Al Dan Karan

Al Dan Karan
36.Tentang Karan


__ADS_3

Karan dan Al kini tengah berada di depan sebuah warung dekat makam.Al menyodorkan sebotol air minum, kepada gadis dengan mata yang memerah akibat menangis.


Karan menoleh dan menerima air tersebut. "Makasih"


Al hanya diam, begitupun dengan Karan.Hanya gemricik air hujan yang bernyanyi memecahkan keheningan.


Karan menggosok gosokan kedua tangannya.Hujan semakin deras,rasa dingin juga semakin menjalar ke tubuh Karan.


Al yang melihat itu segera mengambil alih kedua tangan Karan.Menghangatkannya.


Karan tertegun sejenak, melihat apa yang dilakukan cowok dingin itu.Tak bisa dipungkiri, ada perasaan bahagia di hatinya.


"Apa gue harus kaya gini dulu, biar lo terus ada di dekat gue?" tanya Karan dalam hati.


"Masih dingin?" tanya Al


Karan menggelang pelan.


Alih alih melepaskan tangan Karan.Al malah menarik tangan Karan dan menggenggamnya.Sedangkan Karan hanya diam memperhatikan.


"Makasih ya." Kata Karan.


Al menoleh, menatap Karan. "Buat?"


"Semuanya..Maaf, gue udah nyusahin lo.Gara gara gue juga, lo jadi kehujanan kayak gini."


"Iya lo emang nyusahin." Jawab Al tanpa beban.


Karan mendelik kesal dan menarik tangannya dari genggaman Al.Namun nihil, karena Al menariknya kembali.


Al terkekeh. "Bercanda, baper banget lo."

__ADS_1


Karan membuang muka, kesal. "Nyebelin banget lo."


"Gue nyebelin, tapi bisa bikin lo suka gue."


Karan memasang wajah antara kesal dan malu.Al tersenyum tipis melihat raut wajah Karan.


"Dulu, sekarang beda." Ujar Karan


Al menaikan sebelah alisnya. "Yakin cuma dulu?"


Karan terlihat salting saat Al mendekatkan wajah kearahnya.


"Ih apasi." Sinis Karan


Al tertawa pelan melihat tingkah Karan yang tengah salting.


Karan terdiam memperhatikan wajah Al yang tengah tertawa.Jantung Karan dibuat berdegup dengan tawa tersebut.


Karan semakin salah tingkah dibuatnya.Hatinya pun semakin berdebar hebat.Kalau dia bisa meminta pada waktu.Karan akan meminta, agar waktu berhenti untuk hari ini.Agar dia bisa berdua dengan Al.


"Kenapa tadi lo bisa ada disini juga?" tanya Karan berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Nenek gue juga di makamin disini."


Karan ber oh ria sebagai jawaban.


"Lo sering kesini?"


Karan mengangguk.Matanya menatap sendu kedepan. "Kalau lagi kangen sama bokap, gue kesini."


Al menatap Karan dari samping.Dibalik sisi Karan yang periang, bandel dan urak urakan.Ternyata ada luka dibaliknya.

__ADS_1


...…...


Al menghampiri Mamanya yang sedang menonton tv.Cowok itu kemudian memilih duduk disamping Mamanya.


"Ma." Panggil Al


Lelita menoleh. "Kenapa Al?"


"Papa Karan meninggal karena apa?" tanya Al to the point.


Ucapan Al membuat Lelita yang berniat mengambil remote tv segera terhenti.


"Kamu kok tau?"


"Iya, tadi Al ketemu Karan di makam."


Lelita mengecilkan volume tv dan menatap kearah anak semata wayang disampingnya.


Lelita menghela nafas panjang. "Papa Karan sudah meninggal sejak Karan duduk di kelas 4 SD."


Al menatap Mamanya.Meminta penjelasan lagi.


"Iya,dia meninggal karena kecelakaan saat akan menjemput Karan di sekolah.Padahal, hari itu hari ulang tahun Karan dan Papanya sudah mempersiapkan kejutan, serta pesta kecil-kecilan untuk dia."


"Karan yang sekarang, sanggat berbeda dengan Karan yang dulu.Untuk sampai di titik ini, banyak yang harus Karan korbankan.Dia tidak seberuntung anak anak lain."


Al mengangguk.Tatapannya berubah menjadi sendu.Ingin sekali dia memeluk gadis itu sekarang juga.Disaat anak anak lain mendapat kado terindah dari Papanya.Karan berbeda, dia malah mendapat kado mengenaskan dari semesta.


"Dia juga pernah depresi karena hal ini.Tapi syukur, sekarang dia sudah bisa menerima semuanya." Tutur Lelita lagi.


"Makasih Ma." Al beranjak dari duduknya

__ADS_1


__ADS_2