
Tak tahan melihat temannya yang diperlukan seperti itu.Aura maju, lalu menatap Al dengan sengit.
"Lo tu cowok paling brengsek yang pernah gue temuin.Baru semalam lo memperlakukan Karan dengan baik.Sekarang, lo mempermaluin dia begitu aja."
"Gue memperlakukan dia seperti semalam, bukan karena apa.Karena gue cuma kasihan sama temen lo itu.Hari ini, dia berulah dengan nyakitin Ralina.
Aura tertawa sinis. "Sebegitu pentingnya cewek bermuka dua ini buat lo.Sampai sampai, lo nyakitin hati temen gue."
"Buat lo Ralina, sekarang lo bisa menang dari game lo.Tapi, enggak buat nanti." ancam Aura kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut bersama Nana.
Para siswa yang semula memadati taman belakang pun mulai pergi.Karena, rasa keponya sudah terjawab.Kini hanya tersisa Ralina dan Al disana.
Ralina duduk dan menundukkan kepalanya lesu.Al yang menyadari hal tersebut, ikut duduk didepan Ralina. "Kenapa?" tanya Al
"Gue takut." ujar Ralina lirih.
"Ada gue.Lo nggak usah takut."
"Tapi Al, gue takut nanti lo juga terperangkap sama tipu daya mereka.Terus, lo nggak percaya gue lagi.Gue takut."
Al menangkup pipi Ralina. "Hey dengerin gue.Gue nggak bakal percaya sama mereka.Gue bakal selalu percaya sama lo.Jangan takut, gue bakal tetep ada buat lo."
Ralina kemudian memeluk Al.Al balas memeluk Raina dengan tulus.Cowok itu benar benar ingin menjaga gadis yang tengah dipeluknya.Sampai Al sendiri tidak sadar, bahwa yang ia peluk adalah pisau yang mematikan.
__ADS_1
...…...
"Shit!gue capek." kesal Karan dengan kepala yang sudah pusing.
"Fu*k Al, lo udah nyakitin gue.Dan lo Ralina hahaha munafik lo." kata Karan dengan keadaan mabuk.
"Duh, gimana ini?" tanya Farel
"Ini gue lagi telfon Aura sama Nana tapi nggak ada yang online." Jawab Reonal
Karan hendak meminta minuman lagi kepada sang bartender.Namun dicegah oleh Devon.
"Ran, pulang ya?" ajak Devon selembut mungkin.
Ketiga sahabat Al tak ada yang menjawab.Mereka semua terdiam.
Karan kemudian kembali tertawa.Menertawakan hidupnya yang miris. "Kenapa gue harus hidup.Gue capek."
Karena tak tah harus menelfon siapa.Akhirnya Reonal terpaksa menelfon Al.Meskipun Reonal tau bahwa nanti Al tak akan mau.Tapi, bagaimana lagi.Gadis dihadapannya ini sudah mabuk berat.
Al yang tengah berada di sebuah cafe bersama Ralina.Segera menjauhkan diri untuk mengangkat panggilan dari Reonal.
"Kenapa?" tanya Al to the point.
__ADS_1
"Lo ke club biasa sekarang."
"Buat?"
Reonal belum menjawab.Tapi, suara Karan yang terdengar mengumpati dirinya.
"Tunggu disana." kata Al.Sebelum cowok itu menutup sambungan telepon dengan Reonal.
"Lin, sebelumnya sorry ya gue harus cabut sekarang.Ada keperluan penting." Ujar Al setibanya di hadapan Ralina.
Ralina mengerenyitkan dahinya. "Keperluan penting?"
Al mengangguk. "Ayo, gue anterin lo pulang dulu."
"Enggak.Nggak usah, gue masih pengin disini.Lo duluan aja gapapa."
"Tapi kan lo-"
Ralina menempelkan telunjuknya di depan bibir Al."Gapapa Al.Lo duluan gih,nanti gue bisa naik gojek."
Al mengangguk mengiyakan.Meninggalkan Ralina sendirian, dengan tatapan hampa.Ralina kembali merasakan kesepian lagi.Hidupnya tak pernah ramai,hanya sepi yang selalu menjadi teman setianya.
Al mengemudikan mobilnya diatas rata rata.Dia tak tau apa yang membuatnya sekhawatir ini kepada Karan.Padahal, baru saja tadi di sekolah Al benar benar membenci gadis itu.
__ADS_1