Al Dan Karan

Al Dan Karan
57.Flashback


__ADS_3

"Gila ya, nggak nyangka gue secepat itu Dean sama Karan pacaran." Devon membuka suara


"Yee, yaudah sih.Dean cakep, pinter, tajir siapa sih yang nggak mau sama dia." sahut Reonal


"Gue!" serempak Farel dan Devon


"Capek ah punya temen bego." gumam Reonal


Farel mengeplak Reonal di sebelahnya. "Ngaca woi."


Seperti biasa, ketika temannya sibuk bercanda tawa Al justru diam.Berbicara seperlunya saja.


Tatapan Al kosong.Rasanya gelisah, marah, dan kecewa.Seoalah ada sesuatu yang hilang dari hidupnya.Perasaan seperti itu timbul sejak insiden tadi di sekolah.Tetapi, Al selalu mengelak kepada dirinya sendiri.Membohongi perasaanya sendiri, yang justru membuatnya makin tak karuan.


"Kayaknya ada yang galau nih." sindir Farel


Reonal dan Devon kompak menoleh ke arah Al yang melamun.


Dengan tak merasa bersalahnya Reonal mendorong tubuh Al dari samping.Sehingga cowok itu jatuh dari kursi yang di tempatinya.


Reonal tertawa terbahak-bahak, begitupula dengan kedua sahabatnya.


Al berdecak dan langsung berdiri. Kemudian beranjak pergi meninggalkan ruang tamu rumah Devon.


"Woi lo mau kemana?" teriak Devon ketika melihat Al berjalan menuju pintu depan rumahnya.


Al tetap berjalan,menulikan telinganya.


Merasa ada yang tak beres.Devon Farel dan Reonal berlari mengejar Al.


Reonal langsung menghentikan langkah Al. "Lo mau kemana?"


"Bukan urusan lo."


"Urusan kita karena lo temen gue."


Al menatap Reonal datar dan dingin.Sejujurnya Reonal takut ketika di tatap seperti itu oleh Al.


"Biarin gue sendiri." ucap Al pelan kemudian pergi meninggalkan rumah Devon bersama motornya.


"Buset, gue tremor njir." ringis Reonal.


Farel menoyor kepala Reonal dari belakang.Kali ini lebih kencang.


"Lo si ah, ngambek tuh dia."


"Tau nih," sahut Devon sebelum pergi mengikuti Farel dari belakang.Meninggalkan Reonal tengah mengelus kepalanya sendiri.


"Sabar cogan mah banyak heatersnya." Mengusap dadanya


Al melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.Pikiran dan moodnya sedang kacau.Ingin sekali dia memukuli siapapun yang mengganggunya.Beruntung, tadi dia masih bisa mengontrol emosinya.Kalau tidak, Reonal sahabatnya akan menjadi samsak dadakan saat itu juga.


Al mulai mengurangi kecepatan motor ketika sudah masuk kompleknya.Saat itu juga, ia sempat bertatapan dengan Karan yang baru keluar dari mobil Dean.Al bersikap acuh tak acuh, meskipun sebenarnya perasaan cemburu itu semakin menggebu gebu.


"Ekhem." Dean berdehem ketika mata Karan masih mengikuti perginya Al.


Karan langsung tersadar dan tersenyum kikuk ke arah pacarnya.


"Dilihatin terus, kangen ya?" goda Dean disertai nada sedikit tak suka.


"Apaan sih, enggak lah."


"Yaudah, kamu masuk gih.Udah malam juga."


Karan mengangguk dan menuruti apa yang dikatakan Dean.Sebelum membuks gerbang rumahnya.Karan tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Dean yang berada di dalam mobil dengan kaca yang sedikit terbuka.Dean tersenyum menanggapi.


"Hai ma," sapa Karan ketika melihat Mamanya duduk di depan ruang keluarga, menatap foto keluarga kecil mereka.


Mirna tersentak kaget.Tak menyadari kedatangan Karan.

__ADS_1


"Hai sayang.Darimana?" tanyanya


Karan duduk disebelah Mamanya.Memeluk Mamanya erat.


Mirna pun membalas pelukan Karan.


"Mama kangen ya sama Papa?"


Mirna hanya terdiam tak bersuara.


"Karan juga kangen sama Papa, kangen banget.Mama tahu nggak, disana Papa juga lagi kangen sama kita.Papa nggak suka, kalau ngelihat orang yang disayanginya sedih gara gara dia." nada suara Karan bergetar ketika mengatakannya.


Mirna tetap diam.Sebutir air matan perlahan turun membasahi pipinya.Rasanya begitu menyakitkan, ketika melihat anak perempuannya besar tanpa kasih sayang seorang Ayah.Betapa beruntungnya Mirna di anugerahkan seorang anak seperti Karan.Tanpa Karan, Mirna tidak akan sekuat ini dalam menjalani hidupnya.


'Mama akan buat kamu bahagia.' batin Mirna.


"Mama yang kuat ya.Mama masih punya Karan.Karan bakal selalu ada buat Mama."


Bugh


Bugh


Butiran keringat membasahi dahinya hingga badannya.


Al memukuli samsak dihadapannya bertubi tubi.Emosi yang ditahannya sedikit demi sedikit terluapkan.


"Arghh!" teriak Al memukul samsak untuk terakhir kalinya.


Al terdukuk dan mengatur nafasnya yang memburu.Apa yang ia lakukan ke Karan dulu seperti bumerang baginya.


"Kenapa kita harus saling kenal?" gumam Al, merebahkan tubuhnya.Menatap langit kosong karena mendung.Langit seperti dirinya di malam ini, kosong dan hampa.


Tanpa Al minta, memorinya secara otomatis berputar mengenai bagaimana pertama kalinya ia mengenal sosok Karan.


......…......


Mos SMA SENJAKARSA jatuh pada hari Senin.Lapangan sudah ramai oleh para murid baru kelas X terutama Al.Tak ada yang Al kenal, kecuali Farel yang memang sahabatnya dari SMP.


"Eh, Al cewek yang itu cantik ya," tunjuk Farel dengan dagunya.


Cewek yang ditunjuk Farel adalah Karan Jevina Berlino.Cewek itu sedang duduk sambil memainkan ponselnya di kursi lorong.


Tak bisa munafik, Karan memang cantik.Al mengakui hal itu.Tapi, Al lebih tertarik dengan cewek berkuncir kuda yang tengah berbicara dengan salah satu temannya.Ya, gadis itu Ralina.


"Terus,cewek yang itu cantik juga nggak?" giliran Al bertanya kepada Farel


Farel mengikuti arah pandang Al.


"Mm.. cantik, tapi cewek yang tadi lebih cantik."


"Deketin lah."


"Matamu, dia seleranya jelas bukan gue."


Suara mic dari arah lapangan seolah menghipnotis anak kelas X untuk segera berkumpul.Semuanya berlari heboh, terkecuali Al.Cowok itu berjalan santai.Mengabaikan sekitarnya.


"Woi lo sini!" teriak cowok dengan jas biru tuanya.


Al berjalan menghampiri cowok tersebut.Menatap cowok itu datar. Tak merasa bersalah dan takut.


"Lo tau kesalahan lo apa?"


Al mengedikan bahu.


"Cih, lo jadi junior jangan sok deh."


"Ya, kesalahan gue apa?" tanya Al dingin


"Lo nggak denger panggilan dari osis tadi?"

__ADS_1


"Kalau gue nggak denger gue nggak bakal disini."


"Wow, baru junior baru sok banget ya lo."


"Terus kenapa?" tantang Al, ia muak dengan cowok di depannya


"Ikut gue!" bentaknya


Bukannya takut, Al berjalan mengikutinya cowok itu dari belakang dengan santai.Cowok tadi, yang duduk dijabatan sebagai keamanan osis membawa Al ke depan barisan.Justru kesempatan seperti itu dibuat para siswi untuk memperhatikan wajah tampan Al.


Acara MOS hari pertama cukup berjalan dengan lancar.Besok adalah acara kedua sekaligus terakhir.Bisa dibilang Al kurang suka dengan acara seperti ini.Al tak suka ketika melihat orang superior dan senioritas disini.


Sebelum pulang Al mampir terlebih dahulu ke toilet.Karena panggilan alam.Setelah selesai dengan urusannya, Al hendak berjalan menuju parkiran.Namun ia urungkan ketika mendengar suara cewek berteriak minta tolong.Dengan nekat, Al berjalan mencari sumber suara tersebut.


Bermodal sumber suara teriakan dari cewek yang Al tak tahu dia siapa.Kini, ia sampai di sebuah ruangan belakang sekolah yang sepertinya jarang di jamah oleh para siswa bahkan guru.


Al semakin jelas mendengar suara teriakan seorang cewek dari dalam ruangan yang lusuh dan tua.Tak mau berbasa basi, Al langsung mendobrak pintu dengan sekali dobrakan.


Betapa terkejutnya mereka ketika melihat kedatangan Al.Sedangkan, cewek yang tadi disebut Farel cantik, duduk lemas tak berdaya. Salah satu dari tiga cowok yang berada di dalam ruangan langsung menghampiri Al


"Lo lagi, lo lagi.Mau lo apasih?" bentaknya


Al tersenyum miring. "Lepasin dia."


"Lo siapanya dia hah? sok banget kayak pahlawan kesiangan lo."


"Udah Rak, habisin aja." kompor temannya.


Cowok yang bernama Raka langsung melayangkan tinjunya ke Al.Beruntung, Al menghindarinys.Perkelahian semakin sengit, Al berkelahi seperti orang kesetanan.Saat Raka sudah hampir tak mampu melawan Al.Kini kedua temannya langsung mengeeroyok Al.Al yang belum siap dengan gampang di pukuli habis habisan.


Cewek berambut hitam berantakan yang tak lain adalah Karan berusaha untuk berdiri.Matanya sudah buram oleh air mata, tangannya bergetar hebat.Dengan sisa tenaga yang ia punya ia melarikan diri.Meninggalkan Al yang di keroyok.


Raka sadar, kalau Karan kabur.Dia tak mau diam saja.Dengan tubuh babak belur dia mengejar Karan.


Karan mengatur nafasnya sebentar.Ketika hendak melanjutkan langkahnya dari belakang tubuhnya di tarik oleh seseorang.Karan meronta-ronta, berusaha melepaskan diri.


"Lepasin!"


"Enggak."


"Tolong!!" Raka mendorong tubuh Karan sampai menabrak tembok dan mengunci pergerakan Karan.


Raka membelai wajah Karan penuh nafsu.Karan semakin takut ketika melihat Raka yang seperti itu.


"Mau lo apa!?"


"Mau gue?gue mau lo seutuhnya."


"Jangan harap." Karan langsung mendorong tubuh Raka untuk menjauh dari dirinya.


Saat Raka berhasil meraih kembali lengan Karan.Dengan lihai, Karan menendang alat vital Raka.Membuat sang pemilik kesakitan.Kesempatan itu Karan gunakan untuk berlari menuju ruang guru.


Dewi Fortuna sedang berpihak kepada Karan.Karan bertemu dengan Pak Dadang selaku security sekolah, Karan juga langsung mengadukan hal ini kepada para guru yang ada di dalam ruang guru.


Sebagiannya guru laki laki langsung mendatangi tempat yang dimaksud Karan.Ketika Karan menceritakan ada cowok yang di keroyok disana. Karan langsung ditenangkan oleh guru perempuan.


Tak butuh waktu lama, Al langsung dibawa ke UKS untuk di obati.Sedangkan Raka, Ibun, dan Reza berada di ruang BK bersama Karan sebagai korban.


"Ibu sanggat kecewa sama kamu Raka.Kamu udah menyalah gunakan jabatan.Untuk hal bejat."


Kepala sekolah pun langsung turun tangan saat itu.Ia datang dengan membawa map merah.


"Kamu tahu ini artinya apa?" tanya Pak Irawan selaku kepsek SMA SENJAKARSA


"Kasih kami kesempatan." mohon Raka


"Tidak ada kesempatan untuk pelaku pelecehan seksual seperti ini.Kalian masih muda, tapi udah berani ngelakuin hal bejat kayak gini."


"Karan, kamu boleh ikut Bu Wina, biarkan mereka saya dan Bu Gian yang urus." kata Pak Irawan.

__ADS_1


Karan mengganguk dan pergi bersama Bu Wina ke ruangannya.Karan diberi ketenangan dan dihibur Bu Wina.Karan mendapatkan perlakuan khusus.Karena trauma akan hal seperti ini bukanlah hal yang bisa disepelekan.


__ADS_2