Al Dan Karan

Al Dan Karan
69. Baper?


__ADS_3

Karan sedang tak mood untuk mengikuti pelajaran Fisika. Dirinya lebih memilih mengisi perutnya daripada bertemu dengan rumus yang membuat otaknya panas.


Istirahat masih beberapa menit lagi. Kondisi kantin masih agak sepi, hanya ada dirinya dan beberapa siswa yang sepertinya juga bolos sama halnya dengan dirinya.


Karan memakan baksonya sambil memainkan ponselnya. Berkirim pesan dengan kedua sahabatnya di kelas.


...**RUMPI...


...ROMBONGAN UMI UMI PINGGIRAN**...


Nana: Lo mah kebiasaan bolos nggak ngajak ngajak


Aura: Tau nih, next time kita bolos nggak usah ngajak Karan na,


Nana: Gass...nguengg.. kita bolos ke US seru kayaknya Ra,


Nana: OMG, ke china gimana? korea² biar gue ketemu oppa oppa, atau enggak China deh. Kemana raaaaa? banyak nih plan gue


Karan: yang waras nyimak..


Aura: Nenek lu salto, ngapain lo bolos jauh jauh anjir. Kayak sultan aja lo.


Nana: Gue si bukan sultan, tapi bokap gue namanya sultan.


Aura: Nana woi gue dilihatin Pak Jio.


Nana: Naksir lo kali


Karan: Mampus otw dihukum.


Nana: Ran wait, keknya gue bakal dihukum deh sama si Aura huuhuuu mana disuruh ngerjain kedepan deh ini kayaknya **


Karan: gue sebagai bestie yang baik turut mengucapkan MAMPUSS..


"Lagi lihatin apa sih kok kayaknya seru banget ya."


Karan terlonjak kaget saat Dean sudah berada disampingnya dan berusaha melihat kearah ponsel Karan.


Karan langsung memasang wajah juteknya, "Ngapain Lo?"


"Duduk nih."


"Nggak bisa ditempat lain, masih banyak tuh yang kosong."


"Lah kan ini meja kursi punya kantin, lo nggak berhak dong ngatur ngatur gue harus duduknya dimana."


"Serah lo." Karan hendak bangkit dari duduknya, tetapi lengannya ditahan oleh Dean.


Dari arah belakang seseorang menepis cekalan tangan Dean di lengan Karan.


"Siapa yang ngizinin lo nyentuh dia."


Kehadiran Al membuat Karan sedikit terkejut. Berbeda dengan Dean, dia membuang muka malas.


"Harus lo garis bawahi kalau dia, Karan Jevina Berlino sudah hak milik gue. Gue harap lo faham bahasa manusia."


"Bacot," Dean meninju Al dibagian rahang. Membuat tubuh Al terhuyung kebelakang.

__ADS_1


PLAKK


Karan yang tak terima langsung menampar pipi Dean dengan kencang. "Maksut lo apa sih kayak gitu? udah jelas jelas lo yang salah disini."


Dean mengusap pipinya yang terasa panas akibat tamparan dari Karan. Dean melihat ada rasa benci dimata Karan, saat Karan berhadapan dengannya. Apa kini seberarti itu Al dimata Karan, sejauh apa tahta Al dihati Karan, pikir Dean.


"Jawabannya masih sama Ran, karena gue sayang lo."


Dean memegang pundak Karan dan ditepis kasar oleh sang empu.


"Tapi gue nggak, gue lebih sayang Al, ya notabenya pacar baru gue daripada lo." Karan menekan kata pacar Baru


Karan menghampiri Al dan membawa Al keluar dari kantin. Sepeninggalan mereka, Dean menendang kursi plastik yang ada dihadapannya dengan kesal.


"Sial, gue kalah lagi."


...…...


Karan mengobati luka yang ada di sudut bibirnya Al dengan hati hati dan teliti.


"Aw.."


"Diem dulu deh jangan aw aw mulu lo."


"Ya gimana, sakit bego."


"Tahanlah."


Al mendegus sebagai jawaban. Bisa bisa tidak selesai kalau ia meladeni Karan. Mengingat perempuan maha benar.


"Lo ngapain bolos?" tanya Al


"Katanya lo pengin jadi dokter tapi sekolah aja males lo."


"Kok lo tau?" Karan memicingkan mata


"Nyokap lo cerita."


"Kapan? perasaan lo baru ngobrol sama nyokap gue kemarin deh."


"Sok tau."


"Lo juga ngapain tadi dikantin, bukannya masih pelajaran?"


Al tak menghiraukan pertanyaan Karan dan memilih untuk merebahkan tubuhnya di kasur. Karan juga tak mau ambil pusing, akan pertanyaan yang dijawab atau tidak.


Hening tak ada obrolan diantara mereka, hanya ada suara jam didinding yang mendominasi. Al masih memejamkan matanya, Karan duduk diam dikursi yang jaraknya tak jauh dari tempat Al.


"Thanks,"


"Untuk?"


"Yang tadi."


"you are welcome sayang."


Karan merasakan jantungnya seperti marathon begitu kata tersebut melintas di telinga Karan.

__ADS_1


"Nggak usah baper, kita cuma boongan."


Seperti dibuat melambung tinggi ke langit kemudian dijatuhkan begitu saja sampai bersentuhan dengan tanah. Itulah yang dirasakan Karan saat ini.


"Dih, siapa juga yang baper. Siapa juga yang ngarep ini pacaran beneran."


"Gue ngarep tuh."


"Hah?"


Al tersenyum kecil dengan mata masih terpejam. Sudah bisa ditebak bagaimana kondisi jantung dan hati Karan saat ini. Kalau dia menjadi Karan yang dulu, mungkin sekarang dia sudah melakukan hal konyol didepan Al.


"Gue mau balik ke kantin, nyamperin temen gue." Karan beranjak dari duduknya.


"Kalau ada apa apa bilang gue." kata Al sebelum Karan menutup pintu UKS.


Sebenarnya Karan tidak benar benar ke kantin. Itu hanya alibinya saja untuk pergi dari UKS, lebih tepatnya mengindari Al. Karena kalau dirinya masih berada disitu sudah dipastikan tidak sehat bagi keselamatan jantung dan hatinya.


"Ran, lo nggak boleh baper dengan Al. Yaela, dia cuma ngomong gitu doang belum tentu benar kan. Lo harus inget bagaimana Al ngepatahim hati lo, jatuhin lo dan bikin lo sakit. " nasihat Karan kepada dirinya sendiri.


Sepeninggalan Karan. Hera penjaga UKS berambut pirang datang. Ia tampak terkejut dengan kehadiran Al.


"Al?" sapa Hera


Al membuka matanya sebentar kemudian menutupnya lagi.


"Lo kenapa? loh itu bibir lo?"


"Biasa."


"Sama siapa?"


"Kepo," ketus Al.


Hera mengangguk, meskipun Al tidak melihatnya. Seantero sekolah juga sudah paham dengan sifat dingin Al bagaimana.


"Lo mau teh nggak?"


"Ya."


Hera duduk di kursi yang tadi ditempati oleh Karan. Ia memperhatikan Al yang tengah meminum teh tersebut. Hera seolah terhipnotis dengan pemandangan didepannya, sampai ia tak berkedip sama sekali.


"Ngapain lo?"


Hera segera tersadar dan menegakkan tubuhnya. "Enggak, btw gue duduk disini ganggu lo nggak, gue nggak punya temen ngobrol soalnya.


"Terserah lo."


"UKS sepi banget akhir akhir ini. Gue jadi sendirian disini. Paling cuma main sosmed doang."


Al tak menggubris sama sekali cerita Hera. Pikirannya justru tertuju ke Karan. Ia mengingat bagaimana Karan ketika blushing, ketika marah dan tertawa. Al akui kini dirinya selalu suka dengan hal yang berbau Karan. Dia juga tahu, kalau sekarang ia tengah menjilat ludahnya sendiri.


"Lo masih ada perasaan nggak Al sama Ralina? dia masih Al, kasian banget tau."


"Menurut lo?" tanya Al


"Kayaknya lo udah bener bener move on dari Ralina. Tapi, kenapa cepet banget."

__ADS_1


"Urusan lo apa sih nanya nanya gituan." sinis Al membuat nyali Hera menciut.


Al turun dari kasur dan pergi keluar UKS tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


__ADS_2