
Sudah berberapa minggu lamanya Mama Al masih berada di rumah sakit.Dengan kondisi yang juga tak kunjung sembuh akibat penyakit jantungnya yang kambuh.
Hari ini, Mama Al kembali tak sadarkan diri. Membuat anak semata wayangnya mondar mandir kesana kemari, khawatir.
Al menghentikan kegiatan semulanya ketika seseorang pria yang tak ingin ia temui justru datang kemari.
“ Ngapain lo kesini, nggak cukup lo buat nyokap gue terbaring disana, ha?”
Andra menghela nafas panjang. Kini ia benar benar dibenci oleh anaknya sendiri. Andra hendak menyentuh pundak Al. Namun di tepis oleh sang empu.
“Maafin Papa Al.”
Al membuang mukanya malas. “Kalau lo kesini Cuma buat ngomong hal yang nggak berguna mending lo pergi deh, gue muak liat lo.” Usir Al sinis.
Andra mengambil satu undangan dari saku jasnya. Dan memberikannya kepada Al.
“Papa harap kamu bisa ngerti.”
Setelah membaca nama dua orang yang tertera di cover undangan. Sontak amarah Al langsung meluap begitu saja.
Al membuang undangan tersebut dengan asal. Dan segera menarik kerah baju Andra.
Andra diam tak melawan tingkah anaknya tersebut. Ia hanya bisa diam, kalaupun nanti Al memukulnya seperti beberapa hari yang lalu.
Andra tahu bagaimana rasanya kecewa terhadap seseorang, yang benar benar kita percayai justru berkhianat.
Karan yang dari tadi hanya duduk diam dan mendengarkan, kini ikut andil untuk segera membawa Al menjauh dari Andra Sebelum terjadi perkelahian yang tak mengenakkan di rumah sakit.
“BRENGSEK LO!”
“Al, stop ini rumah sakit,” Karan menarik tubuh Al sebelum cowok itu melayangkan tinjunya.
“Dia brengsek Ran, seharusnya dia yang ada di dalam sana, bukan Mama.”
Wajah Al sudah merah padam dibuatnya.Tanganya benar benar gatal untuk memberi sedikit lukisan di wajah Andra.
Seorang dokter yang sudah Al kenal, Dokter Ibra, bersama seorang suster keluar dari ruang ICU. Al langsung mendekat kearah mereka. Ingin mendengar sebuah kabar baik tentang Mamanya.
“Gimana Mama Dok?”
Dokter Ibra tersenyum kecil dan mengusap pundak Al. “ Mama udah sadar, dan sekarang dia pengin ketemu sama kamu.”
Tak mengucapkan sepatah kata lagi, Al langsung masuk kedalam. Ia disambut oleh kondisi Mamanya yang begitu kurus dengan berbagai alat bantu di tubunya.
Lelita terenyum kecil kearah Al. Senyum yang tak pernah berubah meskipun fisiknya telah berubah. Mata teduhnya menatap anak semata wayangnya yang kini mendekat kearahnya.
Al tak bisa menahan air matanya untuk tidak turun. Ia meneteskan air mata begitu melihat kondisi Mamanya. Jauh dari kata sehat.
“Al”
Al meraih tangan mamanya dan menggengamnya.
“Al disini, Ma.”
__ADS_1
Lelita terdiam sebentar. Matanya menatap hampa kedepan sebelum akhirnya ia kembali menatap Al.
“Mama kadang nggak percaya, kalau kamu anak satu satunya Mama sekarang udah tumbuh dewasa. Tiap kali lihat kamu, Mama selalu takut. One day, kamu ninggalin Mama untuk ngejar masa depan kamu sendiri.”
Al meneteskan air matanya kembali. Tak tahu harus menjawab apa.
“Kedatangan kamu, Aldevan Daffandra di bumi ini begitu berarti buat Mama. Kamu jadi alasan kenapa Mama bisa bertahan sampai sejauh ini.”
“Ma, harusnya Al yang benar benar berterima kasih sama Mama. Makasih udah ngelahirin Al.”
Lelita ikut meneteskan air matanya. Mendengar ucapan Al yang begitu tulus. Anak semata wayang yang begitu ia cintai.
“Al, Janji ya sama Mama. Al gaboleh telat makan, harus selalu jaga kesehatan ya, sekolah yang bener, kejar cita cita kamu. Sekalipun nanti Mama udah nggak disamping Al.”
“Ma, mama ngomong apasih. Mama harus selalu ada disamping Al. Mama harus ada disamping Al, kalau Al udah sukses nantinya. Kita jalanin berdua bareng bareng. Al nggak bakal ninggalin Mama. I'm promise.”
Lelita tersenyum, jari lembutnya mengusap air mata anak semata wayangnya dengan sisa tenaga yang ia punya.
“Papa suruh masuk.”
Al tak langsung beranjak dari duduknya, ia seperti tengah memikirkan sesuatu. Sebelum akhirnya Lelita mengangguk. Seolah olah ia berkata bahwa ia akan baik baik saja dengan kehadiran Andra disini.
Andra menyentuh tangan Lelita dan menggengamnya ketika ia sudah berada di samping Lelita. Sedangkan Lelita memejamkan matanya, ia merasakan tenaganya yang semakin melemah.
Lelita berusaha tersenyum, meskipun kini ia merasa tak berdaya untuk menarik kedua bibirnya.
“ Mas, tol..ong jaga... Al ya nanti. Kamu ta-hu kan beta- pa berart-inya dia bu-at ak-u.” Kata Lelita dengan suara yang begitu kecil dan terbata bata.
“Ma, Mama ngomong apasih. Al maunya dijaga Mama, bukan dia.”
“Sa..yan-g..ma-afin Ma-ma. Ta-pi Ma-ma ngg- ng....”
Lelita belum selesai melanjutkan kalimatnya. Matanya langsung terpejam sempurna, tangan yang ada di genggaman Andra pun mengendur.
Patient monitor disebelah Lelita mengambarkan sebuah garis lurus. Tak menampilkan garis seperti semula.
“Ma, bangun. Al disini," panik Al.
“Mama cuma tidur kan, Mama harus bangun. Mama harus selalu sama Al.” Al terus menggoyang goyangkan tubuh Lelita agar wanita itu terbangun.
Andra menitikkan air matanya melihat sang istri kini telah pergi. Lelita yang menemaninya dari ia belum menjadi apa apa sampai ia bisa se- sukses sekarang. Ada penyesalan mendalam yang tak bisa di pungkiri di hati Andra.
Al masih tak bisa menerima keadaan yang terjadi berberapa detik di depan matanya. Ia tetap berusaha untuk membangunkan Mamanya lagi dengan memanggil manggilnya. Namun nihil, tak ada pergerakan sama sekali.
Para perawat dan dokter sudah bergerombol masuk kedalam ICU. Untuk melakukan pemeriksaan.
“Dok, sembuhkan Mama saya. Berapapun itu harganya, buat dia sadar dan sembuh.” ucapnya sebelum keluar dari ruangan.
Al menunduk-kan kepalanya dalam dalam. Punggunya bergetar hebat. Karan yang melihat itu membawa Al di dekapannya. Membiarkan Al menangis di dekapnya.
Karan tak mengeluarkan sepatah katapun untuk saat ini, yang ia lakukan hanya memberikan kekuatan kepada Al lewat pelukannya.
Karan sendiri sedari tadi juga menitikkan air mata dalam diam. Ia benar benar merasa kehilangan Tante Lelita, yang sudah seperti Mamanya sendiri.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama Dokter Ibra dan para suster kembali keluar ruangan. Al langsung berdiri dan menatap Dokter Ibra penuh harap. Berharap kabar yang ia dengar adalah kabar baik. Dokter Ibra tak mengatakan apapun ia menepuk punggung Al, memberikan semangat.
“Mama?” tanya Al
“Maaf Al, tapi kita sudah berusaha dengan semaksimal mungkin. Turut berduka cita Mama kamu sudah tidak bisa diselamatkan lagi.”
Al menggeleng kencang. Menepis kabar dari Dokter Ibra. Ia tak percaya akan ini semua.
“ENGGAK, MAMA MASIH HIDUP KAN. NGGAK MUNGKIN MAMA PERGI. NGGAK.”
Al menyerobot masuk kedalam dan membuka kain yang menutupi wajah Lelita.
“Ma, bangun. Mama masih bisa denger suara Al kan. Ma, I need you.” Al menangis sejadi jadinya di samping Lelita.
...…...
Pemakaman di selimuti duka yang mendalam. Orang orang merasa kehilangan sosok Lelita. Terutama anak semata wayangnya yang benar benar terpukul akan kejadian ini.
Dalam satu tahun sekaligus ia harus kehilangan keluargnya.
Selama proses pemakaman. Al hanya terdiam dengan mata yang menyorotkan kehilangan mendalam. Ia bahkan, tak berbicara sama sekali.
Ketika sebagian besar orang orang sudah pergi meninggalkan pemakaman. Sahabat Al, Karan bersama sahabatnya masih tetap ada di tempat tersebut. Menemani Al.
“Al, kita semua disini turut berbelasungkawa atas kepergian Tante Lelita. Bukan cuma lo yang ngerasa kehilangan, kita juga Al.” Ujar Devon.
“Tante Lelita udah kaya nyokap gue,” Reonal tersenyum menrawang memorinya bersama Lelita. Bagaimana ia begitu dekat dengan Mama sahabatnya.
“Makasih tan, untuk kebaikan Tante. Makasih udah nganggep kita kaya anak Tante sendiri.” Lanjut Reonal.
“Makasih tan, udah mau jadi teman sekaligus ibu buat kita semua.” Farel mengusap batu nisan Lelita.
Awan berubah warna menjadi gelap. Burung burung berterbangan untuk pulang. Al sudah tak menangis ketika di pemakaman. Ia sudah lelah untuk menyuarakan air matanya.
Semua orang sudah pulang berberapa menit tadi. Menyisahkan Al dan Karan di pemakaman.
Karan mendekat kearah Al. Mengusap pundak cowok tersebut dengan lembut.
Mata Al terus tertuju pada kuburan dihadpannya. Air matanya kembali membasahi pipinya. Al telah sampai pada titik terlemahnya. Kehilangan seorang malaikat yang begitu ia cintai.
Karan mencegah tangan Al yang hendak mengusap air matanya sendiri.
“it’s okey, nangis aja. Jangan dihapus, nanti makin sakit. Biarin dia turun dengan sendirinya.”
Karan memeluk Al dari samping. Ia ingin selau ada untuk Al, dimasa sulitnya maupun masa bahagianya.
“Gue kehilangan nyokap gue ran.” Ujar Al didalam pelukan Karan
"Sama seperti lo, gue juga kehilangan sosok Tante Lelita."
Tak ada yang berbicara. Hanya angin dan pohon yang saling bercengkrama diatas sana.
“Gue emang nggak bisa jadi kaya Tante Lelita. Tapi, gue bakal terus ada disamping lo sperti apa yang Tante Lelita lakuin ke lo.” kata Karan tulus.
__ADS_1
"Lo masih punya gue." lanjut Karan lagi.