Al Dan Karan

Al Dan Karan
49.Move on kesekian kali


__ADS_3

Berita tentang Al dan Ralina jadian telah menyebar luas ke seantero sekolah.Karan berjalan di koridor menuju kelas dengan pandangan yang lurus.Tak peduli dengan para siswi yang tengah membicarakan dirinya terkait berita tersebut.


Saat memasuki kelas.Hampir semua pasang mata tertuju padanya.Begitupun dengan Ralina yang kini tengah duduk di kursi Devon, sedangkan Al disampaingnya.


"Cih, bucin." gumam Karan sinis.


Baru saja Karan hendak berjalan menuju bangkunya.Herlina, teman sekelasnya mencegatnya.


"Morning ran, btw lo gapapa kan semalem?" tanya Herlina teman sekelasnya.


"Lo lupain aja yang modelannya kaya dia mah.Lo cantik, bisa ngedapetin yang lebih ran." sahut Erin disamping Herlina.


Karan terkekeh, melihat tingkah keduanya teman sekelasnya tersebut. "Apaan sih, lo berdua.Gini ya, udah sejak lama kali gue berhenti ngejar tu es cowok."


Suasana kelas yang semula agak bising kini berubah menjadi hening begitu saja.Kini berganti Al yang menjadi pusat perhatian ketika Karan mengucapkan kalimat 'berhenti ngejar tu cowok '


"Gila kali, gue juga manusia yang punya limit.Apalagi buat ngejar dia.Udah ah, biarin dia bahagia sama cewek barunya." sindir Karan membuat Al menatap Karan dengan tatapan yang tak bisa dibaca.


Karan kemudian duduk di bangkunya.Tanpa beban, tanpa mata bengkak dan tanpa rasa sedih yang menyelimuti wajahnya.Para murid mempercayai apa yang Karan ucapkan barusan.Bahkan mereka berasumsi, bahwa Karan sudah tak memiliki perasaan sama sekali kepada Al.


Begitulah yang terlihat dari luar.Belum tentu seperti di dalamnya.Kalau boleh jujur, Karan masih memiliki perasaan untuk Al.Tapi, kali ini ia benar benar akan berusaha menghilangkanya.Karan sadar betul akan posisinya sekarang.


"Eyoo, my best friend." sapa Karan ketika kedua sahabatnya datang.


Nana dan Aura saling melempar kode satu sama lain dengan lirikan mata.


"Ran lo gapapa?" Nana langsung menarik kursinya untuk mendekat ke tempat Karan berada.


"Ya gapapa lah.Emang kenapa?" tanya Karan balik disertai kekehan kecil.


Nana menunjuk Al dan Ralina dengan dagunya.


"Ya terus? gue harus nangis nangis lagi gitu, mohon mohon sama dia? sorry ya,enggak lagi."


Aura melotot tak percaya. "Lo enggak sedang bercanda?"


"Enggak lah Ra.Gini ya, gue udah mutusin buat move on dari dia.Harusnya lo berdua seneng kek, bukan malah nggak percaya."


Ya kita seneng.Tapi, kok bisa secepat ini gitu.Kaya nggak mungkin." pungkas Nana


Aura mejentikan jari, menyetujui ucapan Nana kali ini.

__ADS_1


"Nice, atau jangan jangan lo lagi nyembunyiin perasaan Lo dari kita?" selidik Aura


Tebakan Aura memang benar.Karan tak ingin membicarakan perasaannya kepada siapapun, termasuk sahabatnya sendiri.


"Enggak lah, kalian kan babu gue. Yakali gue nyembunyiin dari lo berdua."


Aura menoyor kepala Karan. "Babu, babu, jangan sampai nih sepatu melayang ke kepala lu."


Karan tertawa kecil melihat Aura yang notabennya memang galak dan emosian.


"Gue harap lo beneran move on sama Al."


Karan mengacungkan jempol dan tersenyum lebar kepada Nana.


'Gue harap juga gitu Na, semoga apa yang lo omongin bisa jadi kenyataan.' kata Karan dalam hati kecilnya.


Karan tengah berada di perpustakaan.Cewek itu hanya sekedar menenangkan diri dari keramaian saja.


Karan memilih tempat duduk di pojok yang lumayan jarang di jamah oleh para murid.Ia menyumpal telinganya dengan airpods.Matanya terpejam menikmati alunun lagu yang tengah berputar.


"Ekhem." seseorang berdehem disamping Karan.Gadis itu masih tak menyadari keberadaan orang tersebut.


"Woi!"


Dengan kesal Al langsung melempar map tipis di pangkuan Karan.Refleks Karan membuka matanya dan mendongak.


Alih alih bertanya perihal map tersebut.Tapi Karan dengan telinga yang masih tersumpal airpods memilih pergi meninggalkan Al.


Al menyadari bahwa kini Karan sudah benar benar menjauhinya.Tapi bukankah itu bagus, ini lah yang Al mau dari dulu.


Ponsel yang Al letakan di sakunya celananya bergetar.Membuat Al mengambil ponsel tersebut.Nama Ralina tercetak jelas di layar ponsel.Segaris senyum pun terbit di bibir Al kala melihat pesan dari pacarnya itu.


Karan duduk di taman sekolah.Tempat favoritnya sekaligus, sumber patah hatinya.Tangannya mulai membuka map tersebut, map berisi tentang laporan perkembangan Karan dalam pelajaran.ia cukup puas dengan hasilnya.


Saat mengamati nilai nilai yang tertera disana.Secuil memori singkat tentang Al kembali masuk ke kepalanya.Ia tak akan bisa mencapai nilai semaksimal ini tanpa bantuan Al.


"Makasih ya." gumam Karan pelan.


"Hai," sapa Dean, cowok itu kemudian duduk di samping Karan.


Karan tersenyum sebagai balasan.

__ADS_1


"Ran lo gapapa?" tanya Dean.


Sepertinya Karan mulai bosan dengan pertanyaan tersebut.Sedaru tadi itu itu saja pertanyaan yang sering ditanyakan.


"Gapapa lah, jangan bilang lo nanyain gue begitu karena hal itu?"


Dean menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Lagian gue nggak seharusnya memaksakan perasaan kaya kemarin kemarin." kata Karan pelan.


Dean mengangguk pelan. "Lo pasti bisa nemuin seseorang yang terbaik nantinya."


"Lo juga."


Dean menatap Karan dari samping dengan tatapan yang sendu.


'Apa lo nggak mau jadi seseorang yang terbaik itu ran?' tanya Dean dalam hati.


"Al lo beneran jadian sama Ralina?" tanya Farel ketika mereka berempat berada di sebuah cafe.


"Menurut lo?" jawab Al jutek seperti biasa.


"Tau nih, gini nih.Kelamaan jomblo." sahut Reonal.


"Ngaca bego."


"Lo yakin Al perasaan lo benar benar buat Ralina atau perasaan lo terbagi?" pancing Farel


"Ya, jelas cuma buat Ralina lah.Kalau terbagi mana mungkin dia jadian sama Ralina." kali ini Devon yang angkat bicara.


Reonal mengacungkan dua jari jempolnya. "Tau nih, ngelantur kalau ngomong."


Al terdiam meresapi apa yang Farel katakan.Memang iya, tak bisa di pungkiri.Perasaanya kepada Ralina sudah tak seperti dulu lagi.Kini ada seseorang yang diam diam masuk ke dalam hati Al.Siapa lagi kalau bukan Karan.Anggap saja Al maruk, tapi itulah yang terjadi sekarang.


Sebelum perasaan itu semakin bertumbuh dan menjadi boomerang bagi Al.Cowok itu sebisa mungkin akan membunuh perasaannya sendiri.


 


Hai maaf ya telat banget upnya.Makasih juga yang masih tetap stay sama Al dan Karan.


Btw kalau kalian ada saran atau kritik tulis aja yaa.

__ADS_1


see you


__ADS_2