Al Dan Karan

Al Dan Karan
74.Bolos


__ADS_3

Mobil hitam milik Al memasuki pekarangan rumahnya. Dari siang sampai malam, Al baru pulang dari latihan futsal.


Karan berlari keluar begitu mendengar notif dari ponselnya.


"Ini atas nama mbak Karan ya?" tanya seorang gojek ketika pintu pagar dibuka Karan.


"Iya Pak itu saya.Eum.. Pak boleh saya minta tolong?"


"Minta tolong apa mbak?"


"Tolong ya, yang ini Bapak kasih ke rumah disebelah sana, tapi jangan bilang dari saya." pinta Karan sambil menunjuk rumah Al. "Terus yang ini buat bapak." Karan memberikan kantong plastik yang lain untuk bapak gojek tersebut.


"Beneran buat saya? ini banyak loh mbak."


Karan tersenyum tulus, "Bener, buat Bapak kok."


"Makasih ya mbak. Plastik yang ini saya langsung kasih aja ya berarti?"


"Bentar pak," cegah Karan, ia menaruh sticky note yang sudah di tulisnya kedalam salah satu paper bag.


"Udah Pak, Makasih ya Pak."


Gojek tersebut mengangguk dan menuruti apa yang Karan pinta tadi. Karan langsung masuk kedalam rumah. Untuk kembali mengerjakan tugas sekolah yang sempat tertunda.


Karan sengaja membelikan makanan itu khusus untuk Al. Anggap saja sebagai balas budi Karena ia telah merombak makam Papanya menjadi indah.


Al dibuat heran ketika ada seorang gojek datang kerumahnya, membawa banyak makanan. Seingatnya ia tak memesan gofood sama sekali. Mamanya juga tidak mungkin, beliau masih diluar kota.


Al mengambil satu persatu makanan dari kantong plastik. Keningnya mengerenyit ketika matanya menangkap sticky note kuning disalah satu paper bag.


Jangan lupa dimakan yaa


Harus habis pokoknya


:)


Dengan adanya tulisan tersebut. Al tahu siapa pengirim makanan ini. Seketika bibirnya terangkat membentuk senyum kecil. Perasaan aneh menjalar di seluruh tubuhnya, kala mengingat perhatian kecil yang Karan berikan untuknya.


Tak langsung makan, Al merogoh sakunya, mengambil ponsel dan mulai mengetikan pesan untuk Karan.


Al : Thanks buat makanannya


night


Hubungan Al dan Karan semakin hari semakin dekat. Kedekatannya kembali diperbincangkan oleh para murid sekolah.


Dari kejauhan, Al melihat Karan yang tengah berjalan tak jauh dari dirinya. Al mempercepat langkahnya dan merangkul pundak Karan begitu ia sudah disamping Karan.


Langkah Karan terhenti, cewek itu melepas rangkulan tangan Al.


"Pegang gue, bayar." kata Karan jutek.

__ADS_1


"Kalau nyium lo?" goda Al, menaik turunkan alisnya.


"AL..GUE BENCI LO!" teriak Karan bebas. Berhubung masih pagi, jadi koridor belum ramai.


Karan kembali melanjutkan perjalanannya. Dan lagi lagi Al kembali menjahili cewek itu. Seakan menjahili Karan tengah menjadi hobi baru Al.


"Yakin lo benci gue?" tanya Al sembari berjalan disamping Karan yang buru buru.


Karan tak merespon ucapan Al. Ia memilih membuang muka. Bersikap seolah olah tak ada orang disampingnya.


"Kalau nggak jawab, berarti lo suka gue."


"I HATE YOU!" ujar Karan penuh penekanan di setiap katanya.


"But.. I love you." bisik Al tepat ditelinga Karan.


Karan diam membeku. Ini bukan kali pertama Al mengucapkan kata sakral ini. Tak bisa dipungkiri, seolah ada kupu kupu yang kembali berterbangan di perutnya. Rasanya begitu candu.


Al terkekeh, meninggalkan Karan yang membeku akibat pernyataannya barusan.


"Sialan, awas aja lo Al." geram Karan begitu ia tersadar tengah dibuat salting oleh cowok yang ia benci. Bukan benci, tepatnya mencoba membenci.


"Najis,nyesel gue berangkat pagi," sinis Ralina begitu melihat kedekatan Karan dan Al didepannya.


"Bilang aja lo iri." sahut Aura dan Nana dari belakang Ralina.


Ralina mendegus dan melipat tangannya didepan dada.


"What iri? sorry nggak level gue iri sama cewek murahan kayak dia. Dilihat dari segi apapun, jelas masih menang gue kali."


Nana hendak maju menjambak rambut Ralina. Langsung diatahan oleh Aura dengan cekatan.


"Lo sadar nggak sih Na, dia lagi ngatain dirinya sendiri. Masa lo gatau wakil osis sekolah kita, kalau diluar kerjaannya jadi Sugar baby." kata Aura lantang.


Bertepatan dengan itu geng Jenny alias geng penyebar gosip paling pro disekolah tengah lewat dibelakang mereka.


"What? serius Lin?" tanya Jenny begitu mendengar berita hot tersebut.


Ralina melotot kesal kearah Aura. Kemudian pergi entah kemana. Tanpa menjawab pertanyaan dari Jenny


"Ra, serius?"


"Lo kan orang yang paling suka ngurusin hidup orang nih. Ya, lo cari tau sendirilah sama para babu babu lo." tunjuk Aura kearah teman teman Jenny.


"Gila lo, cakep kayak gini dikata babu." sahut Camelya tak terima


Aura dan Nana tak menggubris. Keduanya memilih pergi meninggalkan Jenny berserta antek anteknya yang masih dilanda kekepoan.


"KARAN!!"


Karan terlonjak kaget begitu ada yang meneriakinya dengan nyaring.

__ADS_1


"Iya bu, kenapa?" tanya Karan dengan suara khas orang bangun tidur.


Bu Eli selaku guru seni melotot tajam kearah Karan sambil berkacak pinggang.


"Hah, kenapa kamu bilang. Ya, kamu tidur di kelas. Dari awal saya sudah menetapkan peraturan di kelas ini. TIDAK ADA YANG BOLEH TIDUR SELAMA JAM MATA PELAJARAN SAYA." omel Bu Eli dengan suara YA yang lantang


"Saya ngantuk Bu."


"Berdiri dan keluar kelas. Kamu tidak boleh mengikuti jam pelajaran saya hari ini."


Seperti disetrum listrik, seketika mata Karan langsung terbangun. Karan segera keluar meninggalkan kelas dengan hati yang bahagia. Bisa lolos dari pelajaran membosankan tersebut adalah suatu anugerah bagi Karan Jevina Berlino.


Seperti biasa, Karan memilih bolos di rooftop sekolah. Hanya sekedar untuk menikmati pemandangan kota yang begitu begitu saja. Bedanya, hari ini langit tengah berduka. Seakan ingin menumpahkan segala kesedihannya.


"Mau bolos bareng nggak?"


Baru saja Karan akan memejamkan matanya untuk merasakan tarian angin. Suara seseorang yang tak asing di telinga, membuatnya harus menoleh kebelakang.


"Lo? bukannya lo tadi nggak tidur, kok ada disini?" tanya Karan heran.


"Ck, nggak penting. Lo mau bolos keluar nggak?" tanya Al lagi


"Lo nggak lihat, di pagar depan ada Pak Dandang yang galaknya sebelas dua belas kek ibu kos."


"Lo kira pintu buat keluar cuma gerbang depan doang?" pungkas Al, menaikan sebelah alisnya.


Karan mengangguk polos.


"Gue kira lo udah pro dalam hal perbolosan gini." kekeh Al


"Gila lo. Udah buru, sekarang ayo bolos."


Karan menatap tak yakin dengan tembok tua yang sudah usang didepannnya.


"Jangan bilang kita loncat dari sini?"


Al mengangguk. Ia berjongkok dihadapan Karan. "Buruan naik,"


"Enggak." tolak Karan mentah mentah.


"Yaudah nggak jadi." Al bangkit dari jongkoknya.


"Lah..Kok gitu, gue udah semangat pengin bolos nih."


Al mendekat kearah Karan dan menyentil dahi cewek mungil dihadapannya. "Katanya nggak mau."


"Maksutnya, gue nggak mau naik lo. Ini nggak ada tangga atau apa kek?" Karan menoleh kesana kemari. Berharap menemukan tangga agar mempermudah aksi bolosnya.


Al mengusap rambut Karan dengan gemas. Kemudian mensejajarkan tubuhnya dengan Karan. "Karan cantik, naik gue sekarang. Kalau lo nunggu ada tangga, minggu depan baru bolos lo."


Al kembali jongkok didepan Karan.

__ADS_1


"Ta-tapi-"


"Tenang, gue nggak bakal ngintip, nggak nfasu gue sama lo." potong Al, seolah tahu apa yang dipikirkan Karan.


__ADS_2