
Kalian bisa menyebut Karan dengan sebutan gadis bodoh atau apapun itu.Rasa cintanya kepada Al membuat dia membutakan matanya serta menulikan telinganya.
Langit sudah gelap bintang bintang tak bermunculan karena mendung.Hanya bulan seorang diri terdiam disana.
Sudah 30 menit Karan duduk terdiam di depan pintu gerbang rumah Al.Tak ada niatan sekalipun untuk mengetuk gerbang rumah cowok itu.Karena dia tahu Al tidak dirumah,mobilnya tak ada.Tapi tetap saja gadis itu menunggu dengan pakaian yang basah kuyub akibat hujan tadi.
Mobil sport warna merah tampak dari kejauhan,segera Karan berdiri dan tersenyum riang.Al yang berada di balik mobil mengernyit dan mengesah panjang sebelum akhirnya cowok itu keluar menemui Karan.Al sudah siap kalau nanti Karan akan mencacinya atau bahkan menamparnya dia pantas mendapatkan itu.
"Ke-" belum selesai Al berbicara Karan langsung menangkup pipi Al.Bukan kebencian yang tersirat di mata Karan namun kekhawatiran yang amat mendalam.
"Al lo baik baik aja? lo nggak kenapa napa? "
Bagaimana bisa gadis ini menghawatirkan keadaan Al, padahal kini kondisinya sendiri yang sanggat memprihatinkan.
Karan memeluk Al "Gue khawatir sama lo."
Dengan tak berdosa Al mendorong tubuh Karan menjauh dari dirinya.Membuat gadis itu mundur berberpa langkah.
"Berhenti suka gue!" tajam Al
Karan berusaha menegakkan tubuhnya "Gue nggak bisa,karena gue percaya nanti lo pasti bisa suka sama gue.Es yang beku aja lama kelamaan bisa cair sama halnya seperti lo."Terang Karan tanpa keraguan sedikitpun
"Gue nggak akan dan nggak pernah suka lo! Asal lo tahu,gue selama ini cuma kasian sama lo bukan cinta sama lo dan sayang gue nggak akan pernah jadi Es yang lo maksut itu." Al menatap mata Karan yang sudah berkaca kaca "Perlu lo inget hal ini,gue nggak akan pernah suka sama lo sampai kapan pun!"
__ADS_1
Hatinya seperti di tusuk sanggat dalam menimbulkan luka segar disana.Matanya sudah blur oleh air mata yang ingin terjun bebas.
"Ke-kenapa?" tanya Karan disela isak tangisnya
"Karena gue suka dan sayang Ralina,lo tahu kehadiran lo itu sebagai pengganggu ran!"
Al mengucapkannya dengan mudah seolah tak peduli bagaimana hati Karan saat ini.Air mata Karan pecah malam ini juga dihadapan laki laki yang ia cintai.
"Serta cara lo buat deketin gue itu murahan !"
Tubuh Karan bergetar hebat,hatinya sudah benar benar di hancurkan berkeping keping oleh laki laki yang dia perjuangkan.Bahkan untuk mengucapkan sepatah katapun rasanya sanggat sulit.
Setelah mengucapkan itu Al masuk ke mobilnya dan membuka pintu gerbang untuk dirinya sendiri tanpa memperdulikan Karan yang menanggis penuh luka akibatnya.
••••
"Sial!" Al mengumpat pelan ini sudah ketiga kalinya dia bermain game PUBG tapi selalu saja kalah.Niatnya bermain game untuk mengalihkan pikirannya dari gadis yang dia perlakukan buruk tadi.Namun nyatanya yang ada Al semakin kepikiran akan kejadian beberapa jam lalu.
Cowok itu bangkit dari duduknya lalu membuka pintu kamar balkon.Matanya menatap rumah yang tak jauh dari rumahnya dengan pandangan yang susah diartikan.Ada rasa penyesalan dihati Al,entah mengapa dia bisa lepas kendali seperti tadi.
'Karan, lo sedang apa?' tanya Al dalam hati
Al mengepalkan tangannya kuat,dia ingin marah tapi tidak tahu harus marah kepada siapa.
__ADS_1
••••
Ditempat yang berbeda gadis dengan piyama pink nampak sanggat menyedihkan diatas kasur.Rambutnya berantakan,matanya sembab,serta hatinya yang sudah tak baik baik saja.
Air matanya tak kunjung berhenti.Luka kemarin belum benar benar sembuh,tapi kini sudah ditambah luka baru lagi yang lebih lebar.
Sejauh apapun Karan berusaha untuk mencairkan hati Al,Karan tidak akan berhasil.Sekeras apapun dia berusaha hati Al hanya untuk Ralina bukan dirinya.Karan hanya penggangu dimata Al.
"Kalau jatuh cinta bisa milih,gue nggak akan milih lo." kata Karan disela sela isak tanggisnya
"Gue yang berjuang gue juga yang terbuang."
"Benar ya, harusnya gue mendam perasaan gue aja,harusnya gue bunuh perasaan gue dan harusnya gue nggak pernah hadir di hidup lo, karena gue penggangu!"
Setelah mengatakan itu tangisnya kembali pecah.Hatinya sakit seolah ada pisau tak kasat mata yang menancap disana,menghancurkan hatinya secara perlahan tanpa ampun.Hanya menyisahkan rasa sakit yang tak mampu di ungkapkan dengan kata dan suara.
Malam ini,harusnya Karan pulang dengan perasaan bahagia.Tapi semesta selalu punya rahasia dibalik rencana manusia.
------
pipp
Haii vote,like,favorit dan comment untuk part selanjutnya yaa makasih juga yang udah setia jadi pembaca Al dan Karan :)
__ADS_1