintai, kini menyatakan perasaan kepada cewek yang tak pernah tulus kepadanya.


"Yes, i will." jawab Ralina tanpa keraguan.


Karan memejamkan mata merasakan sakit yang menjalar di hatinya.Seolah ada pisau yang menyayat hatinya dengan sanggat pelan, sehingga rasa sakitnya semakin terasa.


Hari ini resmi.Al milik Ralina, begitupun sebaliknya.Hari ini juga, terakhir perjuangan Karan untuk mendapatkan hati yang bahkan tak pernah bisa ia genggam.


"Really? thanks." kata Al


Ralina tersenyum mengangguk,kemudian ia menyandarkan menyandarkan kepalanya di bahu Al.Menikmati sepoi sepoi angin taman sekolah di siang ini.


Tanpa mereka sadari.Dibalik itu, ada seorang cewek yang berusaha menahan isak tangisnya.Karan mengatur nafasnya sejenak, kemudian pergi meninggalkan taman dengan segera.Tak tahan untuk berada di situ.


Hatinya sakit, raganya lelah dan pikirannya kacau.Semesta selalu memiliki seribu cara untuk membuat Karan menangis.


Karan berlari di koridor dengan mata yang bersiap mengeluarkan isinya.Tujuannya cuma satu, rooftop.


Sesampainya disana.Karan terduduk lemas, gadis malang itu mulai menumpahkan air matanya.Membagi lukanya dengan angin siang itu, menceritakan bagaimana sakitnya mencintai seseorang yang tak pernah mau dicintai.


Ini bukan ending yang ia mau, ini bukan ending yang Karan harapkan.Tapi, mengapa kini semuanya berbeda.Kalau ini mimpi tolong siapun bangunkan Karan.Ini adalah mimpi buruk baginya.


"Gue bego banget, gue gampang banget buat naruh rasa sama orang kayak Al." gumamnya dengan tatapan yang hampa.


"GUE EMANG BEGO, SEHARUSNYA GUE NGGAK PERNAH SUKA DIA." teriak Karan.


Air matanya kembali meluncur membasahi pipinya.Tak ada lagi yang Karan lakukan saat ini selain menangis.Menangisi cowok yang tak pantas untuknya.


"Karan kemana sih?" tanya Aura geram sambil berjalan menyusuri lorong sekolah yang sepi.Karena hampir semua murid sudah masuk kelas, mengikuti jam pelajaran.


"Ya nggak tau, gue kan dari tadi sama lo.Dia udah ngilang dari tadi istirahat."


Mereka berdua berjalan tanpa tujuan mencari Karan, sekaligus bolos pelajaran Kimia.


"Wah, kayaknya kita emang jodoh nih." celetuk cowok yang tak lain tak bukan adalah Reonal.


Aura memutar mata malas.Moodnya mendadak buruk, ketika sudah berhadapan dengan bocah tengil satu ini.


"Ayang bolos ya?" goda Reonal.

__ADS_1


Aura bergidik geli mendengar apa yang baru saja Reonal ucapkan.


"Heh Jamal, udah deh jangan bikin mood temen gue rusak." sahut Nana


"Yaela na, lo mah sekarang kaya gitu ya.Ini namanya gue lagi pdkt, biar nanti jadian deh.Kayak Al sama Ralina gitu, ya nggak rel?"


Farel langsung mengeplak kepala Reonal.Berbeda dengan Aura dan Nana yang langsung melotot mendengar apa yang baru saja keluar dari mulut Reonal.


"Bocor banget tu mulut." decak Farel.


"What, tunggu.Jadi, Al sama Ralina jadian?" tanya Aura menatap Farel dan Reonal bergantian.


Reonal terkekeh sedangkan Farel hanya menampilkan ekspresi yang susah ditebak.


Aura memegang pundak kanan Reonal.Matanya menatap Reonal dengan pandangan mengintrogasi. "Mereka kapan jadiannya?"


"Umm.. tadi, istirahat."


"Tapi, lo jangan sampai bilang ke Karan.Biarin dia tau dengan sendirinya." kata Farel angkat suara.


"Ini bakalan cepat dan Karan pasti akan tau." Aura melepas cekalan tangannya di pundak Reonal.


"Wait...atau jangan jangan..." Nana tak melanjutkan ucapannya.


"Halo." suara serak di sebrang sana membuat semua yang ada disitu terkejut.Apalagi Nana mengaktifkan loudspeakernya.


"Lo dimana sih ran, lo udah bolos dua pelajaran hari ini."


"Gue lagi di rooftop, nenangin diri.Lo nggak usah khawatir, gue sengaja bolos."


"Lo kenapa?" tanya Aura menyahut.


Terdengar kekehan Karan dari sebrang sana.


"Enggak, lo berdua santai napa si ah.Emang lagi pengin sendiri aja gue."


Aura yang tak puas dengan jawaban Karan langsung menyeletuk.


"Atau ini ada kaitannya tentang Al?"


Tak ada jawaban dari Karan.Hanya suara helaan nafas panjang saja.

__ADS_1


"Ran." panggil Nana pelan.


"You know lah.Tapi jangan usik dia, biarin aja.Dia nggak tau apa apa, yang salah gue karena naruh perasaan sama dia." kata Karan. "Sama biarin gue sendiri,ya.Gue baik baik aja kok.Makasih udah khawatir." lanjutnya.


Telfon terputus dari Karan.Aura dan Nana saling bertatapan sekilas.Begitupun Reonal dan Farel.Suara Karan tadi sanggat jelas, bahwa gadis itu sedang tak baik baik saja.


Karan menaruh kembali ponselnya.


Matanya yang sembab, menatap pemandangan kota di hadapannya, dengan sendu.Membiarkan angin menerpa wajahnya.Mengeringkan air mata yang tak henti hentinya meluncur.Penampilannya jauh dari kata baik baik saja.


Hatinya di berulangkali di gores luka oleh orang yang sama.Belum juga kering, kini di torehkan lagi luka yang lebih besar.Luka yang butuh waktu lama untuk kembali sembuh.


"Hai, sayang." sapa lembut Mirna saat melihat anak semata wayangnya sudah pulang.


"Mama udah pulang, kok nggak bilang-bilang."


Mirna menyentil pelan hidung Karan. "Udah Mama kabarin, ponsel kamu mati."


Karan mengangguk pelan.Setelah dia mendapat telfon dari Nana, Karan memang sengaja mematikan ponselnya.Dia benar benar membutuhkan suasana yang sunyi dan tenang.


"Kamu kenapa sayang?"


Firasat seorang Ibu tak pernah meleset sedikit pun.Ia tahu ketika kini anaknya tak baik baik saja.


Karan tak langsung menjawab.Melainkan langsung memeluk Mirna erat, dan menangis lagi.


Mirna tak memaksa Karan bercerita.Mirna mengusap punggung Karan penuh kasih sayang.Menyalurkan kekuatan pada anak satu satunya itu.


"Ma, Karan nggak pantas ya buat dicintai?"


"Hust, nggak boleh gitu.Semua orang yang ada di bumi ini.Pantas untuk dicintai."


"Ma, katanya jatuhnya cinta itu indah ya?"


Mirna mengusap puncak kepala Karan. "Indah, kalau jatuh cintanya sama orang yang tepat."


"Ran, kalau kamu udah jatuh cinta sama orang.Kamu akan mendapatkan bahagia sekaligus patah hati."


"Enggak buat Karan.Karan selalu ngedapetin patah hatinya aja."


"Ya karena kamu jatuh cinta sama orang yang salah.Kita sebagai Manusia juga nggak bisa buat ngontrol perasaan kita.Nggak bisa juga, milih kepada siapa hati kita akan jatuh.Tapi, manusia bisa nentuin kapan harus berhenti, kapan juga harus terus maju."

__ADS_1


Karan terisak di pelukan Mirna.


"Tapi, kamu bisa ngejadiin itu semua sebagai pelajaran.Orang orang yang datang di hidup kamu, lalu ngasih luka ke kamu.Itu sebenarnya dia di utus tuhan untuk ngasih kamu pelajaran, untuk ngedewasain kamu juga." tutur Mirna lembut.


__ADS_2