
Karan kini berada di perpustakaan sekolah dengan Dean.Belajar matematika, seperti biasa.
"Ran,kalau misalnya lagi kenapa kenapa.Lo bisa cerita kok sama gue."
Karan mendongak, menatap Dean di hadapannya.Tersenyum kecil. "Iya yan, makasih."
"Kalau lo lagi ada masalah.Gue harap, lo jangan pergi ke tempat yang bisa ngebahayain diri lo sendiri."
Karan menaruh bolpoinnya.Menatap Dean lagi. "K-kok lo tau?"
Dean tertawa kecil.Tangannya terjulur untuk mengacak acak rambut Karan. "Lo nggak inget?semalam yang nganterin lo pulang kan gue." bohong Dean.
Karan berusaha mengingat.Tapi nihil, akibat pengaruh alcohol yang dia minum.Karan merasa yang mengantarnya pulang adalah Al.Namun ternyata salah, Dean lah orangnya.Pikir Karan saat itu.
"Hey, kenapa?" Dean membuyarkan lamunan Karan.
Karan mengerjap dan tersenyum lebar. "Makasih ya, yan.Lo udah nganterin gue pulang semalam.Gue nggak tau kalau lo nggak ada disitu."
Dean membalas senyuman Karan." Sama sama.Tapi, gue mohon jangan lakuin hal itu lagi, ya.Lo kalau ada apa apa, mending temuin gue.Gue mau kok dengerin lo, jadi pundak buat lo."
Karan mengangguk.Setidaknya di dunia ini masih ada orang yang benar benar peduli kepadanya.Karan tahu Dean menyukai dirinya. Namun, untuk saat ini.Karan tidak bisa membalas perasaan Dean.Karena, sejauh ini hatinya masih tetap stuck di seseorang yang tak bisa menghargainya.Aldevan Daffandra.
"Oh iya, lo besok malam ada waktu nggak ran?" tanya Dean.
Karan tau kemana arah pembicaraan ini.Untuk menolak rasanya tak enak.Karena kalau bukan karena Dean.Entah, tak tau sekarang ada dimana dirinya.
"Umm...bisa kenapa?"
"Besok malam lo mau nggak jalan jalan sama gue?"
__ADS_1
Dengan berat hati Karan mengangguk.Dean tersenyum puas ketika melihat jawaban dari Karan.
"Oke, nanti untuk jam nya gue kabarin lagi ya."
"Iyaa Yan."
...…...
Karan kaget ketika melihat cewek dengan mata yang sembab, serta koper di tangannya.
"Lo kenapa?" tanya Karan sembari mempersilahkan Aura untuk masuk.
Mereka berdua duduk di sofa ruang tamu rumah Karan yang kebetulan sedang sepi.Mama Karan mendapat pekerjaan di luar kota selama 3 hari.
Aura masih diam.Karan memeluk sahabatnya itu.Seolah memberi kekuatan.Aura kembali menangis di pelukan Karan.
Karan tak memaksa Aura untuk bercerita.Gadis itu membiarkan Aura meluapkan tangisnya.Setelah dirasa lega.Aura melepaskan pelukannya dari Karan.
"Ran,lo tau.Bokap sama nyokap gue.."
Karan menaikan kedua alisnya.Menunggu Aura untuk melanjutkan kalimatnya.
"Bokap sama nyokap gue cerai ran.Dan lo tau, mereka resmi cerai tanpa sepengetahuan gue."
Karan terkejut mendengar apa yang baru saja Aura katakan.Refleks Karan kembali memeluk Aura.
Karan tau, meskipun Aura terlihat seperti seseorang yang tak pernah punya beban hidup.Kenyataannya, dia adalah gadis yang sama, seperti dirinya.Menyimpan luka untuk dinikmati sendiri, membagi tawa untuk dinikmati bersama.
"Gue selalu takut, perpisahan kedua orang tua gue bakal terjadi.Ternyata, sesuatu yang gue takutkan kini benar benar terjadi." Aura kembali menangis.
__ADS_1
Karan bisa merasakan apa yang sahabatnya rasakan saat ini.
"Kenapa gue harus terlahir dari keluarga ini, ran?"
"Kasih sayang bokap sama nyokap gue buat gue itu plasu.Mereka berlaga seperti itu saat di depan banyak orang." cerca Aura "Sedangkan, saat tak ada orang, saat gue lagi butuh kasih sayang itu.Mereka nggak ada, mereka sibuk dengan pekerjaan mereka." lanjutnya.
"Keluarga adalah obat penenang dari segala masalah yang menimpa.Keluarga adalah tempat pulang.Tapi, yang gue rasain.Keluarga adalah luka, bukan juga tempat yang cocok untuk gue pulang." katanya lagi.
"Gue benci banget sama takdir.Kenapa sih gue nggak pernah di biarin buat bahagia lama.Gue juga pengin."
"Ra, lo boleh sedih.Gue tau gimana rasanya jadi lo.Tapi, satu yang harus lo inget.Lo nggak boleh nyalahin takdir.Semuanya ada masanya Ra. Sekarang lo ngalamin hal pahit, tapi kita nggak tau apa yang akan takdir berikan selanjutnya."
"Ta..pi, gue capek ran.Gue capek sama hidup gue sendiri." keluh Aura dengan isak tangis yang tersisa. "Bahkan, sekarang mereka lebih sibuk sama diri mereka sendiri.Ngebiarin anaknya gitu aja."
Karan mengambil kedua tangan sahabatnya.Mengenggamnya, memberikan kekuatan lewat genggaman tersebut.
"Ra, mereka sebenarnya sayang sama lo.Cuma, cara mereka yang salah.Tanpa lo tau, orang tua mana yang ngebiarin anaknya gitu aja.Dan, jangan pernah lo ngerasa sendirian.Lo punya gue dan Nana."
Segaris senyum tipis terukir di bibir Aura.Meskipun dia tidak seberuntung orang lain dalam hal keluarga.Setidaknya, dia beruntung dalam hal pertemanan.Bertemu dengan Karan dan Nana, adalah sebuah keberuntungan bagi Aura.Mereka berdua tak pernah meninggalkan Aura saat Aura kesusahan.Menguatkan satu sama lain.Serta, saling mengobati luka yang ada.
"Satu lagi,Ra.lo hebat.Nggak semua orang bisa bertahan sejauh ini kayak lo.Sekarang, lo butuh istirahat." ujar Karan.
Aura mengangguk.Benar apa yang Karan katakan. Mungkin, dengan istirahat bisa membuatnya terasa lebih tenang.
Aura berjalan mengekori Karan.Hari ini dan beberapa hari kedepan, sementara Aura akan tinggal di rumah Karan.Lagipula Karan dan Mamanya sudah terbiasa akan hal seperti ini .Bahkan, bukan hanya Aura.Nana pun begitu.Menginap dirumah Karan, ketika dia tengah mendapat masalah di rumahnya.
Hai pembaca setia Al dan Karan.Sebelumya makasih banyak kalian udah setia nungguin up aku yg lama ini.Aku lagi berusaha buat up cepat.Makasih juga buat saran dam kritik yang kalian berikan.Itu juga berarti banget buat aku.
:)
__ADS_1