
Pagi ini Al bersama ketiga temannya nampak terlihat duduk di koridor depan kelas Al.Sesekali mereka menggoda cewek cewek yang lewat didepan mereka,tentunya kecuali Al.Cowok itu lebih memilih acuh tak acuh.
"Ayang beb!" teriak Reonal kepada Aura yang hendak masuk kelas
"Dih apaan sih lo,gajelas!" Sinis Aura sebelum cewek itu memasuki kelas
"Yahaha emang enak nggak jelas," ejek Devon dan Farel bersamaan
"Sialan lo berdua." umpa
"Ekor kadal, lo suka Aura beneran?" tanya Farel
"Yee lo kira gue becanda apa,gue mah udah sayang, cinta, saranghae,love so much dah sama ayang Aura."
"Najis lebay lo!" Maki Farel
"Udah rel maklumin,emang gini contoh manusia kalau dari kecil nggak dikasih imunisasi."
"Gue jamin pasti si Karan kari ayam bakal kesini nyamperin Al." Ujar Reonal mengalihkan topik pembicaraan.
Al yang sedari tadi sibuk dengan gamenya.Begitu mendengar nama Karan disebutkan, cowok itu mendongak dan melihat gadis dengan cardigan lilac datang,senyum manisnya terukir disana tak ada kesedihan dan kekecewaan tersirat di wajahnya.Hanya saja matanya terlihat sedikit membengkak.
"Yee,iya kalau dia kesini kalau kaga?" sewot Farel.
__ADS_1
"Dua ratus ribu buat nyumpel mulut lo," jawab Reonal enteng.
"Nggak usah pake taruhan segala emang tu cewek mau kesini anjir,kayak nggak tau Karan aja lo." Devon ikut angkat suara
Dewi fortuna sepertinya sedang berada di pihak Farel.Bukannya berhenti menghampiri Al seperti biasanya,cewek itu lebih memilih masuk kelas tanpa berbicara panjang lebar seperti biasanya.
Farel menaikan sebelah alisnya, "See?"
"Anjrot itu beneran Karan?" Tanya Reonal tak percaya. "Lu apain Karan Al? lu jedotin jidatnya ke aspal apa gimane?" Rentetan pertanyaan keluar dari mulut Reonal secara heboh.
Perasaan bersalah kembali memenuhi hati Al. Apalagi dengan sikap Karan yang sepertinya akan benar benar menjauhinya membuat hati Al sedikit tak senang.Namun secepat mungkin Al membuang perasaan tak senang itu.Bukankah ini yang dia mau dari dulu, cewek itu menyerah untuk mendapatkan hatinya dan tidak menganggu hidupnya lagi seperti yang ia ucapkan semalam.
Reonal menyikut lengan Al, "Woi Al,lu ditanya malah ngelamun."
Bukannya menjawab,cowok itu malah bangkit dari duduknya dan memasuki kelas.Al terlalu malas untuk menceritakan atau mengingati-ingat hal yang terjadi kemarin malam.
Reonal hanya nyengir kuda, "Bulan tua nih rel, lo jadi temen pengertian dikit kek."
"Bodoamat,nggak peduli gue sini dua ratus ribu."
"Woi Von bantuin gue napa!"
"Lah kenapa jadi gue juga, kan lo yang ngejanjiin dodol." Setelah mengatakan itu Devon pun ikut beranjak dan memasuki kelasnya.Menyisahkan Farel yang tersenyum puas dan Reonal yang nampak enggan membuka dompetnya.
__ADS_1
••••
"Gimana kemarin lo jalannya seru?"
"Pasti lo banyak modusnya kan, ngaku lo!"
"Pulang jam berapa?ngapain aja lo?"
Belum juga duduk Karan sudah di beri ribuan pertanyaan oleh kedua sahabatnya.
"Gue nggak jadi jalan,puas lo?"
"What?"
"Iya gue nggak jadi jalan," jelas Karan lagi disertai senyum kecil di akhir ucapannya.
"Kenapa?Kenapa?Ada apa? " tanya Nana mulai kepo.
"Al sibuk naa,lagian kapan kapan kan juga bisa." bohong Karan.Karan tidak mau membuat kedua sahabatnya jadi ikut benci kepada Al karena perlakuan cowok itu kemarin kepadanya.
"Anjir,tau gitu gue nggak usah capek capek nemenin lo belanja ran," kesal Aura
Karan hanya tertawa menanggapi ucapan Aura.
__ADS_1
Saat tengah berbicara dan bercanda bersama kedua sahabatnya.Karan merasa seperti tengah di perhatikan oleh seseorang.Refleks Karan menoleh ke kanan dan mendapati Al yang juga tengah mentapnya dari jauh.Tatapan mereka bertemu sebentar sebelum akhirnya Al mengalihkan pandangannya kearah lain.
Hanya ditatap seperti itu oleh Al membuat tembok pertahanan Karan hampir saja mulai retak. "Sabar ran lo bisa,lo kuat,lo harus move on,yuk bisa yuk !" semangat Karan dalam hati pada dirinya sendiri