
[bagi yg lupa] chapter sebelumnya Mama Al sakit dirumah sakit
Karan menyodorkan sekotak nasi dihadapan Al. Sudah dari semalam ia belum mengisi perutnya sedikitpun.
“Makan.”
“Belum lapar.”
“What? Lo dari semalam belum makan Al.”
Dengan gemas Karan mengambil kembali kotak berisi makanan dan menyuapkan makanan tersebut ke arah Al. Al tak menolak, ia membuka mulutnya. Membiarkan Karan menyuapinya.
“Al, lo jangan kaya gini. Lo juga harus makan. Kesehatan lo juga penting.”
“Mama gue.”
Karan menangkup kedua pipi Al. Matanya dan mata Al bertemu saling bersuara.
“Tante Lelita pasti sembuh, gue yakin itu. Tapi, Tante Lelita bakal sedih kalau tau lo terus terusan kaya gini.” Karan tersenyum tulus. “Serahin semua ke tuhan, tugas lo sekarang berdoa biar Tante Lelita diberi kesembuhan.
...…...
Al mengerenyitkan dahinya ketika melihat mobil Papanya terparkir di halaman rumah. Al bergegas masuk. Sudah lama dirinya tak bertemu dengan Papanya.
“PA!”
“Papa!”
Langkah kaki Al melemas, bibirnya terbuka sempurna. Ia tak menyangka akan disambut dengan pemandangan yang membuat amarahnya semakin memuncaki. Melihat Papa Kebanggaannya yang tengah berciuman dengan seorang wanita lain.
“Al.” Andra yang menyadari keberadaan anaknya, segera bangkit dari duduknya dan mendekati Al.
Ketika tangan Andra hendak menyentuh pundak Al dengan gesit ditepis oleh sang empu.
“Jangan sentuh gue.” Ucap Al dingin.
“Al, Papa kangen.”
“Papa? Papa mana yang ngebiarin istrinya berbaring di rumah sakit, sedangkan dirinya berduaan dengan wanita lain.” Teriak Al dengan lantang di depan Papanya.
“Ternyata begini kelakuan Papa dibelakang Mama. Bejat. Jangan jangan, ini juga alasan Papa sering bekerja ke luar kota. Biar bisa berduaan bareng sama selingkuhan kan!”
“Kalau Mama tau, Mama pasti hancur ngeliat suami yang dicintai ngekhianatinya.”
Al sudah tak bisa menahan emosinya lagi. Matanya memerah, tangannya mengepal serta nafasnya yang tak beraturan.
__ADS_1
Andra menghela nafas panjang. Membuang muka. “Mama sudah tau.”
Al langsung menarik kencang kerah baju Andra. Dan melayangkan tinju tepat dirahangnya. Membuat tubuh Andra terhuyung kebelakang.
Wanita yang sedari tadi hanya diam. Kini ikut membantu Andra.
“Kamu gapapa?”
Andra mengelang pelan dan tersenyum. Sedangkan wanita tersebut mengusap pelan pipi Andra yang kemerahan akibat tinju dari Al.
“Al kamu ketraluan. Percuma kamu sekolah tinggi tinggi tapi nggak ngerti sopan santun.” Andra kembali mendekat kearah Al.
Al tertawa mengejek. “Gue sopan sama semua orang kok. Kecuali lo.” Tunjuk Al tepat di depan wajah Andra.
“Percuma lo sekolah tinggi tinggi, punya jabatan tinggi kalau nggak bisa jadi pemimpin rumah tangga yang bener.
Plak
Satu tamparan kencang mendarat di Pipi Al. Al terkekeh, ia tak merasakan rasa sakit di pipinya. Melainkan merasa begitu sakit di dalam hatinya.
“Anak sama Mama sama saja.”
Al mendorong tubuh Andra kebelakang, membuatnya jatuh ke lantai yang dingin. Al hendak melayangkan tinjunya. Namun di tahan oleh wanita tersebut.
“Jangan,” lirihnya.
“Pergi dari rumah ini. Gue nggak mau ngeliat wajah lo ada dirumah ini. Pergi!”
Andra bersama wanita tersebut pergi meninggalkan Al sendirian di ruang keluarga.
“Brengsekk!!” teriak Al.
Al memecahkan sebuah figura yang didalamnya terdapat sebuah foto dirinya bersama Papanya.
Al yang kembali terbawa emosi memecahkan berbagai kaca di meja. Ia tak peduli dengan tangannya yang berdarah akibat pecahan kaca.
“AL STOP IT!”
Al tak menghiraukan seruan Karan yang tiba tiba datang. Justru ia semakin membrutal merobohkan dan memecahkan barang barang di sekitarnya.
Melihat tangan Al yang berlumuran darah membuat Karan langsung bergegas mendekat kearahnya.
Karan memeluk Al dari belakang
“Please, stop.” Ucap Karan pelan dan gemetar.
Pasalnya, baru pertama kali ini ia melihat Al semarah ini.
__ADS_1
Al yang hendak memecahkan foto keluarga, terurungkan niatnya begitu mendengar suara lembut Karan menari di telinganya. Al memutar balikkan badannya dan kemudian memeluk Karan. Karan membalas pelukan Al.
“Luapin aja apa yang lo rasain.” Kata Karan lembut.
“Keluarin semuanya disini.”
Tangis Al pecah dipundak Karan. Pundak yang memberikan kenyamanan untuknya. Al memperlihatkan sisi lelahnya dihadapan gadis yang paling ia benci dulu. Namun siapa sangka, sekarang justru gadis itu obat bagi Al.
Hai readers Al dan Karan, i’m backk.
Makasih yang masih setia ya, next chapter bakal fast update, biar cpt tamat.
__ADS_1