Al Dan Karan

Al Dan Karan
72. Cantik


__ADS_3

Note: Part atas itu penggulangan dari yang kemarin ya.


Al menoleh kesana kemari. Dia tidak menemukan sosok cewek yang tak lain tak bukan adalah Karan. Padahal biasanya jam segini dia sudah datang kesekolah.


"Lo ngapain sih? kayak maling aja celingak-celinguk." sewot Reonal b


"Ck, diem."


"Tuhan udah ngasih gue mulut buat bicara, yakali gue anggurin. Emang lo."


Devon mengeplak kepala Reonal disebelahnya. "Ya nggak gitu goblok."


"Au ah pasti gue salah mulu, mau nyamperin ayang Aura aja."


Al mengerenyit heran dia makin dibuat penasaran. Bagaimana tidak, kedua sahabat Karan sudah datang. Sedangkan, Karan daritadi tidak memunculkan batang hidungnya.


Al beranjak dari duduknya menghampiri Aura dan Nana.


"Ra, Na," panggil Al.Reonal yang tengah berbicara dengan Aura ikut menoleh.


"Ngapain lo kesini, ini ayang gue." sinis Reonal


Al tak menggubris Reonal. Ia mengutarakan pertanyaan yang daritadi memenuhi isi kepalanya.


"Karan hari ini izin nggak masuk. Mau kerumah neneknya." jelas Nana.


"Ngapain lo nyari Karan?" tanya Aura tak suka.


"Bukan urusan lo."


"YA URUSAN GUE DONG! DIA SAHABAT GUE!!" teriak Aura tak terima.


Al tak menoleh sedikitpun, dia tetap berjalan. Meskipun kini beberapa pasang mata menatapnya akibat teriakan Aura.


...…...


Karan membuka ponselnya begitu ada pesan masuk dari Al.


Al: mndadak bgt ga msukny


Al:. hati hati


Karan menarik ujung bibirnya, membentuk senyuman begitu membaca pesan dari Al yang sebenarnya tidak ada sesuatu yang manis disana.Berhubung yang mengirimnya adalah Al maka terlihat manis bagi Karan.


"Kenapa? Al ya?" tanya Mirna


"Ih Mama, apasi."


"Al baik tau Ran," ungkap Mirna sambil menyetir mobil.


"Hilih, dia tuh udah nyakitin hati Karan tau Ma."


"Semua hal di dunia ini beresiko. Terutama jatuh cinta. Obatin pelan pelan sakitnya, meskipun nanti bakal ninggalin bekas."


Karan terdiam mencerna ucapan Mamanya.


"Mama pernah patah hati?"


Mirna melirik tertawa pelan mendengar pernyataan polos dari anak perempuannya. "Siapa sih manusia di dunia ini yang nggak pernah patah hati. Entah itu karena cinta, friendship atau family."


 


"Call aja kali," sahut Reonal dari belakang Al.


Al berdecak kesal.


"Kalau kangen mah tinggal call, mentingin gengsi doang kapan kelarnya."


Farel menepuk jidat Reonal kasar. "Tumben lo bener."


"Bener nggak bener jidat gue selalu jadi sasaran lo."


"Gemoy jidatnya," kata Farel sok imut


Reonal menjawab dengan gaya ingin muntah.


Al tak menggubris perdebatan random sahabatnya. Al lebih merindukan Karan. Aneh, dulu ia berharap Karan pergi darinya. Sekarang, baru beberapa jam tidak bertemu gadis itu rasanya begitu kosong dan hampa.


"Gue duluan," pamit Al kepada sahabatnya.

__ADS_1


"Woi Asep ini makanan lo siapa yang bayar, woi!!" teriak Reonal membuat dirinya kini jadi pusat perhatian.


Al tak mengindahkan teriakan Reonal. Langkah kakinya terus berjalan sampai menuju rooftop sekolah. Benar kata Reonal, ia harus menyingkirkan egonya. Dengan ragu ragu Al menelfon Karan.Untuk pertama kalinya Al menelfon cewek bernama Karan.


"Al?"


Al begitu terkejut ternyata Karan menjawab telfonnya.


"Al?"


Al tak tahu harus berbicara apa, jantungnya berdegup kencang.


"Buset, lo mau jahilin gue apa gimana sih," terdengar Karan mengomel diseberang sana.


"Hmm?" gumam Al sok cuek, padahal sekarang ia tengah memejamkan matanya. Menetralisir rasa gugupnya.


"Apaan sih lo, lo yang nelfon lo juga yang hamm..hemm.."


"Apa?"


"Al lo ngigo ya, orang bilang apa lo jawab apa."


"Gak."


"Lo ngapain nelfon gue? kangen gue ya lo.." goda Karan dengan kekehan diakhir kalimatnya.


"Iya gue kangen lo." Jawab Al jujur.


Karan terdiam diseberang sana, begitupun Al. Sedetik kemudian sambungan telepon diputus oleh Karan.


Al menepuk jidatnya, ia baru sadar apa yang ia ucapkan barusan.


Saat sibuk merutuki mulutnya yang terlalu jujur. Ada sebuah pesan masuk di ponselnya. Dari seseorang yang baru saja ia rindukan.


Karan: semangat sekolahnya


Karan: jangan bolos, biar gue aja yang bolos wkwk


"Ran, mau gimanapun lo harus jadi milik gue." gumam Al yang telah termakan mulutnya sendiri.


Al menatap hampa kamarnya. Ia merasa bosan daritadi hanya bermain game di ponselnya. Cowok bertubuh tinggi bangun dari kasurnya, mengambil jaket serta kunci motornya.


"L-lo?"


Karan menyodorkan paper bag coklat kepada Al. "Oleh oleh buat Tante Lelita, bukan lo."


Setelah mengatakan itu Karan membalikkan badan, meninggalkan rumah Al.


Sebelum Karan menjauh dari jangkauannya, Al langsung menarik tudung hoodie Karan. Sehingga mau tak mau gadis itu terserat mundur.


"Apaan sih lo, main tarik tarik aja. Manusia ini, bukan kucing." omel Karan.


"Wait, jangan pergi lo awas aja kalau lo pergi, wait ya tunggu.."


Karan memutar bola matanya kesal. Niatnya untuk marathon jadi gagal gara gara cowok menyebalkan ini.


"Ayo," Ajak Al


"Main ayo ayo aja, lo mau ngajakin gue kemana?"


"Makan," jawab Al sambil menghidupkan motornya.


"Gue udah makan."


"Yee, bodoamat lo udah makan apa belum. Gue ngajak lo buat nemenin gue makan." terang Al membuat Karan melotot kesal mendengarnya. "Nih," Al memberikan helm kepada Karan.


"Muka lo kusut banget." sindir Al lewat kaca spion


"Hah?"


"Gajadi."


"Apa sih ngomong yang jelas, udah tau ini di motor."


"Cantik cantik bolot." gumam Al sendiri.


Sialnya Karan tidak membawa ponsel, jadi semakin bertambah kegabutannya. Daritadi ia hanya melakukan kegiatan yang tidak berfaedah sama sekali seperti memperhatikan Al makan, memperhatikan sekitar, menaruh kepalanya di meja makan, dan memutar mutar es teh miliknya.


"Lo diem bisa nggak?"

__ADS_1


"Nggak."


"Pusing gue lihatnya."


"Ya nggak usah lihat gue dong, lihat nasi lo tuh."


Al memilih tak menggubris dan melanjutkan makannya. Dan Karan tetap sama dengan kegiatan gabutnya.


Setelah Al selesai mencuci tangannya. Satu pertanyaan terlintas di kepala Karan.


"Al,"


Al yang tengah meminum, mengangkat sebelah alisnya sebagai respon.


"Lo suka banget sama nasi goreng?"


"Gak juga."


"Tapi lo selalu makan nasi goreng kalau sama gue."


"Kebetulan."


"Serah lo deh, sebahagia dan semerdeka lo. Pokonya gue nyimpulin kalau lo suka nasi goreng, titik."


Al menjitak kepala Karan pelan. "Gunanya lo nanya apa, kalau lo nyimpulin sendiri."


"Formalitas."


"Bego."


Karan menoyor kepala Al. "Gue udah pinter anjir, enak aja lo."


Keduanya kembali melanjutkan perjalanan. Sekedar berdua diatas motor, meniti jalanan ibu kota malam ini yang ramai seperti biasanya.


Karan menepuk pundak Al kencang membuat sang empu kesakitan.


"Apa?" kesal Al.


"Ke Timezone yuk, pengin gue."


Al tak menjawab, cowok itu memutarbalikkan motornya menuju salah satu mall yang didalamnya tersedia Timezone.


"Lo mau ngapain sih kesini?"


"Have fun." jawab Karan singkat dan langsung masuk kedalam.


Permainan yang mereka mainkan pertama adalah Dance Dance Revolution. Tentunya, Al tak mau dan dengan the power of maksa yang dimiliki Karan. Al terpaksa mengiyakan.


"Ayo, lo lawan gue." ajak Karan begitu mereka sampai didepan sreet Basketball


"Daritadi gue juga lawan lo."


Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Bagi mereka yang sedang bahagia waktu berlalu begitu cepat. Mereka banyak menghabiskan waktu di Timezone diiringi dengan tawa.


Sebelum pulang Karan meminta kepada Al untuk berhenti di supermarket dekat komplek mereka. Al tak ikut masuk kedalam, cowok itu memilih menunggu diluar, diatas motor.


Al melihat jam dipergelangan tangannya. Tadi Karan mengatakan kalau dirinya hanya membeli dua minuman soda favoritnya yang seharusnya tak membutuhkan waktu lama.


'Apa iya kulkas supermarket ini pindah ke kutub utara.' gumam Al dalam hati.


Baru saja dinanti nanti, Karan muncul dari pintu supermarket dan- tak sesuai apa yang dibicarakan Al. Justru cewek itu membawa dua kantong kain supermarket yang cukup besar.


Alih alih menghampiri Al. Karan justru berjalan menuju pojok depan supermarket yang disana ada seorang ibu tua bersama tiga anaknya. Duduk di tanah tak berlaskan apapun, pakaiannya pun nampak kumuh dan compang camping.


Karan memberikan dua kantong kain tersebut kepada mereka. Senyum riang tercetak jelas diwajah mereka, terutama anak anaknya. Al memperhatikan gerak gerik Karan dengan senyuman kecil. Ia benar benar tidak salah mencintai orang kali ini. Setelah berbincang singkat dengan ibu tersebut Karan melangkahkan kakinya menuju dimana motor Al berada.


"Thanks," ucap Karan begitu dirinya turun dari motor Al.


Al mengangguk.


"Ran," panggil Al ketika Karan hendak membuka pagar rumahnya.


Karan menoleh,Menunggu cowok itu melanjutkan perkataannya.


"You are beautiful, bukan cuma cover lo doang. Hati lo juga. So, nggak ada alasan gue nggak suka lo. Karena semuanya sudah ada di lo.Night." Al lembali melajukan motornya menuju rumahnya.


Karan terdiam mematung begitu kalimat tersebut menari nari ditelinganya. Memberi serbuk kebahagiaan disetiap organnya. Apalagi ketika ia melihat tatapan mata Al yang begitu menyorotkan ketulusannya.


Semburat merah padam muncul di permukaan pipi Karan. Tak bisa dipungkiri senyum lebar tertarik menghiasi wajah Karan malam ini.

__ADS_1


__ADS_2