
Seperti perjanjiannya yang telah disepakati bersama. Al dan Karan sekarang berada sebuah taman hiburan. Beruntung saja, Karan tak jadi menggunakan pakaian formal yang ia pilih semalam.
"Terus kita mau ngapain disini?" tanya Karan begitu mereka masuk kedalam.
"Menurut lo?"
Karan mendegus kesal, "kebiasaan banget sih lo, tiap kali ditanya orang malah nanya balik."
"Hm, hafe fun aja."
"Kenapa nggak sama temen lo aja, ngapain sama gue segala."
Al mendekatkan wajahnya ke arah Karan Tersenyum miring.Karan refleks memundurkan wajahnya. "Lo mau tau?"
Karan diam membisu, Jarak mereka begitu dekat, membuat Karan menahan nafasnya.
"Karena...sekarang bahagia gue adalah lo."
Rasanya ingin berteriak sekencang kencangnya. Apa yang Al katakan seperti melodi indah berjalan merdu di telinga. Perkataan Al berakibat pipi Karan berubah menjadi tomat rebus.
"Apaansi lo." Karan mendorong tubuh Al menjauh darinya.
Gadis itu memilih berjalan terlebih dahulu, meninggalkan Al untuk menetralkan perasaan salah tingkahnya.Sebaris senyum kecil tersirat diam diam di bibir Al.
"Naik kora kora yuk!" ajak Karan antusias begitu melihat kora kora dihadapannya.
"Lo aja." jawab Al tak tertarik
"Sama lo," rengkek Karan
"Gak."
Karan memiringkan kepalanya dan memicingkan matanya, "Jangan jangan lo takut naik kora kora?"
Al mendelik kesal mendengar pernyataan Karan yang sebenarnya memang benar.
"Sok tau lo, yaudah ayo." pasrah Al, meskipun sekarang jantungnya tengah berlari kesana kemari. Dari dulu Al selalu takut dengan wahana yang bernama kora kora ini.
Begitu mereka sudah duduk di atas wahana tersebut. Karan tak sengaja menyentuh tangan Al yang mendadak menjadi dingin.
"Lo kenapa?"
"Apanya?" tanya Al pura pura tak mengerti
"Tangan lo dingin banget. Lo takut?"
Pertanyaan tersebut tak mendapatkan jawaban. Karena kora kora yang mereka naiki mulai menggoyangkan para pengunjung. Al memejamkan matanya, bibirnya terus melafalkan doa. Berharap ia bisa pulang dengan selamat.
Karan tersenyum jahil melihat Al yang ketakutan disampingnya.
"Lo kalau takut bilang dong. Ini mah belum apa apa."
"Bacot," judes Al
__ADS_1
Sebelum kora kora ini menambah kecepatannya, Karan mengambil tangan Al dan menggenggamnya. Al tak menepis, justru ia juga menyenderkan kepalanya di pundak Karan. Dengan harapan rasa takutnya bisa mereda.
Setelah menaiki beberapa wahana mereka duduk di bangku kosong sambil meminum minuman yang baru Al beli.
Karan menyengol Al yang tengah minum, membuat sedikit dari isi gelas tersebut tumpah. Alih alih meminta maaf, Karan malah nyengir tak berdosa.
"Gue nggak nyangka, seorang Al ternyata takut naik kora kora."
Al menatap Karan disampingnya dengan malas. "Gak usah dibahas."
"Anji** serem, kapan turunnya sih," Karan memperagakan Al yang ketakutan saat berada di kora kora.
"Ga lucu."
"Lah emang gue ngelawak? gue kan cuma ngikutin gaya lo tadi," bela Karan. "Al...Al... es batu kutub yang takut kora kora." lanjut Karan
"Diem."
"Terus tadi tuh ya, lo-"
Al mendekatkan wajahnya tepat didepan wajah Karan.Sehingga Karan bisa merasakan embusan nafas Al menerpa wajahnya.
"Diem atau gue cium." pungkas Al.
Setelah menikmati berbagai wahana. Rumah hantu adalah wahana terakhir yang sempat menjadi bahan perdebatan antara Al dan Karan.
"Aaaaa...."
Karan menutup matanya, menyderkan kepalanya di dada bidang Al ketika ada sosok hantu yang berusaha menakut nakuti para pengunjung.
"Bodoamat, lo ngapain sih ngajak gue kesini. Gue takut anjir, emang kalau nanti gue nggak bisa tidur lo mau tanggung jawab?" omel Karan panjang lebar.
"Mau."
Singkat, padat, rip hati Karan.
...…...
RUMPI ROMBONGAN UMI UMI PINGGIRAN
Nana: sepi amat kek grub mati
Nana: punten, Nana cantik in here
******Aura******: bct
****Karan****: 2
Nana: Nah para setan setan baru keluar
Aura: gimanaa ran ngedatenya tadi?
Nana: ditembak ga nichhh
__ADS_1
Aura: apaansi Lo
Nana: lo yang apaan
Karan: siapa yang ngedate anjir, biasa aja.
Karan: ditembakkan mati ego.
Nana:susah ngomong sma IQ rendah
Karan: susah ngomong sma org yg otaknya ilang setengah
Aura: #TEAMKARAN
Nana: AURA LO TEMEN GUA APA KARAN SIH ANJIR, KOK NGEBELA DIA.
Karan terkekeh sendiri melihat tingkah para sahabatnya. Malam ini jam menunjukkan pukul 12 . Karan duduk di depan pagar rumahnya, membiarkan angin menerpa wajahnya dan menenangkan hatinya yang terus berdebar kala mengingat tingkah manis Al tadi.
"Lo beneran nggak bisa tidur?"
Karan membuka matanya kaget, ketika seseorang yang ia pikirkan ternyata sudah ada disampingnya.
"Belum ngantuk."
"Belum ngantuk atau takut?" pancing Al
"Nggak usah sok tau deh."
Hening, tak ada yang bersuara lagi. Suara jangkrik malam mendominasi keheningan. Angin angin menerpa keduanya, pohon rindang kompleks menjadi saksi bisu. Bahwa ada getaran di dada masing masing, serta ada perasaan yang tak bisa diungkapkan. Dekat, tapi seolah seperti ada jarak yang begitu luas.
"Ran," panggil Al
Karan menoleh dengan rambut yang menutupi sebagian wajahnya akibat ulah angin.
Al menyelipkan rambut Karan kebelakang telinga. Jantung Karan kembali berpacu cepat, perutnya juga seolah seperti terisi oleh ribuan kupu kupu yang berterbangan.
Malam memang waktu yang tepat untuk membicarakan perihal hati. Sunyi, tenang hanya detak jantung masing masing yang terdengar.
Mata Karan dan Al bertemu cukup lama. Karan menunggu apa yang hendak di bicarakan oleh Al. Al menimbang nimbang apakah ini waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya.
"Ran, kalau boleh jujur, gue cinta sama lo."
Karan mengerenyitkan dahinya. Perasaannya sekarang bercampur aduk antara terkejut, bahagia sekaligus tak suka. Tak bisa didefinisikan, sebuah perasaan yang begitu aneh.
Pikiran Karan kembali berputar, bagaimana Al membuangnya seperti sampah. Sekarang cowok itu kembali untuk memungut sampah yang sudah dibuangnya.
Disisi lain, inilah yang Karan harapkan dari dulu. Sekalipun Karan mengatakan kalau dirinya sudah melupakan Al. Nyatanya itu tidak benar, ada sedikit ruang untuk Al dihatinya.
"I don't need your answer. Gue cuma pengin lo tahu perasaan gue." ujar Al mengerti
Karan menelisik mata Al, tak ada kebohongan disana. Tatapannya begitu meneduhkan dan tulus.
"Lo jahat Al," gumam Karan
__ADS_1
"Gue emang jahat, brengsek udah nyia-nyiain orang kayak lo. Lo boleh benci gue, karena gue pantas ngedapetin itu."
Air mata Karan mengalir begitu saja membasahi pipinya. Rasa sakit itu masih membekas, masih terasa bagaimana perihnya. Dan sekarang penyebab luka itu datang untuk mengobati luka yang hampir kering.