Al Dan Karan

Al Dan Karan
31.Dihukum


__ADS_3

"Karan itu ada teman kamu udah nungguin kamu dari tadi." Kata Mirna kepada Karan yang sedang merapikan baju seragamnya.


"Siapa Ma?"


"Lupa namanya,pokoknya anaknya ganteng sopan juga."


Karan mendengus malas mendengar Mamanya yang selalu seperti ini."Ish Mama,yaudah Karan berangkat dulu ya."


"Iya hati hati sayang."


Saat Karan membuka pintu rumah betapa terkejutnya dia ketika melihat Dean.


"Lah lo?"


"Iya gue,ayo bareng sama gue.Gue udah nungguin lo dari tadi."


Karan berjalan terlebih dahulu menuju gerbang rumah,mendahului Dean.


"Nggak ada yang nyuruh lo buat jemput gue ya yan."


"Tapi kan apa salahnya jemput calon pacar."


Karan refleks berbalik. "Hah?"


"Enggak itu...udah ah,ayo masuk!"


Karan sudah memasuki mobil terlebih dahulu.Sedangkan Dean mengumpati mulutnya.


"Yan,lo ngapain di luar mulu, kita jadi kesekolah nggak sih?" tanya Karan dari sela sela kaca mobil yang terbuka.


"Ah,iya ya." Jawab Dean gugup sendiri.


...…...


"Hai ayang Aura!" sapa Reonal saat Aura dan Nana hendak berjalan menuju koridor


"Najis!"


"Kok galak banget sih pacar ku ini." Reonal memasang wajah sedih yang dibuat buat


"Oh my god,You see Karan!" tunjuk Nana kearah mobil Dean yang didalamnya terlihat jelas ada Karan.


Al langsung melihat kearah yang ditunjuk Nana, benar saja Karan dan Dean turun dari mobil tersebut dengan tawa.Bahkan tak ada raut sedih atau semacamnya dari wajah Karan.


"Karan!" panggil Aura.


Karan melambaikan tangan dan pergi menuju kedua sahabatnya.

__ADS_1


"Al lo kalah banyak sama Dean." Ucap Devon pelan.


"Nggak peduli." Balas Al dingin.Meskipun sebenarnya ada perasaan tak enak dan tak terima dalam hati.


Seolah benar yang dikatakan Devon,dia sudah kalah dengan Dean.Tapi kalau Al boleh tau, masih ada kah perasaan Karan untuk dirinya.Atau bahkan sudah tidak ada sama sekali.


Al menatap sendu kepergian Karan bersama kedua sahabatnya.Dia merasa ada yang hilang sekarang.Tapi Al gengsi mengakui, bahwa sesuatu yang hilang itu disebabkan oleh cewek bernama Karan.


"Katanya nggak peduli kok diliatin aja sih?" Farel menyenggol lengan Al pelan.


Al berdecak, kemudian pergi mendahului ketiga temannya yang masih setia duduk di motor masing-masing.


"Dia pms?" tanya Reonal


"Kayaknya iya." Jawab Devon asal.


..........


"Gue denger denger,lo nggak dapet Al sekarang deketin Dean ya?"


Karan yang tengah mencuci muka di wastafel mendongak.Menatap kearah Ralina yang sedang melipat tangannya di dada lewat pantulan cermin.


Karan memilih mengabikannya tak mau berurusan dengan cewek seperti dia.


"Kasian banget gue ngeliat lo,hidupnya kayak ada miris- mirisnya." Ralina terkekeh,menatap Karan remeh.


"Gue cuma mau lo benar benar jauhin Al.Gue tau lo masih berharap sama dia.Tapi, harusnya lo juga sadar diri dia itu enggak suka lo."


Karan tersenyum sinis mendengar ucapan Ralina. "Punya hak apa lo nyuruh nyuruh gue?" tantang Karan. "Lo takut tersaingi sama gue?" lanjutnya.


Plak


Satu tamparan mendarat di pipi Karan dengan sempurna.Karan yang juga tak terima menjambak ujung rambut Ralina.Begitupun Ralina.


Tak berlangsung lama adegan jambak menjambakan itu.Karena, seorang siswi yang hendak ke toilet begitu mendengar keributan tersebut langsung melaporkan ke ruang BK.


"KARAN,RALINA!" teriak Bu Endah nyaring membuat keduanya berhenti melakukan aksi tersebut.


"Ikut saya!" perintahnya tegas.


Mereka berdua mengikuti Bu Endah menuju ruang BK.Ruang BK bagi Karan adalah hal yang biasa.Tapi tidak untuk Ralina.Wakil ketua osis yang terkenal berbakat,cerdas dan baik itu tengah mencari alasan yang pas untuk di suarakan di BK nanti.


"Dia yang mulai Bu!" Ucap Karan terlebih dahulu ketika mereka berdua sudah duduk di depan Bu Endah.


"Bukan saya Bu,dia yang mulai jambak saya."


"Lo yang mulai ya,lo yang nampar gue duluan!"

__ADS_1


"Dia dulu Bu yang ngata ngatain saya,bilang kalau saya wakil osis nggak berguna lah,dia ngatain keluarga saya juga,dia-"


"LO KALAU NGOMONG SESUAI FAKTA DONG!" teriak Karan sembari mengebrak meja.


"KARAN!" teriak Bu Endah


Karan yang tersadar segera duduk kembali.


"Saya nggak bohong Bu." Ralina kembali meyakinkan Bu Endah bahwa dirinya tidak bersalah dengan memasang wajah lugunya.


"Dia bohong Bu,dia yang mulai duluan ngata ngatain saya." Bela Karan


"Cukup!" lerai Bu Endah. "Kalian tau kan peraturan di sekolah ini bagaimana.Jadi, kalian berdua hormat didepan tiang bendera sana sampai jam istirahat nanti!"


"Tapi Bu-"


"Karan,mau saya tambah?"


Karan mencebikkan bibir dan berjalan terlebih dahulu menuju lapangan.Disusul dengan Ralina.


"Al Ralina sama Karan tuh!" tunjuk Devon saat mereka berdua baru saja selesai dari ruang guru.


"Dia kenapa?" tanya Devon


Al menggelang tidak tahu.Dia lebih memilih berjalan menuju tempat Karan dan Ralina dihukum.


"Kenapa lin?"


Karan dan Ralina seketika menoleh mendengar suara orang yang mereka perdebatkan tadi.Karan membuang muka,ketika sadar yang ditanya bukan dirinya melainkan gadis disampingnya ini.


Bukannya menjawab,Ralina malah menunduk.Al yang melihat itu mengusap kepala Ralina pelan.Sehingga membuat sang empu kembali mendongak.


"Gue nggak perlu jawaban dari lo,karena gue bisa nyimpulin sendiri." Kata Al


"Ha? maksutnya?"


"Gue tau,lo nggak bakal kayak gini kalau bukan ulah cewek disamping lo." Sindir Al sarkas.


Karan memejamkan mata sebentar merasakan kembali rasa sakit yang menjalar di hatinya.Karena ucapan seseorang yang begitu ia cintai.


Karan menoleh menatap Al tajam." Kalau lo nggak tau apa apa,diem deh."


"Gue tau,nggak mungkin Ralina yang nyebabin ini semua.Pasti lo,siapa lagi.Bahkan satu sekolah juga tau kalau lo cewek yang suka bikin masalah di sekolah ini."


Harusnya Karan tau,sebaik apapun dia itu tidak akan pernah terlihat di mata Al.Di mata Al hanya Ralina yang baik,Ralina yang benar dan Ralina yang lugu.Bukan Karan.


"Terserah." jawab Karan mengalah.Dia tidak mau ucapan yang akan Al lontarkan kembali menyakiti hatinya.

__ADS_1


__ADS_2