
"Lo berdua tadi ketemu di kutub utara terus bareng atau gimana dah.Tumben berangkat berdua, udah kaya upin Ipin gue rasa." cerocos Nana saat mengetahui Karan dan Aura berangkat ke sekolah bersama hari ini.
"Upin Ipin your eyes." cibir Karan.
"Gue lagi nginep di rumah Karan, you know lah."
Nana langsung faham dengan apa yang Aura katakan barusan.Cewek berambut hitam kecoklatan itu memeluk Aura dari samping.Memberi kekuatan untuk sahabatnya.
"Telat lo, acara peluk pelukan dah semalam." sewot Karan
Nana menegakan badannya. "Ya lo nggak bilang kalau semalam Aura di rumah lo.Kalau bilang, gue gas juga ke sana."
"Yaudah, jangan ribut dah lo berdua." lerai Aura, sebelum terjadi perdebatan antara Nana dan Karan.
"Eh, nanti gue mau nginep rumah lo juga deh ran."
"Bayar tapi."
"Anjir. Lo sama teman sendiri aja perhitungan.Nggak suka ah, gelay."
Karan menoyor kepala Nana pelan. "Yeu maka dari itu.Berhubung lo temen gue, jadi gue perhitungin aja sekalian." kata Karan bercanda.
"Setan lo ran." maki Nana.
"Pertanyaannya, mana ada setan secantik gue?"
"Cantik doang tapi di sia sia in." skak Nana, membuat Karan melotot.
Pembicaraan random mereka terpaksa berhenti.Karena Pak Ijun selaku guru Bahasa Indonesia sudah memasuki kelas.
Karan, Aura dan Nana sedang berjalan menuju parkiran.Bukan mereka namanya kalau tidak bertingkah di sepanjang perjalanan.Sampai suara seorang cowok membuat ketiganya menoleh.
"Karan!" panggil Dean setengah berlari ke arah ketiganya.
Nampaknya cowok itu hendak latihan basket.Terbukti dengan baju basket yang Dean bawa di tangan kanannya.
"Kenapa yan?" tanya Karan
"Lo nggak lupa kan nanti.Jam delapan gue jemput." tuturnya
Karan tersenyum tipis dan mengangguk.Berbeda dengan kedua sahabatnya yang langsung meng 'cie cie' Karan dan Dean.
"Lo berdua tu couple goals banget." Heboh Nana
Karan mengikut lengan Nana "Apaansi lo."
Dean terkekeh. "Doain ya semoga gue bisa ngeluluhin hati temen lo."
"Pasti.Gue dukung banget lo sama Karan." kini Aura yang angkat bicara sambil mengacungkan kedua jempolnya.
Karan mendelik kesal kearah kedua sahabatnya yang terlihat sanggat menyebalkan bagi Karan di situasi seperti ini.
"Sorry ya,mereka cuma bercanda "Karan tersenyum kikuk.
"Kalaupun nggak bercanda juga gapapa kok." Jawab Al tenang.
Mendengar jawaban dari Al Aura dan Nana refleks terkikik.Berbeda dengan Karan yang hanya tersenyum kecil.Meskipun dalam hatinya merutuki apa yang Dean ucapkan.
"oi yan!" panggil Regan, teman basket Dean.
Dean menoleh sekilas ke arah Regan.Kemudian kembali menatap Karan. "Gue duluan ya, lo hati hati pulangnya.Nanti jangan lupa."
Setelah kepergian Dean, barulah Karan menghembuskan nafas lega.Menatap kedua temannya yang nyengir tanpa berdosa.
"Ngeselin lo berdua."
__ADS_1
"Ih,bodo ah.Peka kek lo,dari tadi dia ngode lo noh." kata Aura.
Karan memutar bola matanya malas.
"Na, kayanya kita nanti bakal di tinggal ngedate ni." ucap Aura
Nana terdiam di tempat, tak merespon ucapan Aura.Tatapannya berubah menjadi kosong dan sendu.
Aura menyenggol lengan Nana. Membuat Nana mengerjapkan mata berkali kali.Kemudian ia menoleh ke arah Karan dan Aura.
"Apa? kenapa? Jenggot siapa yang kebakar?"
Karan mengerenyitkan dahi sambil geleng-geleng kepala.
"Jengot Pak Samil noh kebakar." tukas Aura.Pak Samil adalah guru BK yang terkenal galak.
"Hah,kok bisa?" tanya Nana polos
Karan menghela nafas kasar dan kembali berjalan mendahului kedua sahabatnya yang sepertinya akan berdebat lagi.
Tanpa ba bi bu Aura menoyor kepala Nana gemas. "Bego." maki Aura.
Nana menoyor balik kepala Aura.
"Ye,Gue kan nanya.Dasar Mak lampir, marah marah mulu."
Setelah mengatakan itu Nana berlari terlebih dahulu.Sebelum terkena amukan Aura.
"Heh tunggu lo.Awas ya lo! "Teriak Aura, berlari menyusul Nana.
Karan hanya geleng geleng kepala melihat tingkah kedua sahabatnya yang terkadang seperti anak kecil, terkadang juga bisa menjadi orang yang paling dewasa.
...…...
"Heh, lo kan mau jalan sama Dean tapi muka lo cemberut mulu." Kata Aura sambil melempar boneka ke arah Karan.
pas gue mabuk.Ya,jadi gue nggak enak nolaknya."
Nana yang tengah mengoleksakan masker ke wajahnya sontak menoleh. "Demi apa Dean yang nolongin lo?
Karan mengangguk sebagai jawaban.
"Nah, lo bisa lihat tuh.Dean itu tulus sama lo." Kata Aura
"Iya gue tau.Tapi, hati gue masih stuck di Al."
"Oh my god Karan, buka mata lo.Ada cowok yang bisa ngehargain lo daripada si Al." ujar Nana gemas.
"I know, tapi perasaan gue nggak bisa bohong."
"Ran, apa lo nggak mau buka hati lo dikit aja buat Dean?"
"Gue lagi nyoba." Jawab Karan "Meskipun gue nggak yakin bisa." Lanjutnya.
Aura menoyor Karan pelan. "Ya usahain bisa lah.Belum apa apa udah ngomong gitu lo."
"Iya mak iya, bawel banget."
"Selain bawel dia juga judes ran." sahut Nana yang langsung mendapat lirikan tajam dari Aura.
Ringtone ponsel Karan berbunyi.Tertera nama Dean disana.
Karan segera mengangkatnya. "Halo?"
"Ran, gue udah di depan rumah lo nih." katanya di seberang telfon.
__ADS_1
"Iya, gue mau turun nih." respon Karan sembari mematikan telfon.
"Gue duluan ya." kata Karan kepada kedua sahabatnya.
"Semoga lancar yaa, martabak telurnya jangan lupa." jawab Aura
"Pulang pulang bawain gue cogan ye."
"Cogan cogan, pak Ijun juga cogan.Gas tuh." sahut Aura.
Nana melempar Aura dengan boneka Mickey mouse di sebelahnya. "Beda konsep woi."
Karan hanya terkekeh.Kemudian ia pergi meninggalkan kamarnya.Menuju depan rumah, dimana Dean berada.
"Sorry ya lama." kata Karan ketika gadis itu membuka pintu mobil Dean.
Dean mengangguk disertai senyum hangat di bibirnya. "Btw lo cantik."
Karan tersenyum kecil sebagai respons.Karan tidak merasa bahagia, atau merasakan perasaan apapun saat Dean yang memuji.Tapi Karan begitu yakin, perasaan itu berbeda saat Al yang mengatakannya.Meskipun sejauh ini tak pernah Al mengatakan hal tersebut.
Dari tadi Al tengah duduk di balkon kamarnya.Menatap mobil Dean yang membawa Karan bersamanya.Sejujurnya, Al tidak sebenci itu terhadap Karan.Masih ada secuil perasaan aneh dalam diri Al, ketika melihat Karan dan Dean bersama.Serta tanpa semua orang sadari, masih ada pula sedikit rindu di hati Al untuk Karan.Egois? ya, benar itulah Al.
Al dan Dean sampai di salah satu mall Jakarta.Mereka berdua memutuskan untuk makan terlebih dahulu.
"Ran." panggil Dean di sela sela makannya.
Karan mendongak menatap Dean dengan pandangan bertanya.Jari Al terulur untuk mengusap sisa makanan di bibir Karan.
Karan dibuat salah tingkah sendiri. "Mm.. thanks.".
"Makanya kalau makan jangan buru buru.Santai aja."
"Santai mah di pantai tu cocok."
"Kalau gue sih, liat lo aja bawaannya udah santai banget." gombal Dean
"Apaansih.Gombal aja lo."
"Buset,galak juga lo ran."
"Segalak galaknya gue, yang penting nggak segalak Aura."
"Itu sahabat lo galaknya udah sampai to the bone gue rasa."
Kemudian mereka melanjutkan kegiatan makannya masing masing.
"Ran." panggil Dean pelan.
"Kenapa?"
"Kalau gue boleh tau, apa yang bikin lo jatuh cinta sama Al?"
Karan menaruh sendok dan garpunya.Kemudian bibirnya tertarik ke atas sedikit.
"Gue juga nggak tau apa yang bikin gue suka dan cinta sama Al.Gue awalnya cuma bisa kagumin dia dari jauh.Karena gue nggak punya nyali segede sekarang,buat ngedeketin Al dulu.Tapi, setelah dia pindah ke komplek gue.Gue bertekad buat memperjuangin apa yang gue mau."
"Sekalipun hati lo yang jadi korbannya?"
Karan mengangguk pelan. "Gue kadang capek.Gue nggak bisa buat benci sama dia seperti dia benci ke gue."
"Ran, gue tau gimana rasanya jadi lo.Bukan cinta namanya kalau itu udah bikin lo sakit dan orang yang nyakitin lo, lebih milih nyembuhin luka orang lain."
Karan mencerna setiap apa yang Dean katakan.
"Lo boleh berjuang, kejar apa yang lo mau.Tapi, lo manusia lo punya limit.Berhenti kalau lo capek."
__ADS_1
Karan menatap sendu piring yang sudah kosong.Ternyata, serumit ini yang namanya cinta.Tidak sesederhana yang ia pikirkan dulu.Sesakit ini pula cinta, tak seindah yang ia ekspektasikan dulu.